Dari Pangan ke Energi Terbarukan, Guru Besar UHO Dorong Optimalisasi Lahan Sagu

KENDARINEWS.COM-Sagu kini tidak hanya bisa dijadikan sebagai pangan semata akan tetapi kini mulai bisa digunakan sebagai sumber energi baru dan terbarukan. Hal itu diungkapkan oleh Prof. Dr Ir Fransiscus Suramas Rembon MSc dalam orasi ilmiahnya ketika dikukuhkan menjadi Guru Besar Bidang Ilmu Pengelolaan tanah dan air dengan judul Optimalisasi Pengelolaan Lahan Sagu Menunjang Ketahanan Pangan Dan Energi Terbarukan.

Pengukuhan Guru Besar ini berlangsung di Auditorium Mokodompit Universitas Halu Oleo Senin (9/1). Dimana dalam pengukuhan tersebut diikuti oleh Delapan Guru Besar.

Prof. Dr Ir Fransiscus Suramas Rembon MSc, mengatakan, selama ini sagu ini sagu hanya dilihat sebagai pangan, akan tetapi pada dasarnya sagu ini bisa dimanfaatkan untuk bahan baku industri, mulai dari sebagai bioetanol hingga chip komputer.

“Jadi selama ini sagu kita hanya melihat sagu ini kecil atau hanya sebagai sumber pangan. Akan tetapi dinegara seperti Jepang pemanfaatan sagu ini sudah sangat jauh, dimana disana dimanfaatkan sebagai salah satu bahan dalam pembuatan chip komputer ataupun berbagia keperluan lainnya dengan Nanoteknologi,” ujar Prof. Dr Ir Fransiscus Suramas Rembon MSc.

Pria kelahiran Makale Tana Toraja ini menjelaskan, dalam hal pemanfaatan sagu sebagai energi baru terbarukan ini harys dicampurkan dengan Pertamax dengan perbandingan 1 banding 10. Dimana 10 untuk pertamax dan 1 untuk sagu.

“Jadi energi itu kan dari tepung sagu difermentasi menjadi bioetanol. Bioetanol itu dipakai dengan cara dicampurkan dengan pertamax. Ya, jadi dengan perbandingan satu banding sepuluh. Satu liter bioetanol dari sagu, sepuluh liter bensin atau pertamax,” jelasnya.

Lulusan McGill University Montreal Canada ini mengungkapkan, bahwa dalam beberapa tahun terakhir ini terjadi penurunan produksi sagu. Hal ini disebabkan banyak faktor salah satunya cara pengembangbiakannya yang selama ini menggunakan anakan, sehingga saat ini pihaknya lagi melalukan pengembangbiakan dengan mengguna biji.

“Selama ini orang-orang mengembangbiakan sagu itu dengan anakan dan ini sulit, sehingga saat ini kita kembangkan dengan melalui biji yang diambil dari Papua karna biji sagu di Sultra belum menghasilkan. Dengan penggunaan biji bisa sampai ribuah hektar berbeda dengan menggunakan anakan karena diambil satu persatu dari anakan pohon induk,” jelasnya.

Lulusan Doktoral Ehime University Matsuyama Jepang ini melanjutkan, bahwa penelitian pengembangbiakan sagu memggunakan biji ini sudah mulai dilakukan dilaboratorium lapangan Fakuktas Pertanian UHO. Dimana sudah ada yang yang tumbuh.
“Penelitian ini sudah dilakukan sejak 2007 dan bibitnya ini sudah ada dan itu terdapat dilaboratorium lapangan Fakultas Pertanian. Ini belum diperkenalka luas kemasyarakat akan tetapi kedepannya penelitian ini akan diperkenalkan kemasyarakat guna meningkatkan Produksi Sagu di Sultra yang selama ini masih rendah,” ungkapnya.

Diakhir wawancara Dosen di Fakultas Pertanian UHO ini menuturkan bahwa penghargaan yang diraih sebagia Guru Besar merupakan suatu kebanggaan yang sangat bernilai, hal ini dikarenakan Guru Besar ini merupakan tonggak tertinggi dalam perjalanan akademik. Namun gelar tersebut harus dibuktikan melalui karya nyata yang bermanfaat dan berdampak.

“Pada dasarnya, dengan adanya penghargaan ini, kami dituntut untuk terus berkontribusi dan menghadirkan dampak positif. Harapan ke depan, kami dapat memberikan kontribusi yang lebih baik lagi, khususnya dalam bidang penelitian, pengabdian kepada masyarakat, serta pembimbingan mahasiswa,” pungkasnya. (jib)

Tinggalkan Balasan