Skandal Artefak Museum Nanjing Guncang China

KENDARINEWS.COM — Otoritas China tengah menyelidiki dugaan pencurian dan penjualan ilegal artefak budaya dalam skala besar di Museum Nanjing, salah satu institusi kebudayaan paling bergengsi di negara tersebut. Kasus ini mencuat setelah muncul indikasi keterlibatan staf internal dalam menjual harta nasional ke pasar seni secara diam-diam.

Skandal tersebut menjadi perhatian luas publik karena skalanya dinilai luar biasa. Sejumlah warganet bahkan menyebut kasus ini membuat pencurian di Museum Louvre, Paris, tampak sepele, sebagaimana dilaporkan South China Morning Post (SCMP), Selasa (23/12/2025).

Kasus bermula ketika sebuah lukisan abad ke-16 berjudul Spring in Jiangnan karya maestro Dinasti Ming, Qiu Ying, muncul dalam katalog rumah lelang di Beijing pada Mei 2025. Padahal, lukisan tersebut tercatat sebagai bagian dari koleksi negara dan ditaksir bernilai sekitar 88 juta yuan atau setara Rp 209 miliar.

Karya itu merupakan bagian dari 137 lukisan yang disumbangkan keluarga kolektor ternama Pang Laichen pada 1959. Tahun lalu, lukisan tersebut juga sempat menjadi objek gugatan hukum oleh keturunannya. Dalam proses persidangan, lima karya dari koleksi sumbangan itu dinyatakan hilang.

Cicit Pang Laichen, Pang Shuling, kemudian melaporkan kasus tersebut kepada aparat berwenang dan menuntut klarifikasi resmi dari pihak museum. Penjualan lukisan di rumah lelang akhirnya dibatalkan setelah keluarga Pang melayangkan protes keras.

Pekan lalu, Museum Nanjing menyatakan kepada kantor berita Xinhua bahwa lukisan tersebut dan empat karya lainnya telah dinyatakan sebagai tiruan dalam proses verifikasi pada 1961 dan 1964, sehingga dikeluarkan dari koleksi resmi.

Menurut klaim museum, karya tersebut dikeluarkan dari inventaris pada 1997, dipindahkan ke toko peninggalan budaya tingkat provinsi, lalu dijual seharga 6.800 yuan pada 2001 kepada pembeli yang tidak diketahui. Namun, pihak museum tidak dapat menjelaskan bagaimana karya tersebut kemudian muncul kembali di pasar lelang dengan nilai puluhan juta yuan.

Pang Shuling menyoroti kejanggalan dokumen serta minimnya komunikasi dengan keluarga penyumbang. Dalam wawancara dengan Caixin, ia menuntut pengembalian lima karya yang disebut sebagai tiruan, serta dua karya lain, dengan alasan pelanggaran kepercayaan dan pengelolaan koleksi yang tidak semestinya.

“Kasus ini menunjukkan adanya celah serius dalam sistem pengawasan koleksi museum,” ujar Pang. Ia juga mendesak pemerintah memperbaiki tata kelola museum agar koleksi publik benar-benar dilindungi dan dapat diakses secara adil.

Kepercayaan publik semakin tergerus setelah mantan Direktur Museum Nanjing, Xu Huping, ikut terseret dalam pusaran dugaan penyelundupan artefak. Xu yang kini berusia 82 tahun membantah terlibat dan mengaku tidak mengetahui penjualan lukisan tersebut.

Situasi memanas pada Minggu (21/12/2025) ketika Guo Lidian, pensiunan pegawai museum berusia 80 tahun, menuduh Xu sebagai dalang pencurian dan penyelundupan harta nasional. Dalam sebuah pernyataan video, Guo mengklaim Xu pernah membuka secara ilegal peti-peti berisi lebih dari 100.000 artefak Istana Kekaisaran yang disimpan di Nanjing sejak Perang Dunia II.

Guo juga menuduh adanya manipulasi autentikasi, yakni dengan melabeli karya asli sebagai replika, menjualnya murah ke toko provinsi yang diawasi Xu, lalu memperdagangkannya kembali ke dalam dan luar negeri. Menurut Guo, lebih dari 40 pegawai museum telah melaporkan dugaan tersebut sejak Xu pensiun pada 2008, namun tidak pernah ditindaklanjuti.

Hingga kini, Xu belum memberikan tanggapan atas tuduhan tersebut. Kasus ini terus viral di media sosial dan memicu kekhawatiran luas mengenai perlindungan harta budaya nasional, di tengah ambisi China membangun citra sebagai kekuatan adidaya kebudayaan. (kompas.com)

Tinggalkan Balasan