Marwah KPK “Hancur Lebur” di Tangan Firli, Ini Ulasan Pakar Pidana Sultra

KENDARINEWS.COM–Penetapan Ketua KPK RI Firli Bahuri sebagai tersangka dugaan pemerasaan kepada mantan Menteri Pertanian SYL, berdampak buruk terhadap citra lembaga anti rasuah itu.

KPK dengan rekam jejak sebagai lembaga penegak hukum berintegirtas, terpercaya, namun marwah tersebut hancur seketika akibat ulah FB. Penetapan FB tersangka dinilai sebagai langkah awal membuka kotak poranda kebobrokan di tubuh internal. 

Pakar Hukum Pidana Sultra Hariman Satria mengatakan, langkah Polda DKI Jakarta yang telan bersungguh-sungguh melakukan pemeriksaan, penyidikan, hingga menetapkan FB selaku Ketua KPK sebagai tersangka dugaan pemerasan terhadap SYL patut diapresiasi. Mesti disuport “all out” bahwa seperti itulah mestinya penegak hukum bekerja. 

“Ini bagian koreksi bahwa memang banyak paradoks di tubuh pimpinan KPK terutama pada diri seorang FB,” kata Hariman Satria,Jumat (24/11).

Sebagai seorang akademisi, Hariman sangat miris melihat kasus ini. Berawal dari penangkapan seorang mantan Menteri Pertanian SYL atas dugaan pemerasan bawahannya yang ditangani KPK, namun dalam perkembangannya justru pimpinan KPK juga melakukan pemerasan terhadap Menteri yang bersangkutan. 

“Jadi ini fenomena saling memeras satu sama lain,” ujar Hariman. 

Mantan Ketua Pusat Kajian Anti Korupsi Universitas Fakultas Hukum Universitas Muhammadiyah Kendari ini menurutkan, kejadian ini merupakan pertanda buruk bagi KPK dan juga Kementerian Pertanian. Namun lebih spesifik adalah KPK, karena korupsi di lingkup Kementerian atau birokrasi adalah fenomena yang kerap terjadi, bahkan puluhan tahun lalu sering terdengar. Tetapi yang sangat mengagetkan publik adalah ketika dugaan korupsi dilakukan oleh oknum di KPK. Karena berbicara KPK maka berbicara penegakan hukum yang berintegritas dengan tingkat kepercayaan tinggi masyarakat. Di tubuh KPK ada nilai kejujuran yang melekat yang merupakan sari pati nilai-nilai kinerja KPK selama ini. 

“Apa yang dilakukan oleh FB ini sangat mencoreng dan merendahkan martabat KPK. Karena KPK yang kita lihat memberantas korupsi, menetapkan seorang sebagai tersangka penyelewengan uang negara, justru yang terjadi saat ini pimpinan KPK ditetapkan sebagai tersangka karena kasus korupsi. Ironi dan menyedihkan. Marwah KPK hancur lebur,”beber Hariman. 

Paska penetapan FB sebagai tersangka, kata dia, mestinya penyidik Dirkrimsus Polda DKI Jakarta langsung menahan FB. Alasannya untuk memastikan FB tidak melarikan diri, tidak menghilangkan atau merusak barang bukti, dan juga untuk mencegah FB tidak mengulangi kembali tindak pidana yang sama. Kemudian dengan hadirnya rencana pemberhentian FB sebagai pimpinan KPK melalui Keppres, maka upaya tersebut sebagai langkah positif agar penyelidikan, penyidikan kasus-kasus yang sedang berjalan yang ditangani oleh KPK tidak mengalami gangguan. Karena pimpinan KPK berdasarkan Undang-Undang nomor 19 tahun 2019 bersifat kolektif-kolegial. Artinya tidak dimonopoli atau ditentukan oleh satu orang. 

“Adanya rencana dinonaktifkan adalah pertanda baik. Bahwa Presiden masih berada di jalur memberantas korupsi. Ini juga menunjukkan tidak ada perlakukan berbeda kepada siapapun ketika melakukan tindak pidana koruspi meski pimpinan KPK sekalipun,” imbuh Hariman.

Akademisi Fakultas Hukum Univesitas Muhammadiyah Kendari ini juga menyoroti Dewan Pengawas KPK yang dinilai kurang bekerja efektif. Atas dasar itu, Hariman mengganggap Dewas KPK mesti mundur karena kinerjanya banyak mengecewakan publik.

“Berkali-kali FB dilaporkan atas dugaan pelanggaran kode etik namun sanksi yang diberikan Dewas biasa-biasa saja. Jadi sebaiknya Dewas mundur karena terbukti Dewas kurang produktif dalam melakukan pengawasan yang berintegritas,” tegas Hariman. 

Hariman menambahkan posisi Dewas sangat strategis karena komponen paling mendasar di KPK. Sebab Dewas menegakkan kode etik ketika terjadi pelanggaran kode etik ketika pimpinan atau pegawai KPK melakukan pelanggaran.

“Sebaiknya Dewas KPK legowo, berbesar hari mundur bersama-sama,” tandas Hariman. (ali/kn)

Tinggalkan Balasan