KENDARINEWS.COM — Tim Ekspedisi Patriot Universitas Indonesia (UI) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Diskusi Warung Kopi” bersama kepala desa dan camat di kawasan transmigrasi Tinanggea, Andoolo. Forum ini menjadi ruang dialog terbuka untuk memotret kondisi faktual masyarakat transmigran, mulai dari aspek ekonomi, infrastruktur, layanan publik, hingga dinamika sosial budaya.
FGD yang melibatkan perwakilan desa dari 11 kecamatan ini juga berfungsi sebagai wadah verifikasi temuan lapangan Tim Ekspedisi Patriot UI. Data dan aspirasi yang dihimpun nantinya akan menjadi bahan penyempurnaan rekomendasi kebijakan untuk pembangunan kawasan transmigrasi.
Salah satu isu utama yang mencuat adalah kondisi infrastruktur jalan dan jembatan. Kepala Desa Atari Jaya, Dedi, mengungkapkan, jalan poros di wilayahnya belum tersentuh perbaikan selama 42 tahun. “Untuk jembatan saja, masyarakat swadaya mengganti kayunya,” ujarnya. Kondisi ini berdampak langsung pada distribusi hasil perkebunan, yang menjadi sumber ekonomi utama warga.
Selain itu, produktivitas perkebunan, khususnya kelapa hibrida yang mulai memasuki usia replanting, menjadi perhatian serius. Warga khawatir bibit unggul tidak tersedia seperti masa awal transmigrasi. Kepala Desa Alengge Agung, Gusti Putu, menjelaskan, “Kami sudah mencoba menanam dari buahnya langsung, tapi hasilnya tidak sebagus induknya. Kami berharap ada bantuan bibit unggul.”
Ketersediaan sarana produksi seperti pupuk dan pestisida juga dinilai tidak stabil. Subsidi pupuk yang diberikan dianggap tidak sesuai dengan karakteristik wilayah, yang mayoritas bergerak di perkebunan. Kepala Desa Mata Iwoi, Suparjo, menambahkan, “Bantuan pupuk sering datang tidak tepat waktu sehingga tidak bisa dimanfaatkan optimal.”
Isu administrasi bantuan sosial juga menjadi sorotan. Para kepala desa menyebut pencairan bantuan masih mengacu pada data lama, meski mereka rutin memperbarui data. Kondisi ini dianggap berpotensi menimbulkan ketegangan sosial. Peserta FGD berharap adanya sinkronisasi sistem antara desa dan instansi penyalur agar data yang diperbarui benar-benar terintegrasi.
Masalah lingkungan turut menjadi perhatian. Beberapa desa melaporkan berkurangnya sumber air bersih yang diduga akibat aktivitas tambang di wilayah berbatasan. Kepala Desa Wonua Raya, Rokiman, menuturkan, “Secara administrasi bukan di wilayah kami, tapi geografisnya berbatasan langsung. Meski berada di ring 1, kami belum pernah menerima dukungan perusahaan.”
FGD ini diharapkan dapat menjadi dasar perumusan rekomendasi kebijakan yang lebih tepat sasaran, sekaligus mendorong pembangunan infrastruktur dan penguatan produktivitas perkebunan di kawasan transmigrasi Tinanggea. Tim Patriot UI menekankan pentingnya pendekatan partisipatif untuk memahami kebutuhan nyata masyarakat serta menyiapkan solusi yang berkelanjutan.
