Bombana

Surplus 30.000 Ton, Beras Bombana jadi Penyangga di Sultra

KENDARINEWS.COM — Secara umum, perekonomian menurun drastis di masa pandemi Covid-19. Namun sektor pertanian di Kabupaten Bombana pada tahun 2020 lalu justru mampu bertahan dengan produksi beras yang surplus hingga 30.000 ton. Bahkan Kabupaten yang dinahkodai Bupati, H. Tafdil dan Wakilnya, Johan Salim menjadi salah satu daerah penyangga beras di Sulawesi Tenggara (Sultra). Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) total produksi gabah padi Bombana untuk tahun 2020 sebanyak 85.000 ton, sedangkan jumlah penduduk kurang lebih 158.000 jiwa. Dari jumlah penduduk, kebutuhan beras hanya memerlukan sekitar 20.000 ton beras per tahun. Sehingga pada tahun 2020 Kabuapten Bombana mengalami surplus beras sebesar 30.000 ton.

“Kebutuhan perkapita 113 kilogram tiap penduduk pertahunnya. Dari jumlah tersebut, kita totalkan ke 158.000 jiwa, hanya membutuhkan sekitar 20.000 ton beras. Sementara dari 85.000 ton jika dikonversi ke beras bisa menghasilkan sekitar 50.000 ton beras, sehingga kita mengalami surplus sekitar 30.000 ton,” rinci Plt kepala Dinas Pertanian Kabupaten Bombana, Ir. Muhammad Siara, M.Si, Senin (15/2).

Sisa kebutuhan pangan tersebut kemudian disuplai ke beberapa daerah di Sultra yang mengalami kekurangan beras, seperti daerah Buton, Muna bahkan Kolaka. Selain beras, Kabupaten Bombana juga kerap mensuplai gabah di Sultra bahkan luar provinsi. Untuk kabupaten yang kerap dikirimkan gabah diantaranya Konawe Selatan. Sedangkan untuk luar Sultra, gabah Bombana kerap disuplai ke Provinsi Sulawesi Selatan (Sulsel). “Tidak bisa dipungkiri kalau Bombana adalah salah satu daerah penyanggah beras Sultra bahkan di luar Sultra,” klaimnya.

Keberhasilan dalam meningkatkan produksi padi merupakan upaya berbagai pihak. Baik dari Pemkab hingga para petani itu sendiri. Diakui Muhammad Siara, saat ini luas lahan sawah yang ada di Bombana kurang lebih sekitar 13.000 hektare, dengan rincian sawah tadah hujan sebesar 5.000 hektare dan yang mengandalkan pengairan irigasi kurang lebih sekitar 8.000 hektare.

“Kami terus berupaya melakukan berbagai agar jumalh produksi atau panen petani mengalami peningkatan. Misalnya sawah tadah hujan, yang biasanya hanya bisa melakukan sekali panen dalam satu tahun, kita ingin meningkatkan agar panen dua kali, sama halnya dengan sawah irigasi. Salah satu upaya yang dilakukan yakni, dengan memaksimalkan bantuan sumber tanah dangkal, hingga melakukan pompanisasi,” pungkas Muhammad Siara. (b/idh)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

To Top