Intelijen NATO: Rusia Kembangkan Senjata Anti-Starlink

KENDARINEWS.COM — Intelijen dari dua negara anggota NATO melaporkan bahwa Rusia tengah mengembangkan senjata anti-satelit yang secara khusus menargetkan jaringan Starlink milik Elon Musk. Informasi tersebut diungkap dalam laporan yang dikutip The Independent, Selasa (23/12/2025).

Senjata yang dijuluki “zone effect” itu disebut dirancang untuk membanjiri orbit rendah Starlink dengan ratusan ribu pelet berdensitas tinggi. Metode ini berpotensi melumpuhkan banyak satelit sekaligus, sekaligus memicu risiko kerusakan besar terhadap sistem orbit lain di luar Starlink.

Menurut laporan intelijen tersebut, pengembangan senjata ini bertujuan mengekang keunggulan ruang angkasa Barat, yang selama ini dinilai berperan signifikan dalam mendukung Ukraina di medan perang.

Rusia memandang Starlink sebagai ancaman serius karena ribuan satelit orbit rendahnya menjadi tulang punggung komunikasi pasukan Ukraina, termasuk untuk koordinasi tempur dan penargetan senjata. Pejabat Rusia sebelumnya juga berulang kali memperingatkan bahwa satelit komersial yang membantu militer Ukraina dapat dianggap sebagai target sah.

Bulan ini, Moskwa mengumumkan pengerahan sistem rudal berbasis darat S-500 yang diklaim mampu menyerang target di orbit rendah. Berbeda dengan uji coba rudal anti-satelit pada 2021 yang menghancurkan satelit era Perang Dingin yang sudah tidak aktif, sistem baru yang dilaporkan tengah dikembangkan ini disebut mampu menargetkan beberapa satelit Starlink sekaligus.

Laporan itu menyebut, senjata “zone effect” kemungkinan akan menggunakan peluru yang dilepaskan oleh formasi satelit kecil yang hingga kini belum diluncurkan. Namun, belum ada informasi pasti mengenai jadwal pengembangan maupun peluncurannya.

Meski demikian, sejumlah analis meragukan kemungkinan Rusia benar-benar akan menggunakan senjata semacam itu. Mereka menilai, dampak puing-puing luar angkasa yang dihasilkan dapat memicu kekacauan orbit yang tak terkendali dan justru merugikan semua pihak, termasuk Rusia dan sekutunya, China, yang sama-sama bergantung pada ribuan satelit untuk komunikasi, pertahanan, dan kepentingan vital lainnya.

“Saya tidak percaya. Sungguh, saya tidak percaya,” kata spesialis keamanan ruang angkasa dari Secure World Foundation, Victoria Samson. Ia menilai langkah semacam itu akan sangat berisiko dan kontraproduktif.

Namun, Komandan Divisi Antariksa militer Kanada, Brigadir Jenderal Christopher Horner, menegaskan bahwa proyek tersebut tidak bisa sepenuhnya dikesampingkan. Ia mengingatkan bahwa Amerika Serikat sebelumnya telah menuduh Rusia mengembangkan senjata nuklir berbasis ruang angkasa.

“Saya tidak bisa mengatakan bahwa saya telah diberi pengarahan tentang sistem semacam itu, tetapi itu bukan hal yang mustahil,” ujar Horner.

Hingga kini, Kremlin belum memberikan tanggapan resmi. Juru Bicara Kremlin Dmitry Peskov belum menanggapi laporan intelijen tersebut. Rusia sebelumnya juga pernah menyerukan upaya di PBB untuk mencegah penempatan senjata di orbit, dan Presiden Vladimir Putin menegaskan Moskwa tidak berniat mengerahkan senjata nuklir di luar angkasa. (kompas.com)