oleh

Mega Proyek Bendungan Pelosika Ancam Tenggelamkan 12 Desa

KENDARINEWS.COM–Mega proyek pembangunan Bendungan Pelosika memang masih dalam tahapan sosialisasi pengadaan tanah, pengerjaan konstruksinya pun baru akan dimulai pada 2023 mendatang.

Namun Bendungan Pelosika yang melintasi dua kabupaten, yakni Konawe dan Kolaka Timur (Koltim) dan bakal menghabiskan sekira Rp 4,5 triliun itu diproyeksi membuat 12 desa di Konawe menjadi “tenggelam” atau hilang.

Sekretaris Kabupaten (Sekab) Konawe, Ferdinand Sapan, mengatakan, desain pembangunan Bendungan Pelosika melintasi dua kecamatan yang ada di Konawe. Yakni, Kecamatan Asinua dan Latoma.

Katanya, lahan yang diperlukan untuk membangun bendungan itu mencapai sekira 5.900 hektare. 12 desa yang terancam hilang di Asinua dan Latoma, merupakan wilayah yang masuk kawasan genangan proyek strategis nasional (PSN).

“Genangan Bendungan Pelosika berada di dua kabupaten, lima kecamatan dan 24 desa. 12 desa di Konawe menjadi wilayah genangan itu. Otomatis, desa-desa tersebut akan hilang secara geografis,” ujar Ferdinand Sapan, Rabu (3/8).

Ia menuturkan, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Konawe bersama pihak BWS Sulawesi IV Kendari saat ini sedang menyosialisasikan hal-hal terkait rencana pembebasan lahan bagi warga Asinua dan Latoma.

Termasuk mencari solusi terkait tempat tinggal bagi warga setempat yang desanya digunakan untuk pembangunan Bendungan Pelosika.

Pemkab pun masih mendata seluruh aset negara yang terdampak pembangunan bendungan, mulai dari aset desa, kabupaten, provinsi hingga nasional.

“Problemnya sangat kompleks. Ini bukan persoalan ganti rugi semata, namun ada masalah sosial juga di sana. Kita carikan solusi karena desa tersebut pasti tenggelam. Tapi bukan kita hapus desanya. Sebab, menghapus desa, berarti akan menghilangkan kode wilayah. Itu menjadi domain dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri),” tandasnya. (KN)

Komentar

Tinggalkan Balasan