Bau-bau

Urbanisasi Menjadi Penyebab Bertambahnya Kawasan Kumuh

KENDARINEWS.COM — Sebagai salah satu kota yang terus tumbuh di Sulawesi Tenggara (Sultra), Baubau memiliki daya tarik tersendiri bagi ma syarakat.Tidak sedikit penduduk dari berbagai daerah datang ke kota pemilik benteng terluas di dunia itu untuk bekerja dan melakukan berbagai aktivitas. Urbanisasi masyarakat tersebut memicu terus meningkatnya kawasan kumuh di Kota Baubau. Kondisi itu diakui Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Pemukiman, Yulia Widiarti.

“Kota ini (Baubau) adalah hinterland bagi daerah-daerah sekitarnya. Otomatis urbanisasi masyarakat dari daerah Buton, Buton Selatan, Buton Tengah di sini. Mereka melakukan aktivitas perkuliahan, berdagang dan urusan kesehatan di Baubau. Kepadatan penduduk bertambah selaras dengan kawasan pemukiman yang mereka huni,” kata Yulia Widiarti, akhir pekan lalu. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Pengelolaan Keuangan Aset dan Pendapatan Daerah (BPKAPD) Baubau itu menjelaskan, ada delapan indikator suatu wilayah masuk kategori kawasan kumuh. Mulai dari kepadatan rumah dan tidak layak huni, sanitasi, ketersediaan air bersih, pengelolaan sampah, drainase dan lainnya.

Indikator Wilayah Kategori Kawasan Kumuh :
• Kepadatan rumah
• Tidak layak huni
• Sanitasi
• Ketersediaan air bersih
• Pengelolaan sampah
• Drainase dan lainnya.

  • Wilayah kumuh di Baubau pada tahun 2019 : 180 hektare
    Sebaran :
  • Bantaran Sungai :
    • Kelurahan Bataraguru, Tomba,
    Nganganaumala, Kelurahan Wajo
    dan lainnya.
  • Wilayah Pesisir :
    • Kelurahan Kaobula, Bonebone,
    Kelurahan Wameo dan sekitarnya.

“Makanya tidak menutup kemungkinan, setiap tahun kekumuhan di suatu wilayah terus bertambah dan ada yang berkurang,” jelasnya. Sesuai surat keputusan (SK) Wali Kota tahun 2019, wilayah kumuh di Baubau ada 180 hektare. Semua tersebar di berbagai kelurahan. Mulai dari wilayah bantaran sungai Kelurahan Bataraguru, Tomba, Nganganaumala, Kelurahan Wajo dan lainnya. Kemudian bagian wilayah pesisir Kelurahan Kaobula, Bonebone, Kelurahan Wameo dan sekitarnya. “Masingmasing kelurahan itu memiliki tingkat kekumuhan berbeda-beda,” kata Yulia.

Wanita berhijab itu menambahkan, Pemkot Baubau terus berupaya melakukan pengurangan kawasan Melalui berbagai program Pemerintah Pusat maupun dari Anggaran Pendapatan Daerah (APBD) Kota Baubau pihaknya tetus melakukan perbaikan wilayah kawasan. “Hampir tiap tahun kita melakukan kegiatan untuk pengurangan luasan kumuh. Misalnya di perumahan ini ada bantuan bedah rumah, perbaikan jalan setapak, perbaikan jaringan air bersih, dan perbaikan drainase. Semua itu adalah kegiatan yang berdampak pada pengurangan kawasan kumuh,” pungkasnya. (b/ahi)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

To Top