KENDARINEWS.COM — Pasar Asia-Pasifik memulai pekan perdagangan penuh pertama pada tahun 2026 dengan catatan menguat. Penguatan ini terjadi setelah Amerika Serikat melancarkan serangan ke Venezuela dan menangkap Presiden Nicolas Maduro pada akhir pekan lalu. Meski demikian, harga minyak justru bergerak melemah seiring pelaku pasar mempertimbangkan potensi dampak ketegangan geopolitik terhadap pasokan energi global.
Dikutip dari CNBC Indonesia, Otoritas Amerika Serikat menyatakan bahwa Presiden Venezuela Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, telah diterbangkan ke New York usai operasi tersebut. Keduanya didakwa dengan sejumlah tuduhan, termasuk konspirasi terorisme narkoba dan berbagai kejahatan lainnya. Dalam dakwaan itu disebutkan bahwa perdagangan narkoba telah “memperkaya dan memperkuat elit politik serta militer Venezuela.”
Harga minyak bergerak turun setelah eskalasi yang melibatkan negara kaya minyak tersebut. Harga minyak mentah Brent sempat merosot lebih dari 1% sebelum memangkas kerugian, dan terakhir diperdagangkan melemah 0,25%. Sementara itu, harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) tercatat turun 0,4%.
Venezuela merupakan salah satu negara pendiri Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan memiliki cadangan minyak mentah terbukti terbesar di dunia. Menurut data Badan Informasi Energi Amerika Serikat, cadangan minyak mentah Venezuela mencapai 303 miliar barel atau sekitar 17% dari total cadangan global.
Di sisi lain, harga emas spot justru melonjak lebih dari 1% dan diperdagangkan di level US$4.383,99, mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian geopolitik.
Di pasar saham Asia, indeks acuan Nikkei 225 Jepang melonjak 2,26% pada sesi perdagangan pertamanya di tahun ini. Indeks Topix juga menguat 1,42% dan mencetak rekor tertinggi baru. Saham-saham sektor pertahanan menjadi salah satu penggerak utama kenaikan, dengan Kawasaki Heavy Industries dan Mitsubishi Heavy Industries masing-masing melonjak 5,7% dan 6,4%.
Pasar Korea Selatan juga mencatatkan kinerja kuat. Indeks Kospi naik 2,19% ke level tertinggi sepanjang masa di 4.420,92, sementara indeks Kosdaq yang berisi saham-saham berkapitalisasi kecil bertambah 0,2%. Saham perusahaan pertahanan besar Hanwha Aerospace melonjak hingga 4%, sedangkan Poongsan diperdagangkan menguat sekitar 3%.
Sementara itu, indeks ASX/S&P 200 Australia bergerak relatif datar pada awal perdagangan. Di Hong Kong, indeks Hang Seng diperkirakan akan dibuka lebih tinggi, dengan kontrak berjangka diperdagangkan di level 26.442, dibandingkan penutupan sebelumnya di 26.338,47.
Kontrak berjangka ekuitas Amerika Serikat tercatat stabil pada jam-jam awal perdagangan Asia. Sebelumnya, pada Jumat di Amerika Serikat yang menjadi hari perdagangan pertama tahun 2026, pasar saham Wall Street ditutup bervariasi.
Indeks S&P 500 ditutup sedikit lebih tinggi berkat kenaikan saham-saham semikonduktor yang membantu menopang indeks. S&P 500 naik 0,19% dan berakhir di level 6.858,47. Sementara itu, Nasdaq Composite turun tipis 0,03% menjadi 23.235,63. Kedua indeks tersebut sempat mencatat tren positif yang solid di awal sesi, dengan S&P 500 dan Nasdaq yang didominasi saham teknologi masing-masing sempat menguat hingga 0,7% dan 1,5% di level tertingginya.
Adapun indeks Dow Jones Industrial Average mencatatkan kenaikan signifikan, naik 319,10 poin atau 0,66%, dan ditutup pada level 48.382,39.
