KENDARINEWS.COM–Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Aceh Tamiang, Kecamatan Karang Baru, Provinsi Aceh, masih menghadapi tantangan serius dalam pelayanan bedah lantaran keterbatasan ruang rawat inap pascaoperasi. Beberapa ruang rawat inap belum sepenuhnya layak digunakan karena masih berdebu, sehingga berisiko meningkatkan infeksi pada pasien pascaoperasi.
Menurut dr. Surya Martua Harahap, Sp.B, dokter bedah di RSUD Aceh Tamiang, operasi besar seperti laparotomi saat ini dibatasi. “Ngapain dipaksain kalau belum layak? Kecuali kamar rawat sudah terbuka, jangan di UGD. Operasi bukan cuma kamar operasi, tapi juga proses pemulihan,” jelas dr. Surya pada Minggu (28/12/2025). Laparotomi adalah prosedur bedah besar di area perut yang membutuhkan ruang rawat pascaoperasi yang bersih agar pasien tidak mengalami komplikasi.
Sejak rumah sakit kembali dibuka secara bertahap pada 9 Desember 2025, Unit Gawat Darurat (UGD) menjadi ruangan pertama yang siap melayani pasien. Namun, keterbatasan ruang rawat inap membuat pasien pascaoperasi harus ditempatkan sementara di UGD, di tengah kondisi ruangan yang masih berdebu, yang dikutip dari KOMPAS.com.
Meski begitu, operasi untuk kasus tertentu seperti patah tulang atau luka bernanah akibat diabetes tetap bisa dilakukan, karena peralatan dasar operasi tersedia. Untuk operasi yang membutuhkan perawatan intensif, pasien lebih dianjurkan dirujuk ke rumah sakit lain.
Selain ruang rawat inap, kendala lain yang dihadapi tim medis termasuk minimnya ketersediaan baju khusus operasi, di mana donasi sebelumnya belum ditemukan, serta keterbatasan alat X-Ray. dr. Surya berharap proses pembersihan rumah sakit dapat dipercepat agar semua ruang rawat inap bisa digunakan, sehingga pasien tidak menumpuk dan pelayanan bedah bisa berjalan normal kembali.(*)









































