Kery Kirim Sapi Kurban Presiden ke Butur

KENDARINEWS.COM — Program prioritas yang dikembangkan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Konawe pada sektor peternakan, mulai memerlihatkan hasil. Melalui metode kawin suntik atau inseminasi buatan (IB) yang digalakkan, sapi ternak di Konawe kini memiliki bobot besar. Presiden RI, Joko Widodo bahkan melirik sapi Konawe untuk disembelih saat Idul Adha 1443 H mendatang. Presiden membeli sapi Konawe berbobot 1 ton milik peternak asal Kelurahan Arombu, Kecamatan Unaaha. Sapi jenis limosin seharga Rp 110 juta itu, rencananya dikurbankan Presiden bagi warga Sulawesi Tenggara (Sultra) yang ada di Kabupaten Buton Utara (Butur).

Bupati Konawe, Kery Saiful Konggoasa, secara simbolis melepas keberangkatan sapi kurban Presiden tersebut untuk dikirim ke Butur, Rabu (6/7). Kery mengaku senang, ternak asal Konawe dipilih RI-1 untuk menjadi hewan kurban bagi masyarakat Sultra. Bupati Konawe dua periode itu menyebut, hal tersebut mengindikasikan bahwa sektor peternakan di otoritanya tidak perlu diragukan lagi. “Sapi ini akan kita kirim ke Buton Utara (Butur). Saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Presiden sudah membeli sapi dari Konawe untuk kurban di Sultra,” ujar Kery Saiful Konggoasa, didampingi Sekretaris Kabupaten (Sekab), Ferdinand Sapan, kemarin.

Seremonial pelepasan sapi kurban milik Presiden RI, Joko Widodo menuju kabupaten Butur, yang dilakukan Bupati Konawe, Kery Saiful Konggoasa didampingi Sekab, Ferdinand Sapan, kemarin.

Mantan Ketua DPRD Konawe itu menuturkan, sapi kurban milik Jokowi dipastikan bebas dari gejala penyakit mulut dan kuku (PMK). Sebelum dibeli oleh Presiden, sapi jenis Limosin tersebut sudah melewati tahap seleksi ketat dari ribuan sapi di Konawe. Termasuk, pemeriksaan rutin oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnakeswan) Konawe sebelum sapi itu dinyatakan aman sebagai hewan kurban. “Terkait kesehatan sapi, semua sudah lengkap. Sampel darah sapi ini sudah diperiksa di laboratorium, di Maros. Insya Allah aman dari virus PMK,” yakin Kery.

Ia menargetkan, Pemkab Konawe tahun ini bisa menghasilkan 9.000 anakan sapi lewat metode IB. Selain urusan pertumbuhan ekonomi, persoalan produksi peternakan terutama sapi dan kambing, juga tak kalah penting. Apalagi menurutnya, permintaan pasokan daging tak bisa lepas dari tingginya kebutuhan manusia. “Terutama juga yang kita hadapi sekarang ini, yaitu bertambahnya jumlah warga luar yang masuk di Sultra. Kebutuhan makanan itu harus kita tingkatkan, terutama daging. Orang-orang sekarang banyak yang makan daging. Di Brazil itu, satu orang mengonsumsi daging 30 kg dalam sebulan. Di Eropa, orang sudah tidak makan nasi. Tapi, makan steak daging,” beber politikus PAN Sultra itu.

Sementara itu, Kepala Disnakeswan Konawe, Jumrin, menjelaskan sapi dengan bobot besar di wilayahnya, ada dua jenis. Yakni Limosin dan Simental. Sapi kurban dari Presiden yang dikirim ke Butur, merupakan sapi unggul jenis Limosin. “Sapi kurban Presiden ini, kita pilih yang terbesar bobotnya. Itu sapi hasil metode IB yang dilakukan oleh peternak di Arombu,” ungkapnya. Jumrin menyebut, sebenarnya masih banyak sapi di Konawe yang memiliki bobot besar. Namun tentunya, bobot sapi yang besar itu sebanding dengan harga jualnya di tingkat peternak. “Di Wonggeduku, banyak sapi yang besar-besar. Hanya harganya susah kita jangkau. Berkisar Rp 80 juta sampai Rp 90 juta per ekor. Bibitnya saja harganya mencapai Rp 25 jutaan,” tandasnya. (adi)

Tinggalkan Balasan