Metro Kendari

Sulkarnain Minta Dinkes Masifkan Sosialisasi Vaksinasi

KENDARINEWS.COM — Cakupan vaksinasi pada kelompok Lanjut Usia (Lansia) di Kota Kendari masih jauh dari target. Hingga kemarin (04/06), realisasinya baru mencapai 20,66 persen atau sekitar 3.849 dari 18.634 orang yang menjadi sasaran vaksinasi. Atas dasar itu, Wali Kota Kendari, Sulkarnain Kadir meminta Dinas kesehatan (Dinkes) menyosialisasikan program vaksinasi.

Sulkarnain mengatakan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap vaksin masih rendah. “Ada beberapa masyarakat kita yang tidak terdukasi dengan baik, sehingga mempengaruhi yang lain utamanya mempengaruhi orang tua kita sehingga mereka enggan mengikuti vaksinasi,” ungkap Sulkarnain Kadir, kemarin.

Sejumlah lansia mendapatkan suntikan vaksin di Puskesmas Kemaraya. Pemberian vaksin penting dalam rangka melindungi lansia dari resiko penularan Covid-19.

Politisi PKS ini mengaku telah menginstruksikan jajarannya dalam hal ini Dinas Kesehatan (Dinkes) Kendari untuk terus melakukan sosialisasi dan edukasi terkait manfaat mendapatkan vaksin kepada masyarakat luas, khususnya pada lansia. “Kita tidak boleh berhenti sampai disini. Masyarakat harus terus kita ajak untuk mensukseskan program ini. Agar kita bisa segera terbebas dari pandemi ini,” kata Sulkarnain.

Terpisah, Kepala Dinkes Kendari, drg.Rahminingrum mengaku tak hentinya mensosialisasikan program vaksinasi kepada masyarakat. Mulai sosialisasi secara langsung hingga memanfaatkan layanan media sosial dan media massa. “Bahkan untuk menarik animo masyarakat, kami bahkan telah menyiapkan souvenr untuk lansia yang ingin divaksin,” kata Rahminingrum.

Pada sisi lain, Rahminingrum mengungkapkan bahwa masih rendahnya cakupan vaksinasi disebabkan kurangnya dukungan moril dari sanak keluarga lansia untuk mendapatkan vaksin. Padahal vaksin penting diberikan kepada lansia yang merupakan kelompok dengan resiko tinggi tertular wabah yang menyerang sistem pernapasan itu.

“Artinya keluarganya sendiri itu belum mengizinkan untuk orang tuanya, neneknya di vaksinasi dengan berbagai macam alasan, misalnya sakit dan lain-lain. Kemudian ada ketakuran dari informasi yang salah (hoaks). Nah mereka inilah yang kita edukasi,” ungkap Rahminingrum. (b/ags)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top