Belajar di Situs Bersejarah, Siswa SMAN 1 Kendari Kunjungi Benteng Lapadi

KENDARINEWS. COM-:Puluhan siswa kelas XII E1 SMA Negeri 1 Kendari mendapatkan pengalaman belajar berbeda melalui kunjungan ke Benteng Lapadi, Kecamatan Lainea, Kabupaten Konawe Selatan, Sulawesi Tenggara. Di lokasi tersebut, siswa diajak mengenali jejak sejarah masa kolonial melalui pengamatan langsung terhadap kondisi situs.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari, 9–11 Oktober 2026, ini menjadi bagian dari pembelajaran sejarah di luar kelas. Para siswa tidak hanya mempelajari materi dari buku dan penjelasan guru, tetapi juga melihat secara langsung objek yang berkaitan dengan pelajaran mereka.

Kepala SMAN 1 Kendari, Nur Aida, S.Pd., mengatakan pengalaman belajar di lapangan penting untuk membantu siswa memahami materi secara lebih nyata. Menurutnya, pendekatan pembelajaran mendalam atau deep learning perlu didukung dengan kegiatan yang memungkinkan siswa berinteraksi langsung dengan objek pembelajaran.

“Teori itu tidak cukup. Anak-anak perlu dikenalkan dengan lokasi atau tempat yang sebenarnya, sehingga mereka mengetahui secara konkret seperti apa objek yang dipelajari,” ujar Nur Aida, Senin (12/10/2026).

Ia berharap kegiatan semacam ini dapat memperkaya pengalaman belajar siswa sekaligus menumbuhkan perhatian terhadap peninggalan sejarah di daerah. Dengan melihat langsung situs bersejarah, siswa diharapkan mampu memahami bahwa warisan budaya memiliki nilai penting yang perlu dijaga keberlangsungannya.

Nur Aida, juga menilai pembelajaran di luar kelas dapat memberikan pemahaman yang lebih luas dibandingkan jika siswa hanya mempelajari materi secara teoritis.

Menurutnya, pendidikan sejarah tidak semata-mata bertujuan menambah pengetahuan tentang masa lalu, tetapi juga membangun kesadaran generasi muda untuk menghargai dan melestarikan peninggalan sejarah.

Guru Sejarah SMAN 1 Kendari, Orda, S.Pd., menjelaskan bahwa kunjungan tersebut berkaitan dengan materi pengamatan benda-benda peninggalan masa kolonial. Benteng Lapadi menjadi salah satu lokasi yang dipilih untuk memberikan gambaran langsung kepada siswa mengenai objek yang dipelajari dalam kurikulum.

Dari hasil pengamatan di lokasi, siswa dapat melihat keberadaan struktur batu yang menjadi bagian dari situs tersebut.

“Setelah melihat langsung situs yang dimaksud, memang benteng itu ada. Bentuknya berupa susunan batu-batu alami yang menjadi salah satu peninggalan masa kolonial Belanda sekitar tahun 1900,” jelas Orda.

Ia mengatakan, kegiatan lapangan juga diarahkan untuk mengenalkan keterampilan dasar penelitian kepada siswa. Kemampuan mengamati, mengumpulkan informasi, serta memahami kondisi objek penelitian menjadi bekal yang dapat dimanfaatkan ketika melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi.

Selain aspek akademik, kegiatan tersebut memberikan kesempatan kepada siswa untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Pengalaman ini diharapkan membantu mereka mengembangkan kemampuan beradaptasi dan bersosialisasi ketika melakukan kegiatan penelitian di tengah masyarakat.

Orda menambahkan, pengamatan situs sejarah di luar museum melalui kegiatan tersebut menjadi pengalaman baru pada tahun ini. Sementara itu, pembelajaran sejarah melalui program kunjungan lapangan telah dilaksanakannya secara rutin sejak 2005.

Ia berharap kunjungan ke Benteng Lapadi dapat mendorong siswa untuk lebih mengenal kekayaan sejarah lokal. Menurutnya, pemahaman terhadap situs-situs bersejarah merupakan salah satu langkah untuk menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap pelestarian warisan budaya di Konawe Selatan dan Sulawesi Tenggara.

Melalui pengalaman tersebut, siswa diharapkan tidak hanya memperoleh pengetahuan baru tentang peninggalan masa kolonial, tetapi juga memahami pentingnya menjaga keberadaan situs sejarah agar tetap dikenal oleh generasi berikutnya.

Tinggalkan Balasan