Trump Peringatkan Iran: AS Siap Bertindak Jika Korban Bertambah

KENDARINEWS.COM– Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memperingatkan Iran akan menghadapi serangan keras dari AS jika jumlah korban tewas dalam aksi demonstrasi di negara tersebut bertambah. Peringatan itu disampaikan di tengah unjuk rasa besar-besaran yang memprotes kesulitan ekonomi dan krisis biaya hidup di Iran, yang kini memasuki minggu kedua.

“Kami mengawasinya dengan sangat cermat. Jika mereka mulai membunuh orang-orang seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, saya pikir mereka akan dihantam sangat keras oleh Amerika Serikat,” kata Trump, seperti dilansir AFP, Senin (5/1/2026).

Pernyataan tersebut disampaikan Trump saat berbicara kepada wartawan di dalam pesawat kepresidenan Air Force One pada Minggu (4/1) waktu setempat. Trump menegaskan bahwa Washington memantau perkembangan unjuk rasa di Iran dengan serius.

Aksi protes di Iran bermula pada 28 Desember lalu di Grand Bazaar Teheran, pusat aktivitas bisnis lokal. Unjuk rasa kemudian menyebar ke berbagai wilayah lain, dipicu kemarahan para pedagang dan pemilik toko terhadap kondisi ekonomi yang memburuk serta ketidakstabilan harga kebutuhan pokok.

Di sejumlah daerah, aksi demonstrasi dilaporkan berubah menjadi kerusuhan. Otoritas Teheran menuding adanya campur tangan “kekuatan eksternal” yang menghasut demonstran damai hingga berujung pada tindak kekerasan.

Berdasarkan laporan resmi pemerintah Iran, sedikitnya 12 orang tewas selama rangkaian unjuk rasa berlangsung. Sejumlah korban di antaranya merupakan anggota pasukan keamanan Iran.

Gelombang protes ini disebut sebagai yang paling signifikan sejak aksi demonstrasi besar pada 2022–2023 lalu, yang dipicu oleh kematian Mahsa Amini, seorang perempuan muda yang meninggal dunia saat berada dalam tahanan polisi setelah ditangkap karena dugaan pelanggaran aturan berpakaian.

Sebelumnya, pada 2 Januari lalu, Trump juga melontarkan ancaman serupa dengan menyatakan AS akan “datang menyelamatkan” para demonstran Iran jika aparat keamanan bertindak brutal terhadap massa aksi.

Pernyataan Trump tersebut menuai kecaman dari pemerintah Iran. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut ancaman itu sebagai pernyataan yang “ceroboh dan berbahaya”, serta menilai langkah AS sebagai bentuk intervensi terhadap urusan dalam negeri Iran.(Detik.Com)