KENDARINEWS.COM— Belum.usai kita dikepung kasus covid-19, kini muncul penyakit baru yang berlabel Virus Hanta. Virus Hanta merupakan salah satu jenis virus yang berasal dari hewan pengerat, khususnya tikus. Penularannya terjadi secara tidak langsung, yaitu melalui paparan air liur, urin, atau kotoran tikus yang terinfeksi.
Meski tergolong langka, infeksi ini bisa menimbulkan gejala serius dan bahkan berujung pada kondisi fatal jika tidak segera ditangani.
Bagaimana Virus Hanta Menular?
Virus ini tidak berpindah dari manusia ke manusia. Penularan hanya terjadi ketika seseorang menghirup partikel kecil dari ekskresi tikus, terutama saat membersihkan tempat yang kotor dan tertutup.
Selain itu, menyentuh tikus secara langsung atau memiliki luka terbuka yang terkena cairan dari tubuh tikus dapat meningkatkan risiko tertular infeksi.
Tempat yang kotor, minim pencahayaan, dan basah biasanya menjadi lokasi yang disukai tikus untuk berkembang biak.
Oleh sebab itu, masyarakat yang tinggal atau bekerja di area proyek, rumah kosong, atau gudang penyimpanan perlu lebih waspada.
Gejala Infeksi Virus Hanta
Tanda awal infeksi biasanya muncul dalam waktu 1 hingga 3 minggu setelah paparan. Penderitanya bisa mengalami:
- Demam tinggi, sering kali disertai menggigil
- Sakit kepala yang menetap
- Nyeri otot, khususnya di punggung, paha, dan pinggang
- Mual dan muntah
- Nyeri perut, terkadang disertai diare
- Batuk dan sesak napas pada kasus berat
Denyut jantung meningkat dan tekanan darah bisa turun drastis
Dalam beberapa kasus, infeksi Virus Hanta dapat berkembang menjadi dua jenis sindrom: Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS) yang menyerang paru-paru dan Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) yang memengaruhi ginjal. Gejalanya bisa meliputi penurunan fungsi ginjal, perdarahan, dan gangguan pernapasan.
Langkah Pencegahan yang Bisa Dilakukan
Agar terhindar dari risiko infeksi, menjaga kebersihan lingkungan menjadi kunci utama. Beberapa langkah yang disarankan antara lain:
- Tutup celah dan lubang di rumah atau bangunan untuk mencegah tikus masuk.
- Simpan makanan dan minuman dalam wadah tertutup, jauh dari jangkauan hewan pengerat.
- Buang sampah secara teratur dan hindari penumpukan barang tidak terpakai.
- Gunakan sarung tangan dan masker saat membersihkan area yang mungkin tercemar kotoran tikus.
- Jangan menyapu area kotor secara kering. Gunakan cairan disinfektan sebelum membersihkan agar partikel virus tidak beterbangan.
Masyarakat juga disarankan tidak memelihara tikus atau hewan pengerat liar sebagai hewan peliharaan, karena risiko penularan masih tinggi meski hewan tersebut tampak sehat.
Penanganan Jika Sudah Terinfeksi
Hingga saat ini, belum tersedia vaksin atau obat antivirus spesifik untuk Virus Hanta. Penanganan umumnya bersifat suportif, yakni bertujuan menjaga kondisi tubuh tetap stabil dan mencegah komplikasi.
Pasien yang terdiagnosis perlu segera dirawat di fasilitas kesehatan, terutama jika menunjukkan gejala pernapasan atau gangguan ginjal.
Dalam tahap awal, penderita biasanya diberi cairan intravena untuk mencegah dehidrasi, obat pereda nyeri, serta dukungan pernapasan jika dibutuhkan.
Deteksi dini dan penanganan cepat bisa meningkatkan peluang kesembuhan secara signifikan.
Kapan Harus ke Dokter?
Segeralah mengunjungi layanan kesehatan apabila mengalami demam secara tiba-tiba usai beraktivitas di area yang rentan tikus, apalagi jika keluhan tersebut muncul bersama gejala seperti sesak napas, nyeri otot, atau muntah.
Jangan menunggu hingga gejala memburuk karena penanganan awal sangat menentukan hasil akhir.
Meskipun kasus Virus Hanta belum banyak ditemukan di Indonesia, bukan berarti risiko penularan dapat diabaikan. Kewaspadaan terhadap kebersihan lingkungan dan kesadaran terhadap gejala infeksi menjadi langkah penting dalam mencegah penyebarannya.
Jika tubuh mulai menunjukkan gejala yang tidak biasa setelah terpapar lingkungan yang berisiko, sebaiknya segera periksakan diri ke fasilitas kesehatan.
Karena dalam hal penyakit infeksi, waktu adalah faktor yang menentukan.(SD)









































