Metro Kendari

Sri Wahyuni, Pejuang Inovasi Pangan Lokal di Sultra

KENDARINEWS.COM — Sri Wahyuni namanya. Wanita itu kini tercatat sebagai salah satu guru besar di Universitas Halu Oleo, Kota Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra). Saban tahun, ia menjadi pemakalah seminar di tingkat nasional maupun internasional. Banyak jurnal penelitian yang ia cetuskan, lolos dalam pengindeks-an Scopus. Tak sedikit hasil risetnya diadopsi pelaku industri guna meningkatkan nilai ekonomi produk.

Prof. Dr. Sri Wahyuni, M.Si, itu berhasil mengembangkan produk pangan lokal menjadi lebih berkualitas dan aman dikonsumsi masyarakat. Antusias wanita kelahiran 30 Mei 1968 ini untuk mengembangkan pangan lokal bermula ketika ia ditantang Badan Ketahanan Pangan Sultra (sekarang Dinas Ketahanan Pangan) untuk menciptakan sebuah produk di tahun 2011.
Sri yang sejak kecil, telah menyukai pangan lokal seperti kabuto (makanan khas Kabupaten Muna yang terbuat dari ubi kering), memilih untuk membuat produk-produk berbahan baku ubi tersebut.

Sejak itu, anggota Dewan Riset Daerah Sultra ini mulai mengembangkan Kabuto. Di sisi lain, ia melahirkan sejumlah inovasi produk pangan lokal Sultra. Di antaranya, tepung kaopi, ikan asap, makanan berbahan dasar beras merah, pakan ternak yang layak konsumsi, dan lainnya.

“Pangan lokal kita sebenarnya bermutu tinggi namun kurang terekspos. Misalnya, beras merah yang bisa diolah jadi tepung berkualitas menggantikan terigu sebagai bahan dasar pembuatan cake, muffin, dan lain-lain. Kita juga punya berbagai pati yang dapat dijadikan bahan makanan yang potensial. Banyak komoditas berharga yang harus diungkap dan harapannya bisa diproduksi oleh pihak industri,” tutur Sri Wahyuni.

Sri yakin kemampuan manusia akan terus meningkat bila dilatih secara terus menerus. “Bagaimanapun tumpulnya sebuah parang, jika diasah terus menerus, pasti akan tajam juga. Seperti halnya manusia,” tegas Sri Wahyuni. Potensi yang dimiliki seseorang, bila dikembangkan niscaya akan membawa kebermanfaatan. Sri begitu gigih berjuang menggapai mimpinya sebagai peneliti. Ia tak pernah patah arang, meskipun sempat terbentur. Alih-alih berhenti di tengah jalan, ia malah makin termotivasi untuk mewujudkannya. Bagi ibu satu anak ini, tantangan adalah proses yang mesti dilalui untuk bisa lebih berkembang.

Kendala yang dihadapi selama melakukan penelitian tak jauh dari persoalan minimnya sarana dan prasarana. Untuk mengatasi persoalan ini, Sri terkadang meminta bantuan kawan-kawan sejawatnya di universitas lain. Sehingga ia dapat menggunakan fasilitas laboratorium baik milik balai penelitian maupun universitas seperti Institut Pertanian Bogor (IPB) dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

“Menjadi seorang peneliti harus memiliki jiwa yang tangguh, rasa ingin tahu yang besar, ketekunan, serta kesabaran. Dalam melakukan penelitian, kita tidak bisa selalu berhasil dalam sekali coba. Kadangkala harus bertemu kegagalan berkali-kali. Dari situlah kita belajar agar kedepannya bisa lebih baik,” imbuhnya.

Selain bertugas sebagai dosen, ia aktif melakukan penelitian dan pengabdian di masyarakat, sebagaimana amanah Tri Dharma perguruan tinggi. Puluhan kegiatan pengabdian yang dilakukan untuk memberdayakan masyarakat di sejumlah daerah. Sebagai dosen pembimbing, setiap tahun, ia membimbing 20 hingga 50 mahasiswa untuk membuat karya ilmiah. Mahasiswa-mahasiswa yang ia bimbing, selalu memenangkan lomba karya ilmiah tingkat nasional. Sri juga memiliki delapan hak paten atas penelitiannya. Lima tahun terakhir, ia telah menerbitkan empat judul buku yang berhubungan dengan pangan.

Edukasi IKM Kembangkan Produk

Doktor jebolan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini juga aktif membina Industri Kecil Menengah (IKM) untuk mendorong nilai tambah produk-produk yang dihasilkan. Saat ini, Sri Wahyuni dilibatkan oleh National Support for Local Investment Climate/ National Support for Enhancing Local and Regional Economic (NSLIC/NSELRED) dalam membina beberapa industri kecil. Salah satunya kelompok usaha Katapai Sulaa di Kota Baubau.

Selama ini, kata dia, rata-rata pengasapan ikan di daerah tersebut mengabaikan prinsip higienitas dalam proses pengolahan. Ia ingin membenahi kondisi itu agar masyarakat mendapatkan suplai makanan yang aman dan sehat. Di daerah Kabupaten Bombana, ia terlibat dalam pengembangan proses produksi VCO (Virgin Coconut Oil) menggunakan mesin sehingga kualitas minyak yang dihasilkan jauh lebih baik.

Di Kabupaten Wakatobi, tahun ini Sri bersama NSLIC membina nelayan rumput laut agar proses produksinya terstandardisasi sehingga bisa memperoleh sertifikat kelayakan.

“Menyediakan pangan berkualitas sangatlah penting. Selain mencegah risiko kematian usaha, pelaku usaha juga dapat memasok pangan yang sehat kepada konsumen. Jadi, bukan hanya keuntungan yang dikejar melainkan juga kemaslahatan,” imbuhnya.

Inovasi pangan yang dihasilkan Sri juga telah membantu meningkatkan perekonomian masyarakat. Dengan semakin baiknya kualitas produk yang dihasilkan, telah membuka jalan untuk pasar yang lebih luas bagi produk-produk UMKM binaan. Misalnya, ikan asap produksi Katapai Sulaa yang telah menembuh pasar Pulau Jawa, produk VCO Bombana yang kini melayani pembelian-pembelian dalam skala besar, serta tepung ikan pakan ternak produksi UMKM Maju Jaya yang sudah merambah pasar Papua.

Masih banyak karya yang dihasilkan serta pengabdian yang dilakukan mantan Ketua Pusat Studi Ketahanan Pangan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UHO ini. Ia sangat produktif. Menurutnya hidup adalah tentang memberi yang terbaik. Ia tak ingin memikirkan keuntungan materiil yang akan didapat saat mengerjakan sebuah proyek. Sri percaya bahwa perbuatan yang dilandasi dengan dorongan sosial akan mendapatkan ganjaran yang lebih baik. Cepat atau lambat.

“Jangan mengukur segala sesuatu dengan uang. Rejeki akan datang dengan sendirinya jika kita ikhlas berbuat kebaikan,” kata dia.

Sri meminta kaum perempuan memahami keistimewanya. Walau kadang harus bekerja dua kali lebih keras karena memiliki tugas di ranah domestik, perempuan tetap memiliki kesempatan untuk berkarya.

“Kadangkala kita memang harus berjuang dua kali lebih berat dibandingkan laki-laki. Sebagai anak, istri, dan ibu, kita memiliki pekerjaan di rumah yang harus diselesaikan. Oleh karena itu, kita harus kuat dan semangat dalam menuntut ilmu dan berbuat kebajikan. Jangan mudah menyerah ketika bertemu rintangan,” tandasnya.

Dihubungi terpisah, Distrik Fasilitator NSLIC, Nasrudin mengatakan, produk kelompok binaan NSLIC yang melibatkan Sri Wahyuni sebagai peneliti telah mendapatkan sertifikat halal sehingga produknya bisa dijual ke berbagai wilayah. Hal itu telah mendorong peningkatan omset yang berdampak pada meningkatnya kesejahteraan masyarakat.

“Salah satunya produk ikan asap. Dengan adanya sertifikat halal, pasarnya semakin luas. Selain antar pulau di Sultra, juga dipasarkan sampai ke Jawa dan Sulawesi Selatan,” ungkap Nasrudin.

Sementara itu, Ketua kelompok usaha Katapai Sulaa Linda Paliran, ketika dihubungi di Baubau, mengungkapkan, dalam seminggu mampu melakukan produksi sebanyak tiga kali dengan rata-rata pasokan 50 ekor ikan asap sekali produksi. Harganya dibanderol mulai Rp 40.000 hingga Rp 50.000 per ekor.

Kata Linda, kelompoknya saat ini beranggotakan 15 orang yang terdiri dari para ibu rumah tangga. Mereka ini sebelumnya menggeluti usaha catering. Namun sejak pandemi Covid-1, permintaan menurun drastis sehingga mereka beralih ke usaha pengasapan ikan.

“Kami mulai usaha pengasapan ikan pada Mei 2020. Ini inisiatif kami untuk mengembangkan potensi yang ada di kelurahan setelah kehilangan sumber pendapatan karena pandemi. Semenjak dibina NSLIC yang melibatkan peneliti, produksi ikan asap kami semakin baik kuakitasnya sehingga mendorong permintaan konsumen,” tutur Linda. (uli)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Most Popular

To Top