PMI Aceh Utara Kekurangan Ambulans di Tengah Operasi Pencarian Korban Banjir

KENDARINEWS.COM-Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Aceh Utara terus melakukan operasi kemanusiaan untuk membantu korban banjir yang melanda wilayah tersebut sejak 27 November 2025. Operasi ini mencakup pencarian jenazah korban, layanan kesehatan, serta distribusi bantuan bahan pangan dan air bersih bagi para pengungsi.

Koordinator Posko PMI Aceh Utara, Muhammad Attar, mengungkapkan bahwa proses pencarian jenazah menghadapi kendala serius akibat kondisi ambulans yang rusak. Saat ini, PMI Aceh Utara hanya memiliki satu unit ambulans yang tetap dipaksakan beroperasi meski tidak dalam kondisi optimal.

“Kita punya satu ambulans yang selama ini kita operasikan, sekarang kondisinya rusak. Meski rusak, tetap kita paksa untuk digunakan,” ujar Attar, Rabu (17/12/2025), yang dilansir dari KOMPAS.com.

Meski demikian, Attar memastikan bahwa kegiatan kemanusiaan lainnya tetap berjalan. Distribusi bahan pangan, pelayanan kesehatan, dan penyediaan air bersih masih terus dilakukan secara berkala ke seluruh wilayah terdampak banjir.

Hingga saat ini, lebih dari 2.500 warga telah menerima manfaat dari bantuan PMI Aceh Utara. Attar juga mengimbau masyarakat dan lembaga kemanusiaan lainnya untuk menyalurkan bantuan melalui Posko Utama PMI Aceh Utara yang berlokasi di samping Terminal Bus Lhokseumawe.

“Semua bantuan yang masuk langsung kita distribusikan hari itu juga ke pengungsi agar tidak terjadi penumpukan di posko,” jelasnya.

PMI Aceh Utara juga berharap adanya dukungan ambulans dari lembaga lain guna mempercepat proses pencarian korban banjir yang masih hilang. “Jika ada dukungan ambulans, tentu akan sangat membantu mempercepat evakuasi dan pencarian korban,” tambah Attar.

Berdasarkan data terbaru, sebanyak 71.637 warga terpaksa mengungsi dan tersebar di 226 titik pengungsian. Relawan PMI, Ayahwa, menyebutkan bahwa stok bahan pangan masih mencukupi untuk beberapa hari ke depan dan terus disalurkan secara berjenjang dari tingkat kecamatan hingga desa.

Sementara itu, dampak banjir juga menyebabkan kerusakan parah pada sektor pertanian dan infrastruktur irigasi. Sebanyak 12 daerah irigasi utama dan delapan irigasi tersier dilaporkan rusak. Selain itu, sekitar 14.509 hektar lahan sawah tertutup lumpur setinggi satu hingga dua meter dan tidak dapat digunakan kembali.

Dalam bencana ini, tercatat 1.111 orang terdampak langsung, dengan 163 orang dinyatakan meninggal dunia, sementara enam orang lainnya masih dalam proses pencarian.(*)

Tinggalkan Balasan