KENDARINEWS.COM — Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra) menggelar Jambore Tangguh Bencana di Kebun Raya Kendari. Kegiatan dimulai, Jumat 21 November 2025.
Kegiatan ini melibatkan seluruh BPBD Kabupaten/Kota di Sultra, serta berbagai stakeholder terkait. Acara ini akan berlangsung hingga Senin, 24 November 2025. Beragam agenda kegiatan dirancang, untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi bencana.
Kepala Pelaksana BPBD Sultra melalui Kabid Pencegahan dan Kesiap Siagaan BPBD Sultra, Tira L menyampaikan, kegiatan ini merupakan bagian dari upaya untuk memperkuat jaringan penanggulangan bencana di tingkat provinsi hingga kabupaten/kota.
“Jambore Penanggulangan Bencana melibatkan semua stakeholder terkait. Kami akan mengadakan registrasi peserta hari ini (kemarin) dan besok pagi (hari ini) akan diadakan pembukaan resmi,” ujar Tira.
Selain pembukaan, acara ini juga akan diisi dengan pelatihan penanggulangan bencana yang mencakup teori dan praktek. Pada hari Senin, 24 November, akan diadakan simulasi bencana tsunami, yang merupakan bagian dari apel siaga yang diikuti oleh seluruh peserta.
“Simulasi ini akan menguji kesiapsiagaan kita dalam menghadapi bencana. Peserta akan diberi pelatihan, baik materi teori maupun prakteknya. Setelah apel siaga, simulasi akan dilaksanakan untuk menguji penerapan teori yang sudah diajarkan selama kegiatan ini,” jelasnya.
Sebagai bagian dari kegiatan ini, BPBD melibatkan berbagai stakeholder lainnya, termasuk TNI, BASARNAS, BMKG, Dinas Sosial, serta Kepolisian, untuk memperkuat sinergi antarinstansi dalam menghadapi potensi bencana.
“Kita semua harus siap siaga. Bencana itu datangnya tidak terduga. Jadi kita perlu mempersiapkan diri dengan baik,” tegasnya.
Selain pelatihan penanggulangan bencana, kegiatan ini juga menyediakan pemeriksaan kesehatan bagi peserta. dr. Asma Yanti Asrum, Penanggung Jawab Kesehatan Jambore Tangguh Bencana menjelaskan, pemeriksaan kesehatan dilakukan dengan mengecek tanda-tanda vital peserta, seperti tekanan darah, denyut nadi, pernafasan, dan suhu tubuh.
“Kami memeriksa secara umum kondisi kesehatan peserta, seperti tekanan darah tinggi. Jika ditemukan kelainan, kami memberikan obat sesuai dengan kebutuhan,” kata dr. Asma.
Menurutnya, sebagian besar peserta yang diperiksa menunjukkan tanda-tanda hipertensi, yang segera diberi penanganan medis.
“Kami memberikan obat hipertensi sementara untuk menjaga kondisi peserta, sehingga tidak terjadi hal yang lebih fatal. Kami juga menyiapkan ambulans untuk penanganan kegawatdaruratan,” imbuhnya.
