KPU Sultra di SMA Unggul Garuda: Jadilah Pemilih Cerdas, Pilih Berdasarkan Gagasan Bukan Populak

KENDARINEWS. COM— Generasi muda adalah penentu masa depan demokrasi bangsa. Karena itu, sejak dini mereka perlu dibekali pemahaman yang kuat tentang bagaimana proses demokrasi yang seharusnya berjalan.

Anggota KPU Provinsi Sulawesi Tenggara sekaligus Ketua Divisi Sosialisasi, Pendidikan Pemilih, Partisipasi Masyarakat dan SDM, Amirudin, hadir sebagai narasumber sekaligus panelis dalam kegiatan Seminar Literasi Demokrasi dan debat Pemilu Raya di SMA Unggul Garuda Konawe Selatan, Jumat (30/10/2026). Kegiatan ini digelar dalam rangka pemilihan Ketua dan Wakil Ketua OSIS/MPK periode baru.

Dalam paparannya, Amirudin menekankan bahwa menjadi pemilih cerdas tidak cukup hanya datang ke tempat pemungutan suara. Pemilih yang cerdas mampu mengenali visi, misi, dan program kerja calon, serta menilai apakah program tersebut realistis dan berintegritas.

“Jangan hanya bertanya siapa yang kita sukai, tetapi tanyakan juga siapa yang benar-benar siap bekerja. Pilihan yang baik lahir dari pertimbangan, bukan karena ikut-ikutan, tekanan pertemanan, ataupun popularitas semata,” ujar Amirudin.

Ia juga mengingatkan siswa untuk bijak menyaring informasi di media sosial. Tidak semua yang viral itu benar. Setiap informasi harus diperiksa sumber dan faktanya sebelum dipercaya atau disebarkan. Amirudin juga mengingatkan: jangan pernah tukar suara dengan sesuatu yang bernilai materi. Nilai sebuah suara jauh lebih besar daripada keuntungan sesaat.

Pada sesi debat, Amirudin mengingatkan para kandidat dan pemilih di sekolah bahwa debat bukan ajang saling menjatuhkan atau menyerang karakter lawan.

“Debat seharusnya menjadi ruang untuk menguji gagasan, bukan menguji atau menyerang pribadi seseorang. Seorang calon pemimpin tidak hanya dituntut berani berbicara, tetapi juga harus mampu mendengarkan, menghargai perbedaan, dan mempertanggungjawabkan setiap gagasannya,” tegasnya.

Prinsip debat yang sehat, lanjutnya, mencakup: pertanyaan yang relevan, pendapat berbasis fakta, bebas dari ejekan dan fitnah, serta sikap terbuka terhadap kritik dan pendapat lain

Amirudin menegaskan bahwa Pemilu Raya di sekolah bukan sekadar rutinitas tahunan. Ini adalah laboratorium demokrasi nyata. Di sini siswa belajar memilih secara bebas, menghormati perbedaan pilihan, menerima hasil pemilihan dengan lapang dada, dan mengawasi kinerja pemimpin yang telah dipilih.

“Pemilih cerdas tidak lahir pada hari pemungutan suara, tetapi dibentuk melalui proses pendidikan dan pembiasaan sejak sekarang. Jangan hanya tahu cara memilih, tetapi pahami mengapa kita memilih, bagaimana menentukan pilihan, dan apa tanggung jawab kita setelahnya,” tutup Amirudin.

KPU Provinsi Sulawesi Tenggara berharap pengalaman berdemokrasi di lingkungan sekolah ini menjadi fondasi kuat bagi generasi muda untuk tumbuh sebagai pemilih yang kritis, mandiri, berintegritas, dan bertanggung jawab di masa depan.

Tinggalkan Balasan