Operasi Polisi di Rio de Janeiro Picu Ratusan Korban Jiwa

KENDARINEWS.COM — Ratusan mayat bergelimpangan di sebuah ruas jalan di kota Rio de Janeiro, Brasil, setelah polisi melakukan penggerebekan besar-besaran terhadap geng narkoba terkuat, Comando Vermelho, pada Rabu malam. Jalanan kini dipenuhi warga yang menunggu untuk mengambil jasad keluarga mereka.

Polisi negara bagian Rio de Janeiro mengatakan penggerebekan ini telah direncanakan lebih dari dua bulan, dengan strategi memancing para tersangka ke lereng bukit berhutan tempat unit operasi khusus bersiap melakukan penyergapan.

“Tingginya tingkat kematian dari operasi ini memang sudah diperkirakan tetapi tidak diinginkan,” ujar Victor Santos, kepala keamanan negara bagian Rio de Janeiro, dalam konferensi pers, dikutip dari Sindonews.com.

Sejauh ini, polisi mengonfirmasi 119 korban tewas, termasuk empat petugas polisi. Namun, Kantor Pembela Umum badan negara yang menyediakan bantuan hukum bagi masyarakat miskin menyebut jumlah korban meningkat menjadi setidaknya 132 orang.

Santos menegaskan bahwa kekerasan ini tidak ada hubungannya dengan acara global yang akan digelar Rio de Janeiro minggu depan, termasuk pertemuan COP30 PBB dan Penghargaan Earthshot Pangeran William.

Warga di lingkungan Penha mengumpulkan puluhan jenazah dari hutan di sekitarnya semalaman dan menata lebih dari 70 jasad di jalan utama. “Saya hanya ingin membawa putra saya keluar dari sini dan menguburkannya,” kata Taua Brito, ibu salah satu korban, dikelilingi pelayat yang menangis di kedua sisi barisan jenazah.

Sejumlah warga juga melakukan aksi protes dengan mengendarai sepeda motor menuju istana gubernur, melambai-lambaikan bendera Brasil berwarna telapak tangan merah untuk mengecam kekerasan polisi.

Operasi ini menjadi penggerebekan polisi paling mematikan di Rio de Janeiro sejak penggerebekan Jacarezinho pada 2021 yang menewaskan 28 orang. Sebelumnya, operasi polisi di Lembaga Pemasyarakatan Carandiru pada 1992 menewaskan 111 tahanan.

Para pejabat PBB dan pakar keamanan mengecam tingginya korban jiwa. Kantor Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa menyebut pembunuhan ini sebagai bagian dari tren operasi polisi mematikan di komunitas miskin Brasil. “Kami mengingatkan pihak berwenang akan kewajiban mereka berdasarkan hukum hak asasi manusia internasional, dan mendesak penyelidikan yang cepat dan efektif,” bunyi pernyataan kantor tersebut.

Keluarga korban melaporkan tanda-tanda eksekusi singkat, termasuk anggota tubuh yang diikat, luka tusuk, dan tembakan di wajah serta leher. “Beberapa keluarga melaporkan tanda-tanda penyiksaan pada jenazah para korban,” kata Guilherme Pimentel, pengacara hak asasi manusia yang membantu keluarga korban.

Gubernur Rio de Janeiro, Claudio Castro, menyatakan bahwa para korban adalah penjahat yang menembakkan senjata api dari hutan. “Korban sebenarnya hanyalah petugas polisi,” ujarnya, menyebut operasi sebagai upaya memerangi “narkoterorisme”.

Pemerintah negara bagian Rio mengatakan operasi ini adalah yang terbesar untuk menarget geng Comando Vermelho, yang mengendalikan perdagangan narkoba di beberapa favela. Polisi berhasil menangkap 113 tersangka dan menyita 118 senjata api.

Presiden Luiz Inácio Lula da Silva menyatakan keterkejutannya atas operasi yang “sangat berdarah dan penuh kekerasan” ini, karena dilakukan tanpa koordinasi dengan pemerintah federal, kata Menteri Kehakiman Ricardo Lewandowski. Lewandowski menambahkan akan bertemu gubernur Rio de Janeiro dan mempertimbangkan penambahan petugas keamanan federal.

Presiden Lula yang kembali ke Brasilia Selasa malam setelah kunjungan ke Malaysia, telah bertemu Wakil Presiden Geraldo Alckmin dan anggota kabinet untuk membahas krisis ini. (*)

Tinggalkan Balasan