KENDARINEWS.COM — Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan bahwa AS telah melakukan “serangan besar-besaran terhadap Venezuela” dan berhasil menangkap Presiden Nicolás Maduro beserta istrinya. Pernyataan itu disampaikan Trump melalui media sosial dan dilansir CNN.
“Amerika Serikat telah berhasil melakukan serangan besar-besaran terhadap Venezuela dan pemimpinnya, Presiden Nicolás Maduro, yang telah ditangkap bersama istrinya dan diterbangkan keluar negeri,” ujar Trump. Ia menambahkan bahwa operasi ini dilakukan bekerja sama dengan penegak hukum AS dan bahwa rincian lebih lanjut akan disampaikan dalam konferensi pers di Mar-a-Lago pada pukul 11 pagi waktu setempat.
Maduro sebelumnya didakwa di pengadilan Amerika atas tuduhan terorisme narkoba pada tahun 2020. CBS News melaporkan bahwa Presiden Venezuela ditangkap pada Sabtu pagi oleh anggota Pasukan Delta, unit misi khusus terbaik militer AS. Pasukan Delta sebelumnya dikenal karena terlibat dalam misi tahun 2019 yang menewaskan mantan pemimpin ISIS, Abu Bakr al-Baghdadi.
Menanggapi serangan tersebut, Menteri Pertahanan Venezuela, Vladimir Padrino López, mengumumkan pengerahan pasukan militer di seluruh negeri melalui sebuah video yang diunggah ke media sosial pada Sabtu pagi. Ia menyerukan pembentukan front perlawanan bersatu menghadapi “agresi terburuk” yang pernah dialami Venezuela. Padrino López menegaskan bahwa seluruh angkatan bersenjata akan dikerahkan mengikuti “perintah Maduro,” meski ia tidak menyebutkan penangkapan Presiden Maduro yang dilaporkan.
“Mereka telah menyerang kita tetapi mereka tidak akan menundukkan kita,” kata Padrino López. Ia juga menyerukan ketenangan dan persatuan, serta memperingatkan terhadap anarki dan kekacauan, mengingatkan warga, “jangan sampai kita menyerah pada kepanikan yang ingin ditanamkan musuh.”
Sebelumnya, Padrino López menyebut serangan AS pada hari Sabtu berdampak pada daerah perkotaan di seluruh Venezuela melalui rudal dan roket yang ditembakkan dari helikopter tempur Amerika. Pemerintah Venezuela saat ini sedang mengumpulkan informasi terkait jumlah korban tewas dan terluka, serta mengonfirmasi bahwa instalasi militer Fort Tiuna di Caracas menjadi salah satu target serangan.
Padrino López menegaskan bahwa Venezuela akan menolak kehadiran pasukan asing di negaranya. “Invasi ini merupakan penghinaan terbesar yang pernah diderita negara ini,” tambahnya. (Sindonews)
