HEADLINE NEWS

Tak Mau Repotkan Keluarga, Pria 60 Tahun di Baubau Tinggal Sebatang Kara di Atas Perahu

KENDARINEWS.COM — Asmin (60), warga Kelurahan Lowu-Lowu, Kecamatan Lealea, Kota Baubau tinggal sebatang kara di atas perahu. Diusianya yang tak muda lagi, harus berusaha mencari nafkah di laut untuk bertahan hidup. Tubuhnya mulai renta. Lemah dilanda sakit. Namun semangatnya berjuang memenuhi kebutuhan hidup tak pernah surut. Saban hari, Asmin beraktivitas mencari ikan dilaut. Hasil tangkapannya dijual ke pasar.

Akhirman, Baubau

Cuaca di perairan Kota Baubau sore itu cukup bersahabat. Hembusan angin tak begitu kencang. Speed boat yang tertambat di tiang pancang bergerak perlahan. Tenang. Begitu pula dengan perahu katinting (perahu bermesin tempel) milik Asmin. Terpaan ombak tidak kencang.

Setiap hari, perahu kecilnya selalu dilabuhkan di muarah tersebut. Letaknya yang tidak langsung bersentuhan dengan laut lepas cukup aman dari ancaman gelombang. Pun sesekali “gulungan” air laut mengancam, tapi itu hanya terjadi saat angin kencang. Saat hujan datang, perahu sang kakek juga tetap aman. Meski hujan sangat deras, tidak akan basah terkena air. Sebab, tempat sang kakek mengikat perahunya itu tepat berada di bawah Jembatan Tengah, Kelurahan Nganganaumala, Kota Baubau.

Perahu kecil itu tidak hanya menjadi sarana mencari nafkah bagi sang kakek. Perahu tersebut sekaligus juga menjadi rumah. Tempat berlindung Asmin dikala hujan dan panas. Tempat beristirahat melepas penat melakoni getirnya hidup. Asmin tak memiliki rumah pribadi. Kehidupan dan hari-harinya dijalani di atas perahu miliknya.

“Saya tinggal di sini (perahu). Tidur dan makan di sini. Kalau cuaca malam dingin saya pakai terpal. Saya memasak juga di sini (dalam perahu). Satu-satunya tempat tinggal di Baubau sini hanya di perahu saja. Perahu ini diberikan keluarga,” kata kakek Asmin.

Menjalani kehidupan di atas perahu sudah biasa bagi sang kakek. Sebelum menetap di Baubau, kehidupan yang sama telah dijalaninya saat tinggal di Kabupaten Muna. Saat itu, ia, memilih meninggalkan rumah karena sakit. Ia hidup dan beraktivitas di atas perahu. Pilihan itu ia ambil karena tidak ingin menyusahkan keluarganya. Terlebih ia bersama istri dan ketiga anaknya tingga di rumah keluarga.

“Di Muna tidak ada rumah. Anak dan istri tinggal di rumah keluarga. Anak saya ada tiga orang. Satu sudah menikah dan dua orang masih kecil. Masih SMP. Biaya sekolah anak-anak dari upah menenun istri saya. Makanya saat itu saya memilih pergi dan tinggal di atas perahu sambil menangkap kepiting selama dua tahun,” katanya.

Memilih meninggalkan keluarga dan tinggal sendiri di atas perahu, membuat Asmin bertambah sakit. Ia pun memilih pulang kampung di Kota Baubau dari Kabupaten Muna. Tak ada tempat lain yang dituju selain rumah keluarga. Sebab, di Baubau ia juga tak memiliki rumah. “Saya kembali di Baubau karena sudah sakit-sakittan. Keluarga besar saya ada di Baubau,” ucapnya.

Tinggal bersama keluarga dalam kondisi sakit, Asmin merasa tidak enak hati. Ia tidak ingin merepotkan dan menambah beban keluarganya. Terlebih kondisi ekonomi keluarganya juga seadanya. Makanya ia, memilih pergi dan kembali tinggal di atas perahu. “Saya lebih memilih tinggal di laut begini karena saya suka suasananya. Lagian tidak mau merepotkan keluarga. Selagi saya bisa mencari, tidak apa-apa meskipun tinggal di atas perahu,” terangnya.

Kehidupan di atas perahu selama di Kota Baubau telah dijalani Asmin selama empat tahun. Meski kondisinya tak lagi kuat karena sakit-sakitan, namun ia tetap berjuang mencari nafkah. Asmin tidak ingin meminta-minta atau hanya mengharap bantuan dari orang lain. Baginya, selama raganya masih bisa bergerak, ia mencari nafkah. “Hari-hari saya mencari kepiting dan udang lalu saya jual untuk beli beras dan sayur. Sebagian saya beli obat herbal,” katanya.

“Seandainya kalau saya tidak sakit, masih bisa bertahan hidup. Dengan mencari kepiting. Tapi sudah satu minggu ini saya tidak bisa berbuat apa-apa. Saya batuk-batuk. Tangan saya keram dan tidak kuat. Saya tidak bisa berbuat apa-apa. Hanya bisa baring dan duduk sendirian. Tak ada teman ngobrol,” sambung Asmin dengan nada sedih.

Tak ada barang berharga yang dimiliki Asmin. Dalam perahu miliknya hanya terlihat beberapa wajan, loyang, dan kompor. Kemudian beberapa lembar pakaian kusam yang tergantung. Selebihnya, bagian petahu dipenuhi pukat dan alat tangkap kepiting dan udang.

“Di usia yang sudah tua ini, saya juga ingin punya rumah. Saya ingin tinggal dan berkumpul bersama keluarga. Tapi hanya perahu ini satu-satunya tempat tinggalku. Kalau kita tinggal semua (bersama keluarga) tidak akan muat ini perahu. Lagian kondisi ekonomi yang seperti ini. Kita mau bikin apa juga,” tuturnya.

Asmin masih memiliki keinginan besar untuk kembali berkumpul bersama keluarganya. Meski tinggal berjauhan, tak menyurutkan Asmin sesekali pulang ke Muna untuk melepas kangen bersama anak istrinya. “Dulu kalau ada uang saya pulang. Sekedar mau lihat dan memastikan kabar mereka. Sudah lama tak pulang, terakhir satu tahun lalu,” ucapnya.

“Ada keinginan pulang menengok mereka. Hanya saja saya tidak ada uang. Saya tidak sekuat dulu mencari kepiting. Tidak bisa berbuat banyak lagi. Andai saya punya rumah di sini, ingin rasanya tinggal bersama anak dan istri. Tapi kondisi saya seperti ini. Mereka (anak dan sitinya) tahu kalau saya tinggal di atas perahu,” tutup Asmin. (b)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Berita Terbaru


To Top