KENDARINEWS.com – Tahun 2026 diproyeksikan menjadi momentum strategis bagi sektor properti nasional di tengah keterbatasan pasokan dan perubahan gaya hidup urban yang semakin dinamis. Laporan prospek pasar terbaru CBRE Indonesia yang dipaparkan dalam Media Briefing pada 11 Februari 2026 menunjukkan optimisme terukur, seiring stabilnya pertumbuhan ekonomi Indonesia di angka 5,11 persen sepanjang 2025.
Pulau Jawa masih mendominasi kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) nasional sebesar 56,93 persen, dengan Jakarta tetap menjadi pusat gravitasi sektor perkantoran, ritel, dan logistik modern. Namun, lanskap properti kini tidak lagi hanya soal ekspansi luas bangunan, melainkan efisiensi ruang, integrasi teknologi, serta ketahanan menghadapi dinamika ekonomi global.
Di sektor perkantoran, khususnya Kawasan Bisnis Terpadu (CBD) Jakarta, terjadi fenomena “flight to quality”. Tingkat okupansi diperkirakan meningkat seiring ekspansi korporasi yang kembali menerapkan pola kerja hibrida. Namun, tekanan terhadap harga sewa diproyeksikan lebih stabil karena pasokan gedung baru sangat terbatas dalam waktu dekat.
Managing Director CBRE Advisory Indonesia, Angle Wibawa, menegaskan bahwa prioritas penyewa telah berubah secara permanen. Permintaan tetap ada, tetapi dengan standar yang jauh lebih tinggi terhadap fasilitas, efisiensi ruang, serta keberlanjutan. Gedung kelas premium (Grade A) dengan sertifikasi hijau (green building) dan infrastruktur digital kini menjadi pilihan utama perusahaan.
“Permintaan dari ekspansi korporasi akan mendukung sektor perkantoran, namun dengan standar yang jauh lebih tinggi terkait fasilitas dan efisiensi ruang,” ujarnya. dikutip dari KOMPAS.com
Kondisi ini diperkirakan memperlebar kesenjangan performa antara gedung modern dengan properti lama yang belum melakukan pembaruan. Gedung yang gagal beradaptasi berpotensi kehilangan daya saing di tengah tuntutan efisiensi dan agenda sustainability korporasi global.
Sementara itu, sektor ritel memasuki babak baru berbasis pengalaman (experience-driven retail). Pusat perbelanjaan di Jakarta kini bertransformasi menjadi ruang sosial dan gaya hidup, bukan sekadar tempat transaksi. Konsep mixed-use development, integrasi hiburan, kuliner premium, hingga ruang komunitas menjadi strategi untuk menjaga tingkat kunjungan dan okupansi tenant.
Dengan pasokan baru yang terbatas di sejumlah segmen, 2026 dinilai menjadi momentum investasi yang menarik, terutama bagi aset berkualitas tinggi yang mampu memenuhi standar keberlanjutan dan digitalisasi. Di tengah kelangkaan suplai, aset unggulan justru berpotensi mencatatkan performa lebih solid.
Tahun 2026 pun dipandang bukan sekadar fase pemulihan, melainkan era redefinisi nilai properti di bawah bayang-bayang Ekonomi Baru—di mana kualitas, efisiensi, dan pengalaman menjadi kunci utama.(Ris)
