oleh

Jangan Jadi “Kuli” di Negeri Sendiri (Oleh : H. M. Radhan Algindo Nur Alam)


–Ketua MPC Pemuda Pancasila Kab. Konawe Selatan

KENDARINEWS.COM–“Secara empiris peradaban dunia yang maju banyak ditopang oleh sumber daya manusia berkualitas. Jepang, Korea Selatan, Amerika Serikat dan lain-lain sudah menjadi bukti. Hal itu sudah cukup memberikan ilham dan pembelajaran bagi kita semua untuk secara serius memikirkan pengembangan sumber daya manusia di seluruh wilayah Indonesia” – H. Nur Alam

Sambutan itu disampaikan ayah saya saat masih menjabat Gubernur Sulawesi Tenggara (Sultra) ketika menghadiri prosesi wisuda Universitas Islam Sultan Agung (Unissula), Semarang, Jawa Tengah, 29 Oktober 2011. Saya masih ingat dan mungkin juga bagi warga Sultra yang pernah menikmati program 1.000 beasiswa belajar putra-putri Sultra yang menempuh pendidikan di Unissula, tentang urgensi pernyataan ayah saya di atas.

Visi ayah saya ini tentu “related” dengan kondisi yang terjadi sekarang ini. Ketika ranah pendidikan kalangan muda diabaikan dalam setiap kebijakan kepala daerah maka jangan harap ada kemajuan dan kesejahteraan di daerah tersebut.

Kata Pak Nur Alam, untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Sultra maka kebijakan berani seperti “Bahteramas” atau Bangun Kesejahteraan Masyarakat harus terus digencarkan. Program Bahteramas yang mencakup bebas biaya pendidikan 12 tahun, jauh mendahului program serupa di era pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Program Bahteramas juga menyasar perawatan kesehatan gratis tanpa bayar hingga perawatan di rumah sakit kelas III. Pendidikan yang maju untuk mendidik generasi-generasi penerus harus mendapat dukungan dari program kesehatan yang mumpuni. Ketika era Kartu Indonesia Sehat belum ada, di Sultra sudah ada program serupa.

Selama tiga tahun berturut turut, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sultra di zaman Gubernur Nur Alam menjalin kerja sama pendidikan dengan Unissula dengan program Cerdas Sultraku. Program ini memberi 1.000 beasiswa belajar bagi putra putri Sultra menempuh kuliah di Unissula. Lebih mendahului dari program Kartu Indonesia Pintar di zaman Presiden Jokowi.

Saya akhirnya paham dan mengerti, apa yang dikerjakan ayah saya selama ini, tidak lain dan tidak bukan ingin menjadikan rakyat Sultra menjadi “tuan rumah” di negerinya sendiri. Proklamator kita, Bung Karno pernah berkata,” Jangan sampai kita menjadi kuli atau jongos di negeri sendiri” tampaknya diserap dengan baik oleh seorang Nur Alam.

Kini kita bisa menyaksikan ribuan tenaga kerja asing (TKA) “membanjiri” sektor-sektor pertambangan di Sultra. Data Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Sultra per-Desember 2021 mencatat masih ada sekira 3.200 TKA bekerja di seluruh Sultra, yang diantaranya didominasi pekerja asal Tiongkok (Vo.id, 03 Februari 2022).

Andaikan saja Sultra memiliki 1.000 sarjana teknik pertambangan, mungkin kekayaan tambang di Sultra bisa dikelola oleh anak bangsa sendiri. Andaikan saja Sultra mempunyai 1.000 sarjana yang memiliki pandangan visioner ke depan, mungkin Sultra akan menjadi penghela kemajuan tanah air.

Sultra kini dan sekarang akan menjadi “andalan” Indonesia dan dunia karena menjadi titik tumpu pengembangan kendaraan listrik. Hasil alam suatu saat akan habis dan pengembangan intelektual di Bumi Anoa tetap tidak boleh berhenti.

Sultra harus bersiap jika suatu saat kekayaan alam semakin menipis dan habis maka bergantilah inovasi dan kreativitas karya anak bangsa yang menjadi value added di masa depan. Kuncinya adalah ilmu pengetahuan dan berani bersaing di era global.

Menurut saya “nasionalisme zaman now” itu adalah cinta budaya daerahnya sendiri, bangga dengan negerinya dan tidak tinggal diam ketika lapangan kerja direbut bangsa asing. Kalau bahasa ayah saya agar kita semua lebih bangga terhadap budayanya sendiri dengan menggali potensi bangsanya. Tidak justru bangga memakai produk dan kebudayaan asing karena bangsa yang maju seperti Jepang, Amerika Serikat, Korea Selatan begitu sangat bangga terhadap budaya dan produk yang mereka ciptakan sendiri.

Selamat HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia. Kemerdekaan bukanlah suatu pertanda untuk berhenti berjuang. Akan tetapi sebagai tonggak agar berjuang lebih keras. Selamat Hari Merdeka, Indonesiaku! (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan