KENDARINEWS.COM-Suasana jelang malam Tahun Baru 2026 di Surabaya tampak berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Lapak-lapak penjual kembang api yang biasanya ramai kini terlihat lengang. Penurunan penjualan dikaitkan dengan imbauan pemerintah untuk merayakan tahun baru secara sederhana serta kondisi ekonomi yang membuat masyarakat lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang.
Hani Ananda Prasetyo, penjual kembang api di Jalan Pasar Kembang, mengatakan bahwa omzetnya tahun ini turun hampir 50 persen dibandingkan tahun sebelumnya. “Beda jauh sekali. Tahun ini sepi banget karena himbauan pemerintah untuk tidak menyalakan kembang api,” ujar Hani, Senin (29/12/2025). Ia menambahkan, kondisi ekonomi juga membuat pembeli lebih memilih untuk mengutamakan kebutuhan sehari-hari.
Penurunan penjualan terasa semakin berat karena stok kembang api sudah tiba sejak awal Desember. “Barang-barang sudah datang, tapi imbauannya baru keluar beberapa waktu lalu. Banyak pembeli bahkan meminta pengembalian dana karena tidak bisa digunakan,” kata Hani. Ia menambahkan, sebagian stok akan disimpan untuk dijual saat Lebaran, dikutip dari KOMPAS.com.
Meski demikian, Hani mencatat masih ada permintaan untuk kembang api, terutama jenis yang lebih aman untuk penggunaan keluarga. Pembeli lebih selektif, dengan fokus pada kembang api sederhana, seperti air mancur atau paket kecil seharga Rp 30.000 hingga Rp 3 juta.
Hani berharap pemerintah bisa membedakan aturan antara penggunaan skala besar dan kecil. “Kalau untuk pribadi atau keluarga sebaiknya diperbolehkan, tapi untuk event besar memang bisa dibatasi. Setahun sekali kan momen ini,” ujarnya.
Dengan suasana yang lebih tenang, masyarakat Surabaya pun diprediksi merayakan Tahun Baru 2026 dengan lebih sederhana, berbeda dari pesta kembang api yang meriah di tahun-tahun sebelumnya.(*)
