KENDARINEWS.COM– Langit di atas Teluk Persia kembali memanas. Iran dikabarkan kembali mencetak kemenangan strategis dengan berhasil menembak jatuh aset militer paling canggih milik Amerika Serikat, Drone MQ-4C Triton, di perairan Selat Hormuz. Nilai kerugian luar biasa besar ini menjadi pukulan telak bagi kekuatan udara AS.
Dikutip dari berbagai sumber internasional, Kamis (16/4/2026), drone pengintai super canggih yang dijuluki “Mata di Langit” itu bernilai fantastis mencapai 238 juta Dollar AS atau setara Rp 3,8 Triliun.
Drone yang sedang menjalankan misi pengintaian rutin selama tiga jam di jalur vital energi dunia tersebut tiba-tiba kehilangan kontak dan mengirimkan sinyal darurat sebelum akhirnya dinyatakan hilang dan jatuh.
Kehilangan ini bukan insiden tunggal. Sejak konflik memanas kembali akhir Februari lalu, catatan menunjukkan kekuatan udara AS mengalami kekalahan beruntun yang sangat memilukan.
Hanya dalam kurun waktu awal April ini saja, tercatat delapan unit Drone MQ-9 Reaper berhasil dijatuhkan. Total keseluruhan, sudah 24 unit drone canggih yang menjadi korban serangan pertahanan udara Iran.
Jika dihitung, setiap unit MQ-9 Reaper dihargai sekitar 30 juta Dollar AS atau Rp 513 Miliar per unit. Bayangkan kerugiannya! Total kerugian materiil AS kini menembus angka ratusan juta Dollar, atau setara lebih dari Rp 14 Triliun
Drone MQ-9 Reaper buatan General Atomics ini dikenal sebagai pembunuh ulung. Dilengkapi kemampuan intelijen, pengawasan, hingga misil serang presisi, namun nyatanya tak mampu berbuat banyak menghadapi pertahanan udara Iran yang semakin tangguh.
Kehilangan aset senilai miliaran Dollar ini membuktikan bahwa dominasi teknologi AS di kawasan Timur Tengah mulai tergoyahkan. Selat Hormuz kini semakin panas dan berbahaya bagi setiap pesawat tanpa awak yang berani melintas.
Berita jatuhnya drone termahal ini langsung mengguncang dunia pertahanan internasional. Iran kembali menunjukkan taringnya bahwa mereka adalah penguasa yang tak terbantahkan di wilayah perairan strategis tersebut, sementara AS harus menelan pil pahit kehilangan aset pertahanan bernilai fantastis dalam waktu singkat.









































