KENDARINEWS.COM — Baru tiga bulan menakhodai Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Sulawesi Tenggara, Dr. dr. Junuda RAF, M.Kes., Sp.KJ., Subsp. PB(K), telah menghadirkan beragam perubahan signifikan. Tahun 2025 menjadi periode penting bagi RSJ Sultra dengan berbagai capaian strategis, mulai dari pembangunan gedung baru, penambahan dokter spesialis, hingga penguatan program psikiatri budaya yang kini menjadi ikon baru layanan kesehatan jiwa di Bumi Anoa.
Sebagai pemimpin baru, Junuda menegaskan komitmennya menjadikan RSJ Sultra sebagai pusat layanan kesehatan jiwa berstandar global. Upaya peningkatan mutu layanan terus dilakukan melalui optimalisasi fasilitas, pengembangan SDM, serta inovasi berbasis kearifan lokal.
Salah satu capaian utama pada 2025 adalah pembangunan gedung baru RSJ Sultra yang kini mulai dimanfaatkan meski belum sepenuhnya rampung. Pekerjaan lanjutan lantai tiga dan empat akan dilanjutkan pada 2026.
“Pembangunan gedung baru telah mulai dimanfaatkan meski belum rampung sepenuhnya. Pekerjaan lanjutan lantai 3 dan 4 akan dilanjutkan pada 2026,” kata Junuda.
Selain itu, Rumah Sakit Jiwa Sultra memperkuat kerja sama layanan, di antaranya kontrak baru bagi dokter spesialis jiwa serta kolaborasi rujukan dengan RS Kota Kendari dan Laboratorium Maksima.
RSJ Sultra juga mencatat kemajuan pada pembangunan Gedung Narkotika, Psikotropika, dan Zat Adiktif (Napza) yang kini mencapai 53 persen. Gedung tersebut dirancang menjadi pusat layanan terpadu penanganan penyalahgunaan zat seperti sabu dan ganja.
“Gedung ini dapat mendukung Kota Kendari kembali meraih kategori SLU-2,” ujarnya.
Saat ini, RSJ Sultra memiliki kapasitas 134 tempat tidur rawat inap psikiatri, 15 tempat tidur intensif psikiatri, serta 10 tempat tidur rawat inap non-psikiatri. Adapun jumlah tenaga kerja mencakup 190 PNS, 127 PPPK, 78 CPNS, dan 14 PPPK paruh waktu.
“Kemudian tambahan dokter spesialis dengan perjanjian kerja. Satu dokter spesialis kedokteran jiwa, satu dokter spesialis saraf, satu dokter spesialis konservasi gigi, dan dua dokter umum dengan perjanjian kerja,” jelasnya.
Tidak hanya fokus pada aspek fisik dan SDM, RSJ Sultra juga menghadirkan terobosan melalui program unggulan Pusat Psikiatri Budaya Sultra untuk Dunia. Program ini mengintegrasikan pendekatan medis modern dengan nilai budaya lokal, sehingga memberikan penanganan kesehatan jiwa yang lebih holistik dan humanis.
“Program tersebut terbukti mampu memberikan alternatif penanganan kesehatan jiwa secara holistik, humanis, dan sesuai karakter masyarakat Sultra,” kata Junuda.
Konsep psikiatri budaya dinilai relevan bagi masyarakat modern yang membutuhkan pendekatan lebih dekat dengan nilai lokal. Program ini juga menjadi momentum RSJ Sultra untuk tampil sebagai pionir nasional bahkan internasional.
“Program ini hanya ada di Sultra alias satu-satunya ada di sini,” tegasnya.
Memasuki tahun 2026, RSJ Sultra telah menyiapkan sejumlah program strategis, meliputi penyelesaian pembangunan gedung baru, pemenuhan syarat peningkatan strata layanan, serta penambahan dokter spesialis seperti psikiatri anak dan penyakit dalam. Selain itu, riset terkait psikiatri budaya akan diperkuat untuk mengokohkan posisi Sultra sebagai pusat inovasi kesehatan jiwa berbasis budaya.
“Program ini merupakan terobosan besar yang mendapat apresiasi luas. Tujuannya adalah menjadikan Sultra sebagai pusat inovasi psikiatri budaya berstandar global,” tuturnya.
Dengan berbagai capaian tersebut, RSJ Sultra kini menapaki transformasi besar menuju rumah sakit jiwa yang tidak hanya mumpuni secara klinis dan fasilitas, tetapi juga unggul dalam pendekatan budaya. Tahun-tahun mendatang diharapkan menjadi fase penting pengukuhan RSJ Sultra sebagai role model nasional dalam layanan kesehatan jiwa.
