Di Tengah Ancaman Perang, Pesawat Mata-mata AS Terbang Dekati Iran

KENDARINEWS.COM– Washington DC Pesawat pengintai maritim P-8A Poseidon milik Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) terdeteksi mengudara dan berpatroli bolak-balik di dekat wilayah Iran sepanjang pekan ini. Aktivitas tersebut terpantau di tengah pengerahan besar-besaran aset militer AS ke kawasan Timur Tengah, khususnya di sekitar Iran.

Berdasarkan data open source intelligence (OSINT) Flightradar23, seperti dilaporkan NDTV dan airforce-technology.com, Selasa (10/2/2026), sebuah pesawat P-8A Poseidon terbang berulang kali pada rute yang sama di wilayah maritim antara Bahrain dan Uni Emirat Arab. Kedua negara itu berada di selatan daratan Iran, berdekatan dengan kawasan Teluk Persia.

Selain P-8A Poseidon, sebuah pesawat pengisi bahan bakar di udara KC-135 Stratotanker juga terdeteksi melakukan penerbangan singkat di dekat wilayah Iran. Pergerakan pesawat KC-135 tersebut dinilai tidak biasa dan memicu spekulasi terkait peningkatan kesiapsiagaan militer AS.

Aktivitas patroli pesawat pengintai maritim seperti P-8A Poseidon umumnya menunjukkan persiapan misi intelijen, pengawasan, dan pengintaian (intelligence, surveillance, and reconnaissance/ISR), yang kerap dilakukan menjelang atau selama operasi militer. Pesawat P-8A sendiri merupakan platform multi-misi Angkatan Laut AS yang mampu menjalankan peperangan antikapal selam jarak jauh, peperangan antipermukaan, serta misi ISR.

Terdeteksinya patroli udara ini berlangsung di tengah meningkatnya ketegangan antara Washington dan Teheran. Presiden AS Donald Trump pada akhir Januari lalu menyatakan bahwa “armada besar” serta kapal-kapal “sangat besar, sangat kuat” sedang bergerak menuju Iran. Trump juga menyebut berharap AS tidak perlu menggunakan kekuatan militer tersebut, meski tengah mempertimbangkan opsi serangan terhadap Teheran.

Sebagai bagian dari pengerahan militer itu, AS menempatkan kapal induk USS Abraham Lincoln bersama tiga kapal penghancur rudal—USS Frank E Petersen Jr, USS Michael Murphy, dan USS Spruance—ke Laut Arab pada akhir Januari. Dua kapal perang AS dilaporkan terdeteksi berlayar di dekat Selat Hormuz, sementara satu lainnya berada di Laut Merah.

Menanggapi situasi tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi pada Minggu (8/2/2026) mengakui bahwa AS memang tengah membangun kekuatan armada militernya di kawasan. Namun, ia menegaskan bahwa langkah tersebut tidak menggoyahkan Iran. “Pengerahan militer mereka di kawasan itu tidak membuat kami takut,” ujarnya. dikutip dari Detik.com

Sementara itu, hampir bersamaan dengan aktivitas patroli pesawat pengintai, otoritas AS merilis pedoman baru bagi kapal-kapal komersial yang melintasi Selat Hormuz. Dalam pedoman yang dikeluarkan pada Senin (9/2/2026), Otoritas Maritim di bawah Departemen Transportasi AS menyarankan kapal berbendera AS untuk berlayar sejauh mungkin dari perairan teritorial Iran.

Pedoman tersebut juga meminta kapal-kapal komersial AS untuk secara verbal menolak permintaan izin naik dari pasukan Iran, apabila diminta, selama tidak membahayakan keselamatan navigasi. Selat Hormuz sendiri merupakan jalur pelayaran strategis bagi pasokan minyak global, sehingga setiap eskalasi di kawasan ini berpotensi berdampak luas pada stabilitas energi dan keamanan internasional.(ris)

Tinggalkan Balasan