KENDARINEWS.COM — Warga Gaza tengah bersiap menghadapi kedatangan Badai Byron, yang menurut para pejabat berpotensi memicu bencana kemanusiaan baru bagi ratusan ribu keluarga pengungsi yang tinggal di tempat-tempat penampungan yang rapuh. Kantor Media Pemerintah Gaza menyatakan bahwa badai tersebut diperkirakan akan terjadi antara Rabu dan Jumat malam, membawa hujan lebat, angin kencang, gelombang laut tinggi, dan badai petir bagi penduduk yang sudah mengalami kesulitan ekstrem. Dalam siaran persnya, kantor tersebut memperingatkan risiko banjir, runtuhnya bangunan darurat, dan genangan air di kamp-kamp pengungsian yang berpotensi menempatkan lebih dari 1,5 juta orang dalam bahaya serius.
Banyak warga telah menghabiskan lebih dari setahun tinggal di tenda-tenda usang tanpa alternatif jangka panjang karena pembatasan yang diberlakukan Israel, yang terus menghalangi masuknya bantuan dan material tempat tinggal, termasuk 300.000 tenda dan rumah mobil. Kantor pemerintah Gaza menegaskan bahwa pendudukan Israel bertanggung jawab atas paparan warga sipil terhadap bahaya iklim sekaligus pelanggaran hak mereka atas perumahan yang aman. Mereka mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa, organisasi internasional, Presiden Amerika Serikat Donald Trump, mediator, dan negara-negara donor untuk segera bertindak guna mencegah bencana lebih lanjut.
Sementara Gaza bersiap menghadapi badai, rumah sakit mencatat satu kematian dan enam orang luka-luka dalam 24 jam terakhir di tengah agresi Israel yang berlanjut, menurut laporan Kementerian Kesehatan Palestina. Tim tanggap darurat dan pertahanan sipil masih menghadapi kesulitan menjangkau beberapa area di mana korban diyakini terjebak di bawah reruntuhan akibat intensitas serangan yang terus berlangsung. Sejak gencatan senjata diumumkan pada 11 Oktober 2025, kementerian mencatat 377 warga Palestina tewas dan 987 lainnya luka-luka. Selain itu, 626 jenazah telah dievakuasi dari lingkungan yang hancur selama upaya pemulihan.
Serangan Israel terus menghantam seluruh wilayah Gaza. Seorang pria Palestina tewas akibat tembakan penembak jitu Israel di daerah al-‘Attatra, Beit Lahia, di utara, menurut jaringan berita Lebanon, Al Mayadeen. Laporan tersebut menambahkan bahwa pasukan Israel menargetkan rumah-rumah di Kota Tua dekat Deir al-Latin di Kota Gaza dan menembaki permukiman al-Shejaiya, menghancurkan bangunan-bangunan perumahan dan memaksa keluarga-keluarga mengungsi akibat tembakan gencar. Warga menyatakan keprihatinan mendalam tentang badai yang mendekat, khawatir ribuan keluarga pengungsi yang tinggal di tenda-tenda akan menghadapi banjir saat masih berada di bawah blokade.
Operasi pembongkaran ekstensif di persimpangan al-Shejaiya telah memaksa pengungsian tambahan, dengan pemandangan serupa terjadi di Khan Yunis di tengah tembakan artileri dan serangan pesawat tak berawak. Menurut laporan Al Mayadeen, serangan Israel kini meluas ke seluruh wilayah Gaza, tidak hanya yang disebut “zona kuning”, dan meningkat khususnya di bagian timur enklave tersebut.
Di tengah kondisi yang memburuk ini, Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk pengungsi Palestina (UNRWA) memperingatkan pada Selasa bahwa banyak keluarga tidak mampu membeli kebutuhan pokok untuk anak-anak mereka, termasuk kacamata, pakaian hangat, dan perlengkapan sekolah. UNRWA menyatakan bahwa program bantuan tunai daruratnya tetap menjadi satu-satunya cara bagi banyak orang tua untuk memenuhi kebutuhan dasar di tengah krisis kemanusiaan yang semakin parah. Badan tersebut mendesak masyarakat internasional dan para donatur untuk memberikan dukungan mendesak agar anak-anak dan keluarga yang rentan tetap dapat memperoleh kebutuhan dasar dan meminimalkan dampak buruk dari badai dan konflik yang sedang berlangsung. (Sindonews)
