oleh

Kery Tingkatkan Kualitas Hidup Warga Konawe


KENDARINEWS.COM — Indeks Pembangunan Manusia (IPM) merupakan metode pengukuran capaian pembangunan. Sebagai ukuran kualitas hidup, IPM dibangun melalui pendekatan tiga dimensi dasar. Yakni, dimensi kesehatan, pendidikan, dan kehidupan yang layak. Bupati Konawe Kery Saiful Konggoasa terbilang berhasil meningkatkan kualitas hidup masyarakatnya.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), dari tiga dimensi itu, Bupati Kery sukses menaikkan IPM Konawe pada tahun 2021 diangka 71,48 persen. Tren itu menunjukkan kenaikan 0,13 persen jika dibanding IPM Konawe tahun 2020 sebesar 71,35 persen.

Secara nasional, Bupati Konawe Kery Saiful Konggoasa mengantarkan IPM Konawe berada pada posisi 180 dari 514 kabupaten/kota se-Indonesia. Untuk lingkup Sultra, IPM Konawe ada di urutan keempat dibawah Kota Kendari (84,15 persen), Kota Bau-bau (76,26 persen), dan Kolaka (73,56 persen).

“Dengan kenaikan 0,13 persen itu, secara peringkat kita masih lebih baik dibandingkan 13 daerah lain di Sultra. Ini juga menjadi bukti bahwa pembangunan yang kami lakukan di Konawe bukan hanya mengejar urusan infrastruktur,” ujar Bupati Kery, Kamis (30/6), kemarin.

Bupati Konawe dua periode itu menuturkan, pencapaian IPM Konawe yang meningkat itu, merupakan hasil kerja kolektif bawahannya di Pemerintah Kabupaten (pemkab) Konawe. Termasuk, sinergi yang terbangun dengan lintas stakeholder. Tanpa terkecuali, dukungan segenap masyarakat Konawe yang berkontribusi menyukseskan visi misi Konawe Gemilang.

“Harmonisasi antara lembaga pemerintah dan masyarakat adalah kunci sukses kita dalam mewujudkan pembangunan. Saya berterimakasih kepada semua pihak di Konawe yang telah bersama-sama berperan dalam pembangunan di daerah ini,” imbuh Bupati Kery.

Sementara itu, Sekretaris Kabupaten (Sekab) Konawe Ferdinand Sapan mengemukakan, IPM Konawe dari tahun ke tahun terus menunjukkan grafik menggembirakan. Dengan posisi saat ini, Ferdinand Sapan menekankan supaya setiap indikator IPM di Konawe harus tetap dijaga.

Ia pun mengaku berbangga dengan kinerja aparatur Pemkab Konawe yang membuat IPM berada di urutan keempat se-Sultra. “Wajar jika IPM Kota Kendari berada di posisi teratas karena memang tipologi kota seperti itu. Banyak faktor penunjang lain yang tidak dimiliki oleh daerah lain,” kelakarnya.

Sekda Ferdinand menerangkan, ada tiga dimensi yang menentukan tinggi rendahnya grafik IPM di suatu daerah. Strategi penguatan pada dimensi kesehatan, pendidikan, serta kehidupan yang layak (dimensi ekonomi) di Konawe, terus dilakukan pemkab Konawe. Apalagi menurut Ferdinand, kebijakan yang dititikberatkan pada ketiga dimensi itu tentunya dapat menstimulus peningkatan IPM di Konawe secara umum.

“IPM kita bisa saja turun kalau sektor pendidikan dan kesehatan tidak mempertahankan posisinya dengan baik. Kalau IPM turun, itu artinya menunjukkan indikator kinerja pemerintahan yang buruk,” tutur Sekda Ferdinand.

Mantan Kepala BPKAD Konawe itu menjelaskan, dalam dimensi kesehatan, Pemkab Konawe telah melakukan banyak langkah konkret. Diantaranya, peningkatan kualitas pelayanan di Badan Layanan Umum Daerah Rumah Sakit (BLUD RS) Konawe, serta peningkatan akreditasi pada semua Puskesmas se-Konawe. Hal itupun dibarengi pula dengan pelayanan prima yang diberikan oleh tenaga kesehatan (nakes).

“Pemkab Konawe ingin memberikan kemudahan akses terhadap fasilitas kesehatan. Biaya berobat juga sebisa mungkin terjangkau bagi semua elemen masyarakat,” ucap Sekda Ferdinand.

Sekda Ferdinand menambahkan, dimensi pendidikan di Konawe juga terus digenjot. Salah satunya, lewat program pendidikan gratis bagi Aparatur Sipil Negara (ASN) serta masyarakat yang punya keinginan melanjutkan kuliah di Universitas Halu Oleo (UHO) Kendari.

Selain itu, Pemkab Konawe setiap tahun memberikan bantuan biaya kuliah bagi generasi muda Konawe yang menempuh studi di Universitas Lakidende (Unilaki). Apalagi menurut Sekda Ferdinand, keberadaan perguruan tinggi di Konawe harus terus didukung. Jika di suatu wilayah itu kampusnya terakreditasi dengan baik, maka IPM daerah itu juga pasti naik.

“Selain dua aspek itu, IPM di Konawe juga dipengaruhi standar hidup layak. Ini sudah berbicara dimensi ekonomi dan juga banyak faktor penilaiannya. Misalnya, perumahan yang layak huni dan sanitasi yang baik. Ini harus diperhatikan oleh Dinas PUPR Konawe. Kebutuhan petani juga harus diperhatikan supaya produksi tidak anjlok. Apalagi, saat ini ada sebagian petani yang beralih dari tanaman padi ke palawija,” tandas Sekda Ferdinand. (adi)

Komentar

Tinggalkan Balasan