Plt Rektor UHO: Raker 2026 Jadi Wadah Evaluasi Terbuka, Skema Reward-Punishment Moral Diterapkan

KENDARINEWS.COM- – Plt Rektor Universitas Halu Oleo (UHO), Dr. Herman, S.H., LL.M menegaskan bahwa Rapat Kerja (Raker) Tahun 2026 yang tengah berlangsung menjadi ruang strategis untuk mengevaluasi kinerja seluruh pimpinan unit secara terbuka, mulai dari capaian program tahun sebelumnya hingga analisis target yang belum tercapai beserta solusi perbaikan ke depannya.

“Raker yang dilaksanakan saat ini merupakan bagian dari upaya memberikan ruang kepada pimpinan unit untuk mempresentasikan kinerjanya, termasuk capaian yang telah diraih. Dari capaian tersebut, juga disampaikan target-target yang belum tercapai, penyebabnya, serta rencana ke depan serta target yang akan dicapai. Itulah esensi utama dari pelaksanaan Raker ini,” ujarnya dalam sambutan pada sesi kedua Raker UHO, Selasa (13/1/2026).

Menurut Dr. Herman, mekanisme presentasi langsung ini menjadi langkah baru, mengingat sebelumnya pimpinan unit hanya diberikan target tanpa kesempatan untuk memaparkan secara rinci capaian dan kendala yang dihadapi. “Melalui mekanisme ini, kita dapat mengetahui secara lebih jelas apa saja permasalahan yang dihadapi, sekaligus strategi atau kiat yang akan dilakukan untuk mengantisipasi dan menyelesaikan permasalahan tersebut,” jelasnya.

Dalam pemaparan yang telah dilakukan oleh beberapa dekan dan kepala unit terkait, ditemukan sejumlah program yang masih berada pada kategori merah atau belum mencapai target yang ditetapkan. “Hal ini tentu menjadi bahan evaluasi bersama. Oleh karena itu, setiap presentasi perlu ditindaklanjuti dengan pertanyaan mendasar, seperti apa masalahnya dan mengapa target tertentu tidak dapat dicapai,” ungkap Plt Rektor.

Ia menambahkan bahwa para pimpinan unit telah menyampaikan berbagai alasan dan kendala yang beragam, mulai dari keterbatasan sumber daya manusia, anggaran, hingga tantangan teknis dalam pelaksanaan program. “Saya menilai bahwa ke depan mereka telah menyiapkan langkah-langkah mitigasi yang lebih baik, sehingga diharapkan kondisi serupa tidak terulang dan tidak ada lagi program yang berada pada kategori merah,” tegasnya.

Dalam hal tindak lanjut evaluasi, UHO saat ini menerapkan mekanisme reward berupa tambahan anggaran berdasarkan peringkat kinerja unit. Sementara untuk punishment, pihaknya lebih memilih mengumumkan peringkat kinerja sebagai bentuk punishment moral.

“Pengumuman peringkat tersebut pada dasarnya sudah menjadi bentuk punishment moral, karena unit yang berada di peringkat bawah tentu akan terpacu untuk meningkatkan kinerjanya tanpa harus diberikan sanksi secara langsung,” jelas Dr. Herman.

Adapun besaran tambahan anggaran yang diberikan adalah:

  • Peringkat pertama: Rp 500 juta
  • Peringkat kedua: Rp 400 juta
  • Peringkat ketiga: Rp 300 juta
  • Peringkat keempat: Rp