Harga Minyak Hanya Berlaku Untuk Ritel Modern

KENDARINEWS.COM — Pemerintah menetapkan kebijakan satu harga minyak goreng setara Rp 14.000 per liter. Pada tahap awal kebijakan satu harga ini berlaku di ritel modern, sementara untuk pasar tradisional belum berlaku.

Kepala Bidang Perdagangan Dalam Negeri, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sultra, Laode Muhammad Fitrah Arsyad mengatakan, kebijakan pemerintah untuk satu harga minyak goreng sudah diterapkan diseluruh ritel modern yang ada di kota Kendari. Bahkan untuk surat edarannya sudah diteruskan di 17 kabupaten/kota se Sultra..

“Saat ini, di tahap awal kebijakan subsidi hanya berlaku untuk ritel modern. Tapi, diluar dari itu, subsidi ini belum berlaku, seperti dipasar, harga masih tetap sama seperti sebelumnya. Sebab disini yang berlaku masih mekanisme pasar”kata Laode Muhammad Fitrah Arsyad, Jumat (21/1).

Dalam kebijakan pemerintah ini, ia mengimbau masyarakat untuk tidak perlu panic buyying atau membeli secara berlebihan karena pemerintah sudah menjamin bahan pasokan minyak goreng.

“Subsidi mulai berlaku sejak 19 Januari untuk seluruh ritel, seperti hypermart, indomaret, indogrosir dan beberapa pasar ritel lainya. Dimana stok masih akan aman hingga lima sampai enam bulan kedepan. Bahkan untuk menjamin pasokan, kita bakal terus melakukan inspeksi guna menghindari hal-hal yang tak diinginkan”ujarnya.

Sementara itu Manager Area Hypermart, Deni Anggoleta mengatakan, saat ini untuk minyak goreng di hypermart mengikuti program pemerintah yakni Rp14 ribu perliter dan Rp28 ribu per dua liter. Dengan adanya subsidi minyak goreng dari pemerintah euforia masyarakat membeli minyak goreng meningkat pesat.

“Bahkan dihari pertama kebijakan ini keluar, penjualan kita sampe 1700 picis. Menurut saya dalam program ini, masyarakat jangan panic buyying juga. Lagi pula kita akan mengikuti program pemerintah, kalau tidak salah subsidi minyak ini sampai 6 bulan kedepan. Jadi sebaiknya tak perlu sampai berebut minyak goreng, “kata Deni.

Dia menjelaskan, untuk stok di gudang hypermart masih cukup banyak, tetapi untuk setiap display akan diatur agar stok tetap bisa tersedia sampai barang (minyak goreng) datang.

” Saat ini stok kita masih ada sekitar 80 karton. Jadi kami bagi setiap waktu displaynya agar stok bisa tersedia dan semua masyarakat kebagian sampai barang datang lagi, “ujarnya.

Lagipula, untuk minyak goreng saat ini pihak hypermart juga sedang mengupayakan stok. Karenakan kondisinya begitu di lounching program pemerintah, permintaanya cukup tinggi. “Tapi sekali lagi masyarakat tak perlu khawatir, karena kita terus mengupayakan untuk ketersediaan barangnya. Untuk suplay dari suplayer maupun suplay dari kita, diupayakan selalu ada. Kalau pun stok mulai menipis kita akan ambil dari beberapa cabang-cabang kita juga, “terangnya.

Dalam kebijakan ini, kata dia, ada aturan-aturanya, dimana masyarakat tak boleh membeli lebih dari satu minyak goreng perharinya. ” Artinya ini ada pembatasan juga untuk menghindari adanya spekulan-spekulan yang masuk untuk membeli banyak dan menimbun minyak goreng untuk kemudian dijual kembali. Makanya supaya merata, kita minimal satu costumer membeli satu minyak goreng perhari, “tukasnya.

Sementara itu, pedagang sembako Pasar Baruga, Djawa mengatakan untuk harga minyak goreng di pasar sampai saat ini masih relatif tinggi. Meskipun ada kebijakan pemerintah tapi untuk penjualan di pasar masih tetap sama seperti sebelumnya.

Kondisi display minyak goreng di hypermart, Jumat (21/1).

“Penjualanya masih cukup tinggi dikisaran angka Rp21 sampai Rp22 ribu perliter. Sementara untuk yang dua liter kita jual dengan harga Rp43 ribu an, ” kata Djawa.

Lagipula, ia tentu tak ingin ambil konsekuensi dengan menurunkan harga minyak goreng yang dia jual. Mereka juga pusing dengan regulasi yang ada. Kalau memang ada subsidi pemerintah harusnya bisa merata. “Kami beli minyak ini sebelum harga turun, harga belinya juga memang mahal saat itu. Tidak mungkin kita mau jual murah, kita nanti rugi. Tapi kalau kita beli dengan harga murah kedepan pasti kita juga akan jual murah. Tapikan sekarang belum, “ujarnya.

Selain itu, salah satu pedagang di pasar Basah Mandonga, Juriah mengaku sama sekali belum menurunkan harga minyak goreng yang dia jual. “Katanya ada subsidi minyak goreng, tapi kita tidak terima itu, jadi harga masih tetap tinggi. Kita namanya pedagang menjual untuk mecari keuntungan. Kalau kita langsung menurunkan harga begitu saja otomatis kita rugi. Kalau kita di pasar harga masih di kisaran Rp21 ribu perliter, “ucapnya.

Dia melanjutkan, kalau memang mau menurunkan harga, harusnya di pasar tradisional dulu penerapannya. Mereka harus lihat dulu stok minyak para pedangang, apakah masih banyak atau seperti apa. Kasian yang sudah menyetok banyak. Kalau kebijakan setengah-setengah otomatis dagangan yang ia pasarkan juga tak akan laku.

” Kita juga pasti rugi bila orang-orang tidak membeli dagangan kami. Semua pembeli lari ke supermarket atau minimarket. Terus stok pedagang di sini bagaimana? Tidak mungkin kan kami pakai semuanya sendiri,”ucapnya. (rah)

Tinggalkan Balasan