Kenapa mesti berpura-pura Bahagia ?

KENDARINEWS.COM — Siapa sih yang tidak ingin hidup bahagia?
Tentu semua orang menginginkannya. Sayangnya, walau begitu berat beban hidupnya, seseorang berupaya tetap ingin terlihat bahagia.

Oleh : Drs.Nasri Bohari M.Pd (Ketua DPW Hidayatullah Sulsel – Pembina Hidayatullah Kendari)

Walau hidupnya penuh masalah, dia tetap menampakkan sebagai orang kuat, berpura-pura hidup bahagia, agar bisa meraih bahagia. Tapi benarkah berpura-pura bahagia akan merasakan bahagia yang sesungguhnya ?

Berpura-pura bahagia itu ibarat topeng yang bisa membuat orang lain senang dan bahagia melihatnya. Sementara topeng itu . sesungguhnya adalah kemunafikan diri menutupi keasliannya. Topeng iru pada akhirnya membuat hatinya gerah dari kepura-puraannya.

Begitu banyak publik figur dan pandai menghibur menciptakan suasana bahagia.

Apalagi manakala profesinya sebagai penghibur profesional, dia harus tampil terbaik dan menyenangkan. Semakin banyak orang tertawa bahagia semakin puas dan bahagia pulalah dia.

Ironisnya, orang lain tidak faham dibalik layar kehidupannya, penuh beban hidup dan kompleksitas masalah yang tak sanggup dia selesaikan sendiri.

Berpikiran positif dapat menjadi solusi untuk mengatasi problem hidup tertentu menggapai bahagia. Tapi terus-menerus berpura-pura bahagia dapat berdampak pada kesehatan mental.

Beberapa dampak negatif dari pura-pura bahagia. Pertama menahan emosi yang terpendam. Dengan selalu berupaya nampak senyum bahagia dibalik emosi yang berkecamuk dihati.

Dia pun berupaya senyum untuk bahagia, bukan karena bahagia sehingga dia tersenyum. Dan hal itu boleh jadi adalah tanda-tanda toksik.

Toksik itu sendiri adalah hubungan tidak sehat, membuat individu yang terlibat di dalamnya merasa tidak bahagia, direndahkan, mengalami ketidakadilan, selalu menjadi sasaran amarah, berakhir pada kekerasan verbal, psikologis maupun fisik.

Kedua keyakinan tidak realistis. Selama kita masih berpikir yang mengarah pada keyakinan tidak realistis, maka kita tidak bisa berfikir dengan baik dan bahagia. Dan tidak akan menikmati hasilnya dengan hidup baik dan bahagia pula.

Ketiga memberi kesa bahagia, kita pun terus bertopeng senyum kebahagiaan. Padahal kita tahu sendiri bahwa kita telah memberi kesan yang tidak benar.

Sampai kapan kita terus berpura-pura bahagia ? Sampai kita mampu melepaskan kemunafikan diri. Menjadi berpikir dan bertindak realistis dan obyektif, bahagia diatas keaslian.diri kita.

Bolehkah berpura-pura bahagia dalam Islam ?

Islam adalah ajaran rasional dan realistik, berpikir dan bersikap adil dan jujur. Tidak mengenal kepura-puraan dalam hidup. Bahagia itu harus dirasakan dengan penuh rasa, baik tersembunyi dalam diri ataupun terlihat dalam kehidupan keseharian

Allah Ta’ala berfirman: “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik, dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (Q.S An-Nahl [16] : 97)

Dari ayat tersebut tergambar bahwa degan iman dan amal yang didasari iman akan langsung menggapai kebahagiaan sempurna dan hakiki di dunia dan di akhirat kelak.

Keniscayaan, seorang muslim sejati pasti akan mendapatkan kebahagiaan sejati pula. Dan dirasakannya manakala dia patuh pada Allah tanpa alasan, senang berbagi tanpa sepi, sabar tanpa tapi serta memaafkan dengan ikhlas

Lebih sempurna lagi kebahagiaannya adakah dengan menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur disetiap kondisi, lapang atau sempit, sebagai kekayaan jiwa.

“Bukanlah diukur dengan banyaknya harta (ghina) atau kemewahan dunia. Namun kekayaan adalah hati yang selalu merasa cukup.” (HR. Bukhari dan Muslim)

(*)

Tinggalkan Balasan