KENDARINEWS.COM-Gubernur Sultra, Mayjen TNI (Purn) Andi Sumangerukka komitmen menjadi pelopor pembangunan ekonomi biru di kawasan timur Indonesia.
Hal ini disampaikannya melalui sambutan tertulis yang dibacakan Sekretaris Daerah (Sekda) Sultra, Drs. H. Asrun Lio, M.Hum., Ph.D., pada pembukaan Seminar Nasional bertema “Indonesia Emas 2045: Transformasi Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dalam Mendorong Ekonomi Biru”.
“Sultra sebagai provinsi kepulauan, memiliki kekayaan sumber daya bahari luar biasa. Dengan garis pantai panjang, perairan produktif, dan kawasan konservasi laut seluas lebih dari 2 juta hektare. Potensi ini menjadikan Sultra strategis dalam pembangunan nasional berbasis laut,” ungkap Gubernur Andi Sumangerukka dalam keterangan tertulisnya, Kamis (23/10/2025).
Sejalan dengan itu, lanjutnya, Pemerintah Provinsi Sultra telah menetapkan arah pembangunan ekonomi biru dalam dokumen Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) 2025–2029. Serta diperkuat melalui penyusunan Rencana Induk Ekonomi Biru 2025–2045.
“Dokumen ini mengintegrasikan pilar sosial, ekonomi, dan lingkungan dengan tujuan menjadikan laut bukan hanya sebagai sumber daya, tetapi sebagai sumber kesejahteraan yang berkelanjutan,” jelasnya.
Sebagai bentuk komitmen nyata, Pemerintah Provinsi Sultra telah meluncurkan Peraturan Gubernur tentang Road Map Blue Economy, yang menjadi tonggak penting dalam pengarusutamaan ekonomi biru di seluruh kebijakan pembangunan daerah.
“Kami ingin menjadikan Sultra sebagai laboratorium ekonomi biru Indonesia, yang tidak hanya mengandalkan eksploitasi sumber daya alam, tetapi juga mendorong inovasi, riset, dan kolaborasi lintas sektor dalam pengelolaan kelautan berkeadilan dan berkelanjutan,” terangnya.
“Peran pendidikan tinggi, sains, dan teknologi sangat strategis dalam mendorong transformasi ekonomi biru,” tambahnya.
Mantan Pangdam Hasanuddin berharap, Universitas Halu Oleo (UHO), dapat mengambil peran sebagai center of excellence dalam pengembangan riset, inovasi, dan kebijakan berbasis ilmu pengetahuan di bidang kelautan, perikanan, dan pariwisata bahari.
“Untuk mencapai tujuan besar ini, dibutuhkan sinergi kuat antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat sipil,” tegasnya.
Dia juga menekankan pentingnya pemanfaatan teknologi digital dalam pengelolaan sektor kelautan dan perikanan. Penerapan artificial intelligence (AI), big data, dan konsep smart fisheries akan membuka peluang efisiensi produksi, pengelolaan data kelautan yang lebih akurat, dan pengawasan sumber daya laut yang transparan.
“Integrasi teknologi dan ilmu pengetahuan, yang tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal, akan memperkuat posisi Sultra sebagai pelopor inovasi ekonomi biru di kawasan timur Indonesia,” imbuhnya. (ris/ing)

































