-Hingga April, Prevalensi 5,02 Persen
KENDARINEWS.COM — Tengkes (stunting) bisa menjadi ancaman bonus demografi. Tidak mengherankan, penyakit gagal tumbuh ini masuk program prioritas nasional, tak terkecuali Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kolaka Utara (Kolut). Hingga April 2023, sebanyak 399 Balita di Bumi Patowonua, terindentifikasi menderita tengkes. Atas dasar itulah, Pj Bupati Kolut Parinringi melakukan intervensi dengan melibatkan lintas sektor dalam penanganannya.
Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan (Dinkes) Kolut, Harvey, mengatakan leading sektor penanganan stunting tahun ini tak lagi menjadi domain pihaknya, namun telah diserahkan ke Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Disdakluk-KB). Namun bukan berarti Dinkes lepas tangan, justru semakin masif melakukan intervensi. Apalagi Pemkab Kolut telah membentuk Satuan Tugas (Satgas) khusus menangani tengkes.
“Kegiatan kita hari ini (kemarin), tak lain merupakan tindak lanjut arahan bupati. Dari hasil rapat bersama, bupati meminta lintas sektor melakukan audit stunting. Tidak hanya mendata, namun juga penanganan Balita penderita. Bersama Kepala Puskesmas, staf didampingi Babinsa dan Babinkamtibmas dan perangkat kecamatan turun melakukan pemeriksaan dan identifikasi,” kata Harvey saat audit tengkes di Desa Samaturu, Kecamatan Watunohu, Rabu (10/5).
Sebagai bagian dari Satgas Percepatan Penurunan Stunting, Dinkes mendapat tugas mencegah, mengidentifikasi dan menangani pasien agar benar-benar sembuh. Upaya pencegahan tak hanya bagi ibu hamil atau Balita, namun juga pasangan yang akan menikah. Bagi calon pengantin akan diedukasi dan pembinaan agar kelak anaknya terhindar dari tengkes. “Kami berupaya memaksimalkan peran Puskesmas. Bagaimana kondisi balita stunting dapat tertangani dengan baik. Mulai obat-obatan dan layanan kesehatan. Kalau urusan makanan, gizin hingga suplemen tambahan untuk domain OPD lain. Dari belasan OPD, Pak Bupati telah membagi masing-masing tugas,” jelasnya.
Tahun 2023 ini kata dia, sebanyak 10.972 balita yang menjadi sasaran. Berdasarkan data elektronik pencatatan dan pelaporan gizi berbasis masyarakat (e-PPGBM) Kementerian Kesehatan (Kemenkes), jumlah Balita yang telah diukur tinggi badan sebanyak 7.950 jiwa. Dari hasil pemeriksaan, 399 diantaranya menderita tengkes. Tingkat prevalensi stunting hingga April 2023 berada pada angka 5,02 persen. Tahun 2022 lalu, tingkat prevalensi stunting 5,56 persen.
“Sebagai bentuk keseriusan, Pak Bupati melakukan inovasi penanganan stunting khususnya di Kecamatan Kodeoha dengan melibatkan 16 OPD. Balita stunting diintervensi langsung OPD dengan pemberian vitamin, makan bergizi sesuai petunjuk tim dokter spesialis yang juga tim pakar penanganan stunting di Kolut. Harapannya, project di Kodeoha ini bisa menjadi role model dalam penanganan stunting di kecamatan lainnya,” pungkasnya. (mal)
