KENDARINEWS.COM — Penyakit Tidak Menular (PTM) kini menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Indonesia dengan menyumbang hingga 70 persen beban penyakit nasional. Tren kasus hipertensi dan Diabetes Melitus (DM) terus menunjukkan peningkatan. Merespons kondisi tersebut, Poltekkes Kemenkes Kendari bersinergi dengan Puskesmas Siontapina menggelar aksi nyata di Kabupaten Buton pada Desember 2025.
Direktur Poltekkes Kemenkes Kendari, Teguh Fathurrahman, SKM, MPPM, menjelaskan bahwa kegiatan tersebut merupakan bagian dari agenda rutin tahunan di wilayah binaan kampus. Fokus kegiatan diarahkan pada Kabupaten Buton, khususnya Kecamatan Siontapina, yang menjadi wilayah binaan Program Studi D-III Keperawatan Buton sebagai kelas jauh Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Kendari.
“Ini wujud Tridharma Perguruan Tinggi yang kami laksanakan secara rutin. Tahun ini, fokus di Kabupaten Buton, khususnya Kecamatan Siontapina,” ujarnya.
Ia menegaskan pentingnya deteksi dini di tengah meningkatnya tren PTM. Hipertensi kerap disebut sebagai “The Silent Killer” karena sering tidak menimbulkan gejala hingga terjadi menunjukkan komplikasi serius seperti stroke atau gagal ginjal. Data nasional mencatat prevalensi hipertensi meningkat dari 25,8 persen pada 2013 menjadi 34,1 persen pada 2018. Sementara di Kabupaten Buton, prevalensi DM juga meningkat secara bertahap. Pada tahun 2024 tercatat sebanyak 1.379 penderita DM, dengan 1.058 di antaranya telah mendapatkan pelayanan standar. Adapun estimasi penderita hipertensi usia 15 tahun ke atas mencapai 12.726 orang, dengan prevalensi lebih tinggi pada perempuan sebesar 24,4 persen dibandingkan laki-laki sebesar 10,3 persen.
Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) ini dilaksanakan di Desa Matanauwe dan Desa Sampuabalo. Kegiatan melibatkan dosen lintas jurusan, yakni Keperawatan, Kebidanan, Gizi, dan Teknologi Laboratorium Medis, serta mahasiswa D-III Keperawatan Buton. Dosen dan mahasiswa Prodi Keperawatan Buton terlibat langsung dalam pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG), terapi bekam, serta edukasi gizi kepada masyarakat.
Sekitar 170 warga hadir dan menerima tiga pilar utama intervensi kesehatan. Pilar pertama berupa skrining kesehatan terpadu dengan sasaran 100 orang per desa. Pemeriksaan meliputi antropometri, seperti tinggi badan, berat badan, dan lingkar perut, pengukuran tekanan darah, serta CKG komprehensif berupa pemeriksaan kadar glukosa darah puasa untuk deteksi dini DM, kolesterol untuk menilai risiko penyakit jantung, dan asam urat sebagai upaya pencegahan gout. Seluruh rangkaian skrining diikuti dengan konsultasi masalah kesehatan secara langsung oleh dosen dan mahasiswa Keperawatan Buton. Dari hasil skrining tersebut, dimungkinkan deteksi sekitar 50 persen kasus hipertensi dan 30 persen kasus DM, yang selanjutnya dirujuk secara cepat ke Puskesmas.
Pilar kedua berupa terapi komplementer melalui layanan bekam yang untuk pertama kalinya digelar di Desa Sampuabalo. Terapi ini menargetkan 40 hingga 50 warga sebagai inovasi pencegahan PTM. Antusiasme masyarakat terlihat tinggi, meskipun jumlah peserta dibatasi sesuai kuota. Sejumlah warga Desa Sampuabalo bahkan berbagi pengalaman setelah mengikuti terapi tersebut.
“Setelah bekam, badan lebih ringan, rasa sakit badan berkurang, dan tekanan darah yang biasa 160/100 turun jadi 140/90. Pegal di pundak hilang, perasaan ingin tidur. Padahal selama ini susah tidur. Ini cocok untuk kami yang kerja berat di laut,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Pilar ketiga berupa demonstrasi masak sehat dan pangan fungsional. Edukasi gizi diberikan kepada sekitar 60 warga dengan memanfaatkan menu berbahan lokal. Kegiatan dipandu dosen dan mahasiswa Keperawatan Buton bersama tim Gizi, dengan memperkenalkan berbagai olahan seperti sirup buah naga dan jambu mete berpemanis gula jagung, minuman jahe kelor untuk penderita hipertensi, serta sushi nasi jagung ikan tuna ala konsep “Isi Piringku”. Sesi mencicipi menu sehat tersebut memberikan pengalaman langsung bagi masyarakat tentang cita rasa pangan sehat.
Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya deteksi dini serta hambatan geografis wilayah pesisir yang sulit dijangkau masih menjadi tantangan utama dalam penanggulangan PTM. Akses layanan kesehatan yang terbatas, ditambah budaya masyarakat yang cenderung enggan memeriksakan diri sebelum muncul gejala berat, menyebabkan banyak kasus terdeteksi terlambat. Melalui pendekatan jemput bola seperti kegiatan ini, Poltekkes Kemenkes Kendari tidak hanya menghadirkan alat skrining ke tengah masyarakat, tetapi juga membangun keberanian dan kesadaran baru akan pentingnya pemeriksaan kesehatan.
“Kami berharap momen ini menjadi pemicu bagi masyarakat untuk menjadikan pemeriksaan kesehatan sebagai rutinitas bulanan, bukan sekadar acara tahunan,” tambah Teguh Fathurrahman.
Sinergi antara akademisi Poltekkes Kemenkes Kendari dan praktisi kesehatan Puskesmas Siontapina diharapkan dapat menjadi blueprint langkah promotif dan preventif yang strategis serta berkelanjutan. Kolaborasi lintas disiplin dari keperawatan, gizi, hingga laboratorium medis menunjukkan bahwa pendidikan tinggi kesehatan mampu bertransformasi dari teori di kampus menjadi solusi nyata di lapangan. Selain menyediakan layanan gratis, tim juga menanamkan pengetahuan mandiri kepada masyarakat, mulai dari cara mengukur tekanan darah di rumah, mengenali tanda bahaya DM, hingga memasak menu sehat dari bahan lokal yang murah dan mudah diperoleh.
Dengan deteksi dini yang tepat waktu, edukasi pangan fungsional berbasis potensi alam Buton, serta penerapan terapi komplementer yang mendapat respons positif dari masyarakat, diharapkan angka kejadian PTM di Kabupaten Buton dapat ditekan secara signifikan dalam dua hingga tiga tahun ke depan. Lebih jauh, kualitas hidup masyarakat pesisir yang selama ini bergulat dengan pekerjaan berat di laut dan pola makan sederhana diharapkan meningkat secara nyata, dengan tekanan darah yang lebih terkendali, energi harian yang lebih prima, serta keluarga yang terlindungi dari ancaman penyakit “silent killer”.
Kegiatan ini menjadi bukti bahwa upaya peningkatan kesehatan masyarakat bukan semata tanggung jawab pemerintah, melainkan tanggung jawab kolektif yang tumbuh dari semangat gotong royong antara akademisi dan masyarakat.
