Bencana Karhutla dan Urgensi Konservasi Ex-Situ Tumbuhan

Faisal Danu Tuheteru
(Dosen Jurusan Kehutanan dan Kepala UPA Kebun Ilmu Hayati Universitas Halu Oleo)

Ancaman kemarau berkepanjangan dan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) kembali menjadi momok nyata bagi Indonesia. Berdasarkan data resmi dari situs resmi pemerintah, jumlah areal karhutla di Indonesia periode Januari – Juli 2026 adalah 202.004,30 ha mengalami peningkatan sebesar 47% (64.996,88 ha) dibandingkan tahun 2019 dan 80% (109.080,25 ha) dibandingkan tahun 2023. Jika dibandingkan tahun 2025, luas areal karhutla tahun 2026 naik sebesar 69% (82.791,04 ha). Asap tebal, penurunan kualitas udara, serta kerugian ekonomi kerap menjadi sorotan utama setiap kali karhutla melanda. Namun, di balik krisis atmosferik yang kasatmata tersebut, terdapat tragedi sunyi yang dampaknya jauh lebih destruktif dan berjangka panjang yakni penurunan biodiversitas flora dan fauna secara masif. Ketika vegetasi hutan terbakar, kita tidak hanya kehilangan kayu atau tutupan lahan semata. Kita sedang kehilangan plasma nutfah, spesies tumbuhan langka, hingga vegetasi endemik yang mungkin belum sempat teridentifikasi oleh ilmu pengetahuan.

Kebakaran hutan menghancurkan struktur strata canopy, memusnahkan benih alami (soil seed bank), dan merusak mikrohabitat tempat berbagai tumbuhan endemik bergantung. Ketika ekosistem asli (in-situ) runtuh akibat tekanan iklim ekstrem dan api, dapatkah kita hanya berserah pada kemampuan alam untuk memulihkan dirinya sendiri?
Secara konvensional, pelestarian keanekaragaman hayati selalu mengandalkan konservasi in-situ yakni menjaga jenis di habitat alaminya seperti pada kawasan konservasi (taman nasional dan cagar alam). Pada tahun 20226, karhutla juga terjadi TN Rawa Aopa Watumohai (Sultra), TN Tanjung Putting (Kalteng), TN Bromo Tengger Semeru (Jatim) dll. Strategi ini memegang peran sentral. Namun, di tengah eskalasi pemanasan global dan intensitas kemarau yang makin tak menentu, mengandalkan konservasi in-situ saja tidak cukup. Saat Karhutla menerjang kawasan konservasi seperti terjadi tahun 2026 ini, ribuan hektar vegetasi alami dapat musnah hanya dalam hitungan hari. jenis tumbuhan lokal yang memiliki populasi terbatas atau berstatus terancam punah (threatened species) berisiko mengalami kepunahan lokal secara seketika. Di sinilah konservasi ex-situ (penyelamatan spesies di luar habitat alaminya) menemukan momentum dan signifikansi strategisnya.
Konservasi ex-situ tumbuhan, khususnya melalui pilar Kebun Raya, bukan sekadar ruang terbuka hijau atau destinasi wisata edukasi. Lebih dari itu, Kebun Raya adalah benteng pertahanan terakhir sekaligus “polis asuransi” bagi keberlanjutan flora Nusantara. Pendekatan ex situ semakin penting dan strategis, manakala degradasi di habitat alami makin brutal dan tidak terkendali [Hendrian, 2026]. Melalui kegiatan eksplorasi dan domestikasi tumbuhan terancam dari habitat alami yang rawan bencana, kebun raya bertindak sebagai bahtera penyelamat. Di dalam kebun raya, setiap spesimen tumbuhan didokumentasikan secara ilmiah, dipelajari sifat biologisnya, diperbanyak, dan dirawat dalam lingkungan yang terawasi secara ketat dari ancaman kebakaran lahan. Bila suatu saat habitat asli (in-situ) hancur total akibat Karhutla, material genetik yang tersimpan aman di kebun raya dapat difungsikan kembali melalui program reintroduksi dan restorasi ekosistem. Tanpa adanya koleksi ex-situ yang terkelola dengan baik, upaya restorasi lahan bekas terbakar di masa depan berisiko kehilangan keaslian struktur vegetasi lokalnya dan cenderung didominasi oleh spesies invasif.

Sebagai bagian dari akademisi dan pengelola Kebun Raya Universitas Halu Oleo (UHO), kami menyadari sepenuhnya bahwa perguruan tinggi memiliki peran krusial dalam rantai penyelamatan ini. Kebun raya kampus tidak hanya berfungsi sebagai laboratorium hidup bagi mahasiswa dan peneliti, tetapi juga sebagai garda depan penyelamat flora spesifik bentang alam kawasan Wallacea dan Sulawesi. Gagasan mengenai konservasi ex-situ ini perlu terus didorong menjadi kebijakan strategis daerah maupun nasional. Integrasi antara riset, aksi penyelamatan flora rawan kebakaran, dan pengelolaan kebun raya harus diperkuat. Penyelamatan keanekaragaman hayati tidak boleh lagi dipandang sebagai isu sampingan dalam penanganan bencana Karhutla, melainkan bagian integral dari adaptasi dan mitigasi perubahan iklim.
Karhutla dan kemarau berkepanjangan adalah pengingat keras bahwa alam sedang berada di titik kritis. Kita tidak boleh menunggu hingga jenis tumbuhan lokal dan endemik kita menjadi fosil. Konservasi ex-situ melalui Kebun Raya adalah langkah nyata, rasional, dan jitu untuk memastikan bahwa di tengah gumpalan asap dan kobaran api Karhutla, denyut kehidupan flora Indonesia tetap terjaga untuk generasi masa depan.

Tinggalkan Balasan