Refleksi dari Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026: Memperkuat Ketahanan Pangan dan Energi Melalui Potensi Sulawesi Tenggara

Oleh: Prof. Dr. Ida Usman, S.Si., M.Si. (Wakil Rektor II Bidang Perencanaan, Keuangan, dan Umum UHO)

Sarasehan Kebangsaan dalam rangka Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri (KSTI) 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi bekerja sama dengan Majelis Rektor Perguruan Tinggi Negeri Indonesia pada tanggal 26–28 Juni 2026 di Jakarta International Convention Center menjadi forum strategis untuk memperkuat sinergi antara pemerintah, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat dalam menghadapi tantangan pembangunan nasional di masa depan.

Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Prabowo Subianto didampingi oleh Gibran Rakabuming Raka, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, serta sejumlah menteri dari Kabinet Merah Putih.

Forum ini menjadi wadah diskusi berbagai isu strategis nasional, mulai dari ketahanan pangan, ketahanan energi, hilirisasi industri, transformasi digital, hingga penguatan sumber daya manusia Indonesia.

Mengusung tema “Strategi Kemandirian Ekonomi dan Kesejahteraan Indonesia”, Sarasehan Kebangsaan KSTI 2026 menegaskan pentingnya kolaborasi antara sains, teknologi, dan industri dalam mewujudkan pembangunan nasional yang berkelanjutan dan berdaya saing global.

Salah satu paparan yang menarik perhatian saya adalah penyampaian tentang kebijakan ketahanan pangan dan energi nasional oleh Menteri Pertanian H. Andi Amran Sulaiman. Dalam paparannya, beliau menegaskan bahwa pemerintah menempatkan ketahanan pangan dan ketahanan energi sebagai prioritas strategis guna menjaga kedaulatan nasional, stabilitas ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Kebijakan tersebut diarahkan untuk mengurangi ketergantungan terhadap impor sekaligus memperkuat kapasitas produksi dalam negeri.

Di sektor pangan, pemerintah mendorong percepatan swasembada untuk komoditas strategis seperti beras, jagung, gula, dan daging melalui optimalisasi dan perluasan lahan pertanian, peningkatan produktivitas melalui penggunaan benih unggul, modernisasi pertanian berbasis mekanisasi dan teknologi, penyediaan subsidi pupuk serta sarana produksi, dan penguatan infrastruktur pascapanen serta distribusi pangan guna meningkatkan efisiensi rantai pasok nasional.

Sementara itu, di sektor energi, pemerintah terus mengembangkan diversifikasi sumber energi melalui pemanfaatan energi baru dan terbarukan. Dalam konteks tersebut, sektor pertanian memperoleh peran strategis melalui pengembangan biodiesel dan bioetanol sebagai upaya mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil impor.
Kebijakan pengembangan bioetanol yang didorong oleh Menteri Pertanian merupakan langkah visioner yang menghubungkan sektor pertanian dengan agenda ketahanan energi nasional.

Kebijakan ini menegaskan bahwa pertanian tidak lagi hanya dipandang sebagai penyedia pangan, tetapi juga sebagai penyedia bahan baku energi terbarukan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Selain menciptakan peluang pasar baru bagi komoditas pertanian, pengembangan bioetanol juga berpotensi memperkuat kemandirian energi nasional sekaligus mendorong tumbuhnya industri hilir berbasis pertanian.

Secara keseluruhan, kebijakan bioetanol merupakan inovasi strategis yang mampu menciptakan sinergi antara ketahanan pangan, ketahanan energi, dan peningkatan kesejahteraan petani. Apabila dilaksanakan secara terintegrasi dan berkelanjutan, kebijakan ini berpotensi menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan kemandirian ekonomi dan energi Indonesia.

Sejalan dengan agenda strategis tersebut, Menteri Pertanian selanjutnya mengundang sejumlah rektor dan pimpinan perguruan tinggi untuk berdiskusi secara informal di kediamannya pada 28 Juni 2026. Dalam kesempatan tersebut, saya hadir sebagai peneliti sekaligus salah satu pimpinan Universitas Halu Oleo.

Diskusi yang berlangsung dalam suasana hangat dan bersahabat tersebut memberikan inspirasi sekaligus keyakinan bahwa Universitas Halu Oleo memiliki peran strategis dalam mengembangkan potensi Sulawesi Tenggara untuk mendukung ketahanan pangan dan energi nasional.

Sulawesi Tenggara memiliki keunggulan sumber daya alam, luas wilayah pertanian, serta kekayaan sumber daya kelautan yang menjadikannya memiliki posisi strategis dalam mendukung kemandirian pangan dan energi Indonesia.

Di sektor pangan, provinsi ini memiliki potensi besar pada komoditas padi, jagung, ubi kayu, sagu, kakao, kelapa, serta berbagai komoditas hortikultura. Selain itu, karakteristik wilayah pesisir dan kepulauan memberikan potensi perikanan dan kelautan yang sangat besar sebagai penopang ketahanan pangan berbasis protein. Melalui penerapan teknologi pertanian modern, peningkatan produktivitas lahan, serta penguatan hilirisasi produk pertanian dan perikanan, Sulawesi Tenggara berpeluang menjadi salah satu lumbung pangan utama di kawasan timur Indonesia.

Di bidang energi, Sulawesi Tenggara juga memiliki potensi besar dalam pengembangan energi terbarukan. Komoditas pertanian seperti tebu, singkong, dan jagung dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku bioetanol, sedangkan limbah pertanian dan peternakan berpotensi diolah menjadi biomassa dan biogas. Keterkaitan antara sektor pangan dan energi tersebut menjadi keunggulan tersendiri bagi Sulawesi Tenggara dalam mengembangkan model pembangunan berbasis ekonomi sirkular dan keberlanjutan.

Pengembangan bioenergi berbasis hasil dan limbah pertanian tidak hanya mendukung ketahanan energi, tetapi juga meningkatkan nilai tambah produk pertanian serta membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat pedesaan.

Dalam konteks ini, keberadaan Universitas Halu Oleo menjadi modal strategis dalam pengembangan inovasi, teknologi, dan hilirisasi hasil riset yang mendukung penguatan sektor pangan dan energi. Kolaborasi antara Pemerintah Daerah Sulawesi Tenggara, Universitas Halu Oleo dengan keunggulan sumber daya manusia yang dimilikinya, dunia usaha, dan masyarakat akan menjadi kunci dalam menghasilkan inovasi yang aplikatif dan berdampak nyata bagi pembangunan daerah yang berkelanjutan.

Dengan sinergi tersebut, Sulawesi Tenggara tidak hanya berpotensi menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan timur Indonesia, tetapi juga dapat memainkan peran penting dalam mewujudkan ketahanan pangan dan energi nasional menuju Indonesia yang mandiri, maju, dan berdaya saing global.

Tinggalkan Balasan