KENDARINEWS.COM — Dua hari pasca banjir bandang dan tanah longsor yang menerjang Kabupaten Aceh Tengah pada 26–28 November 2025, dapur umum milik Dinas Sosial Aceh Tengah resmi beroperasi untuk mendukung kebutuhan pangan para petugas posko dan warga terdampak. Dapur umum ini menjadi tumpuan utama penyediaan makanan di tengah terbatasnya pasokan bahan pangan di pasar.
Sekretaris Dinas Sosial Aceh Tengah, Hardi Selisimara, mengatakan bahwa layanan dapur umum difokuskan untuk memenuhi kebutuhan makan personel Posko Penanggulangan Bencana, warga dari kampung terpencil, serta masyarakat luar daerah yang sempat terjebak dan menginap di Posko Tagana.
“Petugas kita ada 20 hingga 25 orang, bekerja sistem shift, menyiapkan makanan untuk tiga kali makan,” ujar Hardi, dikutip dari Kompas.com. Para juru masak berasal dari Taruna Siaga Bencana (Tagana), yang sudah terbiasa bertugas dalam kondisi darurat.
Hardi mengungkapkan bahwa suplai bahan pangan sangat terbatas karena pasar lokal mengalami kekosongan stok. Ketersediaan ikan, ayam, dan telur tidak menentu sehingga menu sering kali bergantung pada bahan yang ditemukan di pasar atau yang dikirim dari posko induk.
“Kadang ada ikan kalau kebetulan stok tersedia, kadang tidak. Kita harus menyesuaikan dengan apa yang ada,” katanya, dikutip dar Kompas.com.
Kondisi dapur darurat juga cukup menantang. Dengan keterbatasan listrik dan menipisnya stok gas elpiji, para petugas akhirnya beralih menggunakan kompor berbahan bakar solar yang disiapkan tim posko induk.
Juru masak mulai bekerja sejak pukul 04.00 WIB untuk menyiapkan sarapan, dilanjutkan makan siang pada pukul 09.00 WIB, dan makan sore pada pukul 16.00 WIB. Sebagian besar petugas menginap di Posko Tagana untuk mempercepat koordinasi.
Di tengah keterbatasan listrik yang hampir melanda seluruh wilayah, Kantor Diskominfo Aceh Tengah menjadi salah satu lokasi yang masih bisa menyediakan jaringan internet dan suplai listrik berkat penggunaan layanan Starlink. Lokasi ini pun dipadati warga dan jurnalis yang membutuhkan akses digital untuk berkomunikasi maupun bekerja.
Romadani, jurnalis Tribun Gayo, mengatakan bahwa ia dan pewarta lain juga mendapatkan jatah makanan sederhana dari dapur umum. Pada Rabu (3/12/2025), menu makan siang berupa nasi bungkus dengan kol rebus.
“Alhamdulillah masih bisa makan, apalagi kondisi darurat. Banyak warga lain yang belum tersentuh bantuan makanan,” ujarnya, dikutip dari Kompas.com.
Namun, ia mengakui sulit bergerak ke lapangan karena keterbatasan BBM dan transportasi. “Kendaraan tanpa BBM tidak memungkinkan untuk turun jauh ke lapangan,” katanya., dikutip dari Kompas.com.
Menurutnya, mayoritas masyarakat Aceh Tengah belum menikmati listrik sejak bencana melanda. Bahkan di rumahnya sendiri, istrinya terpaksa memasak menggunakan kayu bakar.
Romadani berharap pemerintah dapat segera menyelesaikan berbagai kendala pascabencana, terutama pasokan listrik, logistik, dan transportasi, agar aktivitas warga bisa kembali normal.
Sehari sebelum menyantap nasi bungkus berisi kol, jurnalis dan petugas posko mendapat menu nasi dengan mie instan. Sesekali mereka juga menerima lauk seperti buncis, ikan lele, atau ikan mujahir—menunjukkan betapa fleksibel dan terbatasnya pilihan bahan makanan dalam kondisi darurat ini.
Dapur umum dan posko terpadu di Aceh Tengah masih terus beroperasi hingga kondisi pulih dan akses logistik kembali normal.










































