Stop Teriak ke Anak! Ini 8 Cara Menegur Anak Tanpa Merusak Psikologinya

KENDARINEWS.COM–Setiap orangtua pasti pernah merasa frustrasi saat menghadapi tingkah laku anak yang menguji kesabaran. Namun, cara menegur anak yang salah justru dapat meninggalkan dampak buruk bagi perkembangan emosional dan mentalnya.

Psikolog Nidya Dwika Puteri, M.Psi dari Mitra Keluarga Kemayoran mengungkapkan pentingnya pendekatan yang tepat saat menegur anak. “Anak-anak adalah peniru yang hebat. Saat orangtua marah dengan teriakan atau kata kasar, anak cenderung meniru perilaku tersebut dalam situasi serupa,” jelasnya.

Kesalahan Umum Orangtua Saat Menegur Anak

Tanpa disadari, banyak orangtua melakukan kesalahan umum saat memarahi anak, di antaranya:

  • Berteriak atau melabeli anak dengan kata-kata negatif
  • Menyamakan disiplin dengan hukuman
  • Tidak konsisten dalam menerapkan aturan
  • Memberi ceramah panjang lebar tanpa makna jelas
  • Fokus pada kesalahan tanpa penjelasan atau solusi
  • Tidak memberikan contoh nyata dari ucapan sendiri
  • Menerapkan teknik yang sama untuk semua anak
  • Gagal menetapkan konsekuensi jelas
  • Tidak mendengarkan alasan di balik perilaku anak

Cara Menegur Anak dengan Tepat Menurut Psikolog

Agar proses menegur tidak meninggalkan trauma atau luka batin, berikut adalah delapan panduan penting bagi orangtua yang dilansir dari mitrakeluarga:

  1. Hindari Tindakan Kasar atau Verbal Abuse
    Kata-kata menyakitkan sama bahayanya dengan kekerasan fisik. Anak yang sering dimarahi kasar rentan mengalami gangguan emosi, harga diri rendah, dan kesulitan dalam bersosialisasi.
  2. Bedakan Disiplin dan Hukuman
    Disiplin bertujuan membimbing, bukan menghukum. Anak perlu memahami batasan dan konsekuensi, bukan ditakut-takuti agar patuh.
  3. Buat Aturan yang Masuk Akal
    Terlalu banyak aturan justru mengekang eksplorasi anak. Libatkan anak dalam penyusunan aturan agar ia merasa dihargai dan lebih mudah mematuhinya.
  4. Jadilah Role Model Positif
    Anak belajar dari contoh, bukan perintah. Jika ingin anak bersikap jujur, sabar, atau sopan, orangtua harus menunjukkan sikap tersebut terlebih dahulu.
  5. Hindari Label Negatif dan Menghakimi
    Kata seperti “nakal” atau “bandel” hanya menanamkan citra buruk pada diri anak. Fokuslah pada perilaku, bukan pribadi anak.
  6. Konsisten dalam Menerapkan Aturan
    Inkonsistensi membuat anak bingung. Terapkan standar dan konsekuensi yang sama agar anak paham apa yang diharapkan.
  7. Jangan Gunakan Ancaman
    Kalimat seperti “kalau kamu nakal, Ibu tinggalin ya!” hanya membuat anak cemas dan tidak aman secara emosional. Gantilah ancaman dengan penjelasan logis.
  8. Minimalkan Kata “Jangan” atau “Tidak”
    Gunakan kalimat positif dan ajarkan apa yang bisa dilakukan, bukan hanya melarang. Contohnya, ganti “jangan lari-lari” dengan “ayo jalan pelan-pelan, ya”.

Solusi Jika Butuh Bantuan Profesional

Jika orangtua merasa kesulitan mengendalikan emosi atau butuh pendampingan lebih dalam menghadapi tantangan pengasuhan, konsultasi dengan psikolog bisa menjadi solusi. Melalui Mitra Keluarga, janji temu bisa dilakukan secara online tanpa antre.

Dengan memahami dan menerapkan pola komunikasi yang sehat, orangtua dapat menjadi pembimbing yang penuh kasih, bukan sekadar pengendali perilaku. Anak-anak membutuhkan ketegasan yang disampaikan dengan cinta, bukan ketakutan.(*)

Tinggalkan Balasan