Festival Jurnalistik Art & Stories 2025 Sukses Digelar Mahasiswa Jurnalistik UHO

KENDARINEWS.COM- – Mahasiswa Prodi Jurnalistik Fisip Universitas Halu Oleo (UHO) kembali sukses menyelenggarakan acara tahunan “Jurnalistik Art & Stories Festival 2025” di Taman Budaya Kota Kendari. Kegiatan yang berlangsung pada 17 hingga 18 Januari 2025 ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memamerkan karya kreatif mereka dalam bidang film dan sinematografi.

Kaprodi Jurnalistik Fisip UHO, Marsia Sumule G., menyampaikan bahwa festival yang sudah memasuki tahun kedua ini menunjukkan dedikasi tinggi mahasiswa dalam mengembangkan potensi diri di bidang media audiovisual. “Mereka menjalani seluruh proses produksi film dengan penuh keseriusan, mulai dari konsep hingga penyunting. Bukan hanya sebagai tugas akademik, tetapi sebagai bentuk ekspresi kreatif untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, di era digital saat ini, mahasiswa menyadari peran penting media visual dalam membentuk pandangan masyarakat. “Festival ini menjadi bukti bahwa calon profesional jurnalistik dari UHO siap beradaptasi dengan perkembangan industri dan mampu menghasilkan karya yang relevan serta bernilai bagi khalayak luas,” tambahnya.

Dosen Pembimbing Mata Kuliah Film dan Sinematografi, Trisusilo Raharjo, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan wujud aktualisasi pembelajaran yang tidak hanya berhenti pada tugas kuliah. “Kami ingin karya-karya mahasiswa bisa hidup dan dinikmati publik, bukan hanya tersimpan di perangkat elektronik. Oleh karena itu, kami menyusun rangkaian acara yang meliputi berbagai bentuk seni,” katanya.

Pada tahun ini, festival mengusung tema “Sultra for Everyone” yang mengajak mahasiswa untuk menggali cerita-cerita yang merepresentasikan identitas Sulawesi Tenggara dari berbagai aspek kehidupan masyarakat. Rangkaian acara dimulai dengan pameran foto pada 17 Januari, diikuti dengan pementasan tari, talkshow film, dan pemutaran film sebagai acara puncak pada 18 Januari.

Sebanyak 9 film dari 9 kelompok mahasiswa dari 3 kelas ditayangkan dalam festival ini, dengan genre yang beragam mulai dari fiksi, horor, hingga komedi, semuanya tetap mengacu pada tema yang telah ditentukan.

“Kami berharap melalui festival ini, mahasiswa semakin percaya diri dan mampu menangkap isu-isu sosial serta budaya yang ada di sekitar kita. Ini sejalan dengan tujuan kami dalam menyiapkan lulusan yang kompeten dan sesuai dengan kebutuhan zaman,” pungkas Trisusilo Raharjo.

Sebelumnya, pada penyelenggaraan pertama tahun lalu, festival mengangkat tema tentang kota dan kehidupan sekitar Kendari.(win)