KENDARINEWS.COM–Yayasan Bina Insani Indonesia (INSANI) Kendari menyelenggarakan seminar dan lokakarya bertema “Memperkuat Aksi Iklim Inklusif untuk Ketahanan Pangan dan Ketangguhan Pesisir di Kabupaten Konawe Kepulauan (Konkep)” pada 29–30 September 2026 di Aula Kantor Bupati Konawe Kepulauan. Kegiatan ini mempertemukan masyarakat (termasuk kelompok rentan), BPD, pemerintah desa, perangkat daerah dan lembaga pendamping untuk membahas risiko iklim serta merumuskan prioritas penanganannya.
Ketua Panitia, La Ode Susvito mengatakan bahwa, forum tersebut dilatarbelakangi temuan penilaian partisipatif risiko iklim dan bencana (PACDR) di 3 titik lokasi pilot program INSANI Desa Langgara Jaya, Wawoone, Watuondo. Masyarakat mengidentifikasi bahaya banjir, kekeringan, angin kencang banjir rob, gelombang tinggi yang berdampak pada keterbatasan air, gangguan produksi pertanian, serta ancaman terhadap penghidupan pesisir.
“Pembahasan juga menyoroti perbedaan dampak dan kemampuan masyarakat dalam menghadapi risiko. Kebutuhan kelompok rentan (perempuan, lansia, disabilitas, anak-anak), petani kecil, nelayan, pelaku industri rumah tangga menjadi perhatian agar rencana aksi memberikan akses perlindungan dan dukungan yang sesuai,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa, seminar menghadirkan nara sumber dengan materi yang saling melengkapi yaitu dari Bappeda Kabupaten Konawe Kepulauan Safiuddin Alibas, SP., ME membahas tentang arah pembangunan daerah serta peluang integrasi prioritas iklim ke dalam perencanaan dan dukungan lintas perangkat daerah. BMKG Sulawesi Tenggara oleh Faisal Habibi, SP., M.Si menyampaikan materi tentang profil risiko, pemanfaatan informasi iklim, kesiapsiagaan, dan peringatan dini.
“Kemudian Akademisi bidang klimatologi dari FHIL Universitas Halu Oleo (UHO) oleh Prof.Dr.Ir. Aminuddin Mane Kandari, M.Si membahas hubungan data iklim dengan pertanian, ketahanan pangan, kondisi pesisir, kerentanan sosial, dan pilihan adaptasi. Sementara itu, perwakilan Komunitas Tangguh Iklim Desa menyampaikan temuan penilaian partisipatif risiko iklim dan bencana (PACDR) berdasarkan pengalaman masyarakat,” jelasnya.
Selanjutnya, Rumpun Perempuan Sultra menyampaikan perspektif gender, disabilitas, perlindungan sosial, dan layanan dasar adaptif (GEDSI). Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Konawe Kepulauan membahas ketangguhan pesisir, ekosistem, perikanan, dan penghidupan. INSANI melengkapi pembahasan melalui materi ketahanan pangan, pertanian organik, dan penguatan rantai nilai. “Dan Manajer Program INSANI menekankan perlunya menghubungkan persoalan yang dihadapi masyarakat dengan dukungan teknis dan kebijakan yang dapat ditindaklanjuti,” ungkapnya.
Ia menyebut bahwa, melalui seminar dan lokakarya ini, pihaknya ingin memastikan pengalaman masyarakat menjadi dasar penentuan prioritas. Rencana aksi perlu menjelaskan tindakan yang dapat dimulai oleh keluarga dan desa, dukungan yang dibutuhkan, serta pihak yang bertanggung jawab menindaklanjutinya.
Dari perspektif akademik, informasi iklim perlu diterjemahkan menjadi keputusan yang sesuai dengan kondisi setiap wilayah. Menurut Prof. Aminuddin Mane Kandari selaku Guru Besar bidang Agroklimatologi yang juga mantan Dekan FHIL UHO Periode 2018 – 2022 mengatakan bahwa data iklim perlu dipadukan dengan pengalaman masyarakat untuk menentukan langkah adaptasi yang sesuai, termasuk waktu tanam dan pengelolaan air. “Pelaksanaannya perlu dipantau agar kita dapat menilai apakah tindakan tersebut benar-benar mengurangi risiko,” kata Prof Aminuddin.
Bupati Kab. Konawe Kepulauan Rifqi Saifullah Razak, S.T dalam sambutannya saat membuka kegiatan yang diwakili oleh Kepala Bappeda Safiudin Alibas, SP, ME mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan seminar dam lokakarya tersebut. Beliau menyatakan bahwa penguatan ketahanan terhadap perubahan iklim dan bencana serta keberlanjutan lingkungan sejalan dengan arah pembangunan daerah. Ia juga meminta agar rencana aksi tindak lanjut segera dirumuskan dan diselesaikan untuk menjadi bahan masukan dalam penyempurnaan perencanaan pembangunan, khususnya terkait RPJMD Kabupaten Konawe Kepulauan 2025–2029.
“Insyaallah akan kami jadikan sebagai salah satu bahan masukan dalam rangka penyempurnaan penyusunan rencana pembangunan di Kabupaten Konawe Kepulauan,” terangnya.
Sementara Direktur Eksekutif Yayasan Insani Kendari Bapak Ir. Nursalam dalam sambutannya saat menutup kegiatan menyatakan bahwa kegiatan ini menghasilkan rencana aksi yang memuat masalah prioritas, lokasi dan kelompok terdampak, tindakan keluarga dan komunitas, kebutuhan dukungan, penanggung jawab, jadwal, serta indikator pelaksanaan. “Rencana tersebut diharapkan menjadi dasar koordinasi lintas pihak dan bahan usulan dalam perencanaan serta penganggaran baik di APBDesa maupun APBD Kabupaten Konawe Kepulauan,” tutupnya.(rls/win).









































