Berterima Kasihlah Pada Dinas Kebersihan, Oleh : Prof.Hanna

KENDARINEW.COM — Sampah, sampah, sampah…nama sampah membawa kita kepada sesuatu yang berhubungan dengan rasa tidak sedap, membuat beberapa orang tidak simpati untuk melihatnya terlebih menyetuhnya. Tetapi ada beberapa masyarakat yang hidup dari sampah, ketakutan dilain pihak karena sampah memiliki dampak buruk bagi kehidupan manusia.

Sampah dapat dikelompokkan tiga jenis. Ada organik, anorganik, serta bahan berbahaya dan beracun. Pada sampah yang menumpuk dan membusuk, terdapat banyak penyakit dari bakteri dan virus seperti diare, tifus, dan penyakit lainnya. Wali Kota Kendari H. Sulkarnain Kadir mengatakan, sampah dan pengelolaannya merupakan masalah klasik di Indonesia, semakin besar jumlah penduduk maka semakin besar juga pengelolaan sampah yang akan dihadapi
Tidak bisa dipungkiri bahwa permasalahan mengenai sampah merupakan hal yang sangat membutuhkan perhatian serius dari berbagai pihak dan warga sekitar, karena sampah masih menjadi persoalan yang mendapati kegagalan dalam hal penanganannya sehingga tidak segan-segan Wali Kota Kendari sangat serius dengan kondisi sampah.

Salah satu hal yang sangat signifikan karena beberapa tahun terakhir ini banjir di Kota Kendari mengalami penurunan yang sangat signifikan karena kerja keras dinas kebersihan pun sangat signifikan. Hal ini kita perlu apresiasi paradigma yang terbagun oleh masyarakat Kota Kendari adalah dampak yang pasti terjadi dalam masyarakat jika penanggulangan sampah tidak ditangani dengan baik akan berimbas pada menurunnya kualitas kehidupan, keindahan lingkungan, potensi terjadi banjir akan lebih besar karena tidak menutup kemungkinan sampah area tersebut akan menghalangi arus air sehingga terjadi bencana alam seperti banjir dan menurunnya kualitas kesehatan warga masyarakat yang tinggal di sekitar area polusi sampah.

Jika hal ini terus berlangsung dalam jangka panjang maka dapat mempengaruhi arus investor daerah, daya jual dan daya tarik daerah tersebut akan menurun drastis. Tidak bisa dipungkiri bahwa pembuangan sampah di daerah polusi sampah dilakukan dengan ditumpuknya dipinggir jalan seperti yang terlihat di depan kampus menuju ke perumahan Kendari Permai, tentu saja pemadangan itu sangat tidak etis karena terjadi di depan kampus atau di jalan umum, walaupun tim gerak pembersihan sampah mengambil secara rutin, tetapi kesadaran masyarakat di area kampus sangat dekat dengan pemukiman warga.

Bahkan di sana banyak terdapat rumah makan kecil-kecilan bagi warga yang ingin mempertahankan hidupnya. Tidak terbayang bagaimana virus-virus dan bibit-bibit penyakitnya sudah menyebar menginfeksi warga yang kurang sadar akan pentingnya kebersihan lingkungan. Masalah pengangkutan sampah memang sudah terjadwal, tetapi yang perlu dibangun oleh masyarakat dekat kampus itulah yang arus peduli terhadap kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Perlu dipahami bahwa lingkungan kotor serta polusi sampah bisa membawa dampak buruk baik itu terhadap manusia maupun terhadap lingkungan. Dampak buruk lingkungan kotor serta polusi sampah terhadap lingkungan sendiri meliputi banyak hal dan salah satunya adalah pencemaran air dapat terjadi ketika sampah dibuang ke sungai dan bukannya ke tempat sampah dan ini sering terjadi di wilayah-wilayah yang tidak dapat dijangkau oleh tim pembersihan sampah.

Selain mencemari air sungai, pembuangan limbah atau sampah juga dapat menghambat proses air tanah dan tentu saja ini merupakan sebuah kabar buruk mengingat air tanah sangatlah penting bagi manusia. Hal ini disebabkan karena dengan adanya sampah yang menumpuk tanpa di buang ketempat yang selayaknya, binatang pembawa penyakit seperti lalat akan menjadi semakin banyak dan tentu saja, itu bukan satu-satunya dampak buruk lingkungan kotor serta polusi terhadap manusia. Karena tidak menutup kemungkinan bahwa masyarakat di daerah itulah yang membuang dan menumpuk sampah begitu saja.

Pembuangan sampah yang dilakukan menyebabkan pencemaran terhadap air, karena pembuangan sampah akan mengakibatkan terhambatnya proses air tanah. Apalagi jika ada sampah -sampah plastik yang tidak bisa diuraikan oleh tanah, akan mengakibatkan menumpuknya sampah dan limbah. Dampaknya saat musim hujan tiba, tanah tidak bisa menyerap air dengan baik dan akhirnya terjadilah pengikisan tanah yang tidak sanggup menahan tekanan air dan lalu menguap mencari daratan dan akhirnya akan menyebabkan banjir.

Begitupun dampak dari sampah yang langsung dibakar, bagaimanapun juga sampah yang akan dibakar dipekarangan rumah memang lebih praktis, tetapi terbayangkah anda dalam jangka waktu panjang cara seperti ini akan merugikan individu berbagai pihak bahkan individu yang tidak bersalahpun akan terkena imbasnya karena lingkungan yang telah tercemar oleh polusi yang dihasilkan oleh pembakaran sampah tersebut.

Orang yang seharusnya hidup sehat menjadi sakit dikunjungi berbagai penyakit diantaranya gangguan pada pernafasan. Cara lain yang dialkukan oleh masyarakat dalam menanggulangu sampah yang dianggap efektif adalah dengan cara membakar. Perlu dipahami bahwa sampah yang dibakar, terutama jika sampah yang dimaksud adalah sampah anorganik, dapat membahayakan lingkungan dan kesehatan manusia yang hidup di dalamnya. Pencemaran tanah ini berasal dari limbah rumah tangga, limbah industri dan limbah pertanian.

Sampah merupakan bahan pencemar utama dalam limbah rumah tangga. Dapat kita lihat sampah berserakan dimana-mana. Ini akan berdampak pada hujam asam yang terjadi akibat aktivitas industri yang menyebabkan mineral berbahaya terlepas dari ikatannya dan kondisi Ph tanah menjadi rendah. Penggunaan pupuk kimia yang tidak terkendali menyebabkan tanah akan kehilangan zat haranya sehingga produktivitas lahan pertanian daerah tersebut nantinya akan menurun. Ditambah dengan masuknya pestisida ke dalam tanah akan berdampak ke berbagai mahkluk hidup lewat rantai makanan.

Karakter “masa bodo” dan “sok praktis” sudah mendarah daging pada diri masyarakat Indonesia. Pemerintah juga sudah pasti kehabisan akal bagaimana cara efektif untuk membuka hati masyarakat. Berbagai sosialisasi, program penyuluhan, himbauan sampai denda sekalipun ternyata berbuah nol. Sekarang waktunya kita sendiri untuk sedikit merenungkan hal ini.

Berhentilah menyalahkan pemerintah atau Pemda setempat mengenai masalah ini. Pemerintah dinas kesehatan sudah bekerja secara maksimal. Yang perlu kita bangun adalah perilaku bersih. Karena perilaku tidak bersih ini memang berawal dari masyarakat. Masyarakat perlu menghindari istilah masa bodoh terhadap sampah, karena sampah adalah musuh kita bersama. Pemerintah juga perlu mengedukasi masyarakat untuk mengolah sampah menjadi produktif melalui pendidikan keterampilan. (*)

Tinggalkan Balasan