KENDARINEWS.COM — Laporan terbaru Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) mengungkapkan bahwa China diduga telah menyiapkan lebih dari 100 rudal balistik antarbenua (intercontinental ballistic missile/ICBM). Rudal-rudal tersebut dilaporkan berbahan bakar padat dan ditempatkan di ladang silo dekat perbatasan China dengan Mongolia.
Dalam laporan yang dikutip dari Reuters, Pentagon juga menilai Beijing tidak menunjukkan minat untuk terlibat dalam pembicaraan pengendalian senjata nuklir. “Kami terus melihat tidak ada keinginan dari Beijing untuk mengejar langkah-langkah tersebut atau diskusi pengendalian senjata yang lebih komprehensif,” bunyi laporan itu.
Sebelumnya, Pentagon memang telah melaporkan keberadaan ladang silo tersebut, namun belum pernah mengungkapkan estimasi jumlah rudal yang dimuat. Dalam draf laporan terbaru ini, target potensial dari rudal-rudal tersebut juga tidak diidentifikasi. Para pejabat AS menegaskan isi laporan masih dapat berubah sebelum diserahkan kepada anggota parlemen.
Menanggapi temuan tersebut, pemerintah China menilai laporan Pentagon sebagai upaya mencemarkan nama baik dan menyesatkan komunitas internasional. Beijing menegaskan peningkatan kemampuan militernya bersifat defensif.
Pentagon mencatat bahwa jumlah hulu ledak nuklir China berada di kisaran 600-an pada 2024. Angka ini mencerminkan laju produksi yang lebih lambat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Meski demikian, ekspansi kekuatan nuklir China disebut tetap berlanjut dan berada di jalur untuk mencapai lebih dari 1.000 hulu ledak pada 2030.
China sendiri berulang kali menyatakan menganut kebijakan nuklir defensif dan berkomitmen tidak akan menggunakan senjata nuklir terlebih dahulu.
Selain isu nuklir, laporan Pentagon juga menyoroti peningkatan kesiapan militer China terkait Taiwan. Dalam dokumen tersebut disebutkan bahwa Beijing berharap dapat “berperang dan memenangkan perang di Taiwan pada akhir 2027”.
China dinilai terus menyempurnakan opsi militernya untuk merebut Taiwan dengan kekuatan, termasuk kemungkinan melancarkan serangan pada jarak 1.500 hingga 2.000 mil laut dari wilayahnya.
“Jika dilakukan dalam jumlah yang cukup besar, serangan-serangan ini dapat secara serius menantang dan mengganggu kehadiran AS di dalam atau di sekitar konflik di kawasan Asia-Pasifik,” tulis laporan Pentagon. (kompas.com)









































