Optimisme Ekonomi 2026 Menguat

KENDARINEWS.COM — Prospek perekonomian nasional pada tahun 2026 diproyeksikan semakin cerah seiring menguatnya berbagai indikator strategis, terutama dari sisi konsumsi dan investasi. Kedua indikator tersebut dinilai menunjukkan bahwa daya beli masyarakat dan aktivitas usaha terus bergerak naik, memberikan sinyal positif terhadap arah pertumbuhan ekonomi ke depan.

Optimisme tersebut disampaikan Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto di hadapan Presiden Prabowo Subianto dalam Pertemuan Tahunan Bank Indonesia (PTBI) yang digelar di Kantor Bank Indonesia, Minggu (30/11/2025).

Airlangga memaparkan bahwa indikator konsumsi masyarakat kian menunjukkan perbaikan. Mengacu pada Mandiri Spending Index, tingkat konsumsi berada pada angka 312 pada November 2025.

“Menurut Mandiri Spending Index, indeksnya di angka 312 di bulan November. Ini basis angkanya di threshold 300,” ungkap Airlangga.

Angka tersebut menandakan aktivitas konsumsi sudah berada di atas batas pemulihan yang ditetapkan, sehingga menjadi salah satu motor peningkatan pertumbuhan ekonomi menuju 2026.

Mantan Ketua Umum DPP Golkar itu juga menyampaikan bahwa realisasi investasi pada Januari–September 2025 mencapai Rp1.434 triliun, tumbuh 13,7 persen secara tahunan. Ia menegaskan bahwa kontribusi investasi akan semakin terasa untuk mempercepat akselerasi ekonomi pada tahun mendatang.

“Selanjutnya percepatan realisasi belanja pemerintah per 24 November Rp1.109 triliun dan program prioritas Presiden Rp213 triliun,” imbuhnya.

Belanja pemerintah yang terus dipercepat diharapkan menjadi katalis tambahan untuk menjaga momentum pertumbuhan di sisa tahun 2025 dan menjelang 2026.

Dari aspek moneter, Bank Indonesia telah memangkas suku bunga acuan sebesar 125 basis poin sepanjang 2025 sehingga BI rate kini berada pada level 4,75 persen. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan kredit serta meningkatkan belanja sektor usaha.

Sementara itu, inflasi nasional pada Oktober 2025 tercatat 2,86 persen (yoy), masih dalam kisaran sasaran nasional. Kondisi tersebut menjadi bukti konsistensi kebijakan moneter BI yang ditopang oleh insentif fiskal dari pemerintah.

Airlangga menjelaskan bahwa sebagian besar risiko ekonomi yang muncul pada tahun berjalan telah diserap pasar. Hal ini membuat ruang bagi percepatan ekonomi 2026 semakin besar.

“Dengan indikator-indikator tersebut, hampir seluruh risiko pertumbuhan di tahun 2026 sudah dikelola dan diserap tahun ini. Jadi Pak Presiden, risiko yang akan muncul seluruhnya sudah price-in, masuk di dalam tingkat suku bunga dan harga-harga termasuk rupiah di tahun ini,” terangnya.

Dengan asumsi dasar pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen sesuai APBN, Airlangga optimistis bahwa ekonomi 2026 berpotensi tumbuh melebihi ekspektasi.

“Untuk tahun 2026 kita lihat upside risk, Pak Presiden. Dengan baseline di 5,4 persen sesuai APBN. Jadi kita berharap dan optimis tahun depan akan lebih baik dari tahun ini,” ujarnya.

Menanggapi paparan tersebut, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa meskipun kondisi global menghadapi banyak dinamika mulai dari perang dagang hingga ketegangan geopolitik perekonomian Indonesia tetap kokoh.

“Jadi, di tengah ini semua, kondisi perekonomian kita yang tadi dipresentasikan Menteri Koordinator Ekonomi dan Gubernur BI, saya kira cukup memberi suatu rasa optimisme bagi kita sekalian,” ungkap Presiden.

Dengan berbagai indikator yang terus membaik dan risiko yang semakin terkendali, pemerintah berharap momentum pemulihan ekonomi yang berlangsung sepanjang 2025 dapat berlanjut dan menguat pada tahun 2026.

Tinggalkan Balasan