KENDARINEWS.COM — Hubungan perdagangan di Amerika Utara kembali memanas setelah pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump secara terbuka mengecam keputusan Kanada yang mengizinkan impor puluhan ribu kendaraan listrik (EV) asal China.
Menteri Transportasi AS, Sean Duffy, dikutip dari CNBC Indonesia, menyampaikan kekecewaannya dalam sebuah acara di pabrik Ford di Ohio. Menurut Duffy, langkah Kanada membuka pintu bagi produk otomotif China merupakan kesalahan strategis. Ia juga memperingatkan bahwa Ottawa akan menyesali keputusan tersebut dan menegaskan bahwa kendaraan-kendaraan itu haram masuk ke pasar AS.
“Saya pikir mereka akan meninjau kembali keputusan ini dan pasti menyesal telah membawa mobil China ke pasar mereka,” ujar Duffy, dikutip dari Reuters, Sabtu (17/1/2026).
Pada tahun 2024, Kanada sebenarnya sempat mengikuti jejak AS dengan memberlakukan tarif 100% pada EV China. Namun, kebijakan terbaru yang mengizinkan masuknya hingga 49.000 unit EV China memicu alarm di Washington. AS menilai langkah ini berpotensi menjadi “pintu belakang” bagi China untuk mendapatkan pijakan lebih luas di Amerika Utara.
Keputusan Kanada ini disinyalir terkait kesepakatan dagang, di mana Perdana Menteri Kanada, Mark Carney, mengharapkan China akan menurunkan tarif pada biji kanola (canola seed) menjadi sekitar 15% mulai 1 Maret mendatang sebagai imbalan atas akses pasar EV tersebut.
Perwakilan Perdagangan AS (USTR), Jamieson Greer, menyebut keputusan Kanada itu “problematis”. Meski meyakini jumlah kendaraan yang terbatas tidak akan mengganggu ekspor mobil AS ke Kanada, Greer memastikan mobil-mobil China tidak akan melintasi perbatasan ke selatan.
“Mobil-mobil itu pergi ke Kanada dan mereka tidak akan datang ke sini (AS). Ada alasan mengapa kami tidak menjual banyak mobil China di AS. Itu karena kami memiliki tarif untuk melindungi pekerja otomotif dan warga Amerika,” tegas Greer.
Selain persoalan tarif, Greer menyoroti aturan siber yang diadopsi pada Januari 2025 terkait kendaraan yang terkoneksi internet dan sistem navigasi. Menurutnya, hal itu membuat produk EV China sulit memenuhi standar, sehingga makin sulit untuk melaju di jalanan AS.
“Ada peraturan di Amerika mengenai keamanan siber kendaraan kami dan sistem di dalamnya. Saya pikir akan sulit bagi pihak China untuk mematuhi aturan semacam itu,” tambah Greer. (CNBC Indonesia)









































