Integrasi Budaya dalam Upaya Kesehatan Mental Ibu

KENDARINEWS.COM — Kesehatan mental ibu, terutama selama masa kehamilan dan pascapersalinan, tidak cukup dipahami hanya dari perspektif medis. Pendekatan budaya dinilai penting dalam penanganannya, karena faktor sosial, keluarga, dan spiritual memiliki pengaruh besar terhadap kondisi psikologis seorang ibu.

Hal ini diungkapkan Direktur Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra), Dr. dr. Junuda RAF, M.Kes., Sp.KJ., Subsp.PB(K).

“Di masyarakat, ibu sering datang bukan dengan keluhan sedih atau cemas, tetapi dengan gejala fisik seperti sakit kepala, badan lemas, atau tidak bertenaga. Itu sebenarnya merupakan bahasa budaya untuk menyampaikan distres psikologis,” ujar dr. Junuda kepada Kendari Pos, Minggu (21/12/2025).

Dalam perspektif psikiatri budaya, gejala gangguan mental sering diekspresikan melalui idiom distres, yaitu cara lokal yang lebih diterima secara sosial untuk menyampaikan penderitaan batin. Hal ini membuat banyak kasus gangguan mental pada ibu tidak terdeteksi sejak dini.

Salah satu tekanan terbesar bagi ibu, menurut dr. Junuda, adalah norma “ibu ideal” yang menuntut kesabaran, keikhlasan, dan pengorbanan tanpa batas. Ketika ibu merasa lelah atau marah, emosi itu dianggap tabu dan sering disimpan sendiri, yang dalam jangka panjang bisa memicu depresi atau gangguan kecemasan.

Banyak penderitaan ibu dinormalisasi sebagai kodrat perempuan, sehingga keluarga atau lingkungan sering terlambat menyadari perlunya penanganan profesional. Konflik dengan keluarga besar, terutama terkait pengasuhan anak dan praktik kesehatan, juga menjadi sumber stres nyata yang jarang diakui sebagai masalah kesehatan mental.

Aspek spiritual turut membentuk cara ibu memaknai sakitnya. Distres psikologis bisa dianggap cobaan dari Tuhan, atau akibat kesalahan moral atau gangguan spiritual. Kondisi ini membuat ibu lebih dulu mencari bantuan ke dukun atau tokoh agama, sedangkan layanan medis menjadi pilihan terakhir.

Pendekatan Sensitif Budaya

Sebagai pimpinan RSJ Sultra, dr. Junuda mendorong penguatan layanan kesehatan mental yang sensitif terhadap konteks budaya lokal. Tenaga kesehatan perlu dilatih memahami bahasa emosi masyarakat dan melibatkan keluarga dalam proses pemulihan.

“Pendekatan realistis adalah model integratif, kolaborasi antara layanan medis modern dengan praktik penyembuhan tradisional yang dipercaya masyarakat. Ini bukan untuk saling meniadakan, tetapi saling melengkapi,” tegasnya.

Puskesmas dan Posyandu dianggap memiliki peran strategis sebagai garda terdepan deteksi dini kesehatan mental ibu, asalkan didukung pelatihan dan alat skrining yang sesuai konteks budaya.

dr. Junuda menekankan pentingnya mengubah persepsi masyarakat terhadap ibu. “Ibu bukan hanya alat pengasuhan bagi keluarga dan negara. Ia adalah subjek kesehatan mental yang berhak lelah, berkeluh, dan menerima pertolongan,” pungkasnya.

Menurutnya, tanpa perubahan perspektif sosial dan budaya, upaya peningkatan kesehatan mental ibu sulit mencapai hasil yang berkelanjutan. (KN)

Tinggalkan Balasan