Hukum & Kriminal

Sepasang Kekasih di Kendari Saling Lapor Kasus Penganiayaan

KENDARINEWS.COM — Tidak semua kasus harus sampai ke pengadilan. Jika ada kasus yang bisa diselesaikan secara kekeluargaan atau mediasi maka tak perlu di bawa ke pengadilan. Seperti yang dilakukan Satreskrim Polres Kendari yang mengambil jalur mediasi dalam menyelesaikan perkara dugaan tindak pidana penganiayaan yang terjadi antara dua warga. Masing-masing berinisial SZ (26) perempuan dan NP (26) laki-laki.

“Mereka berdua adalah pasangan kekasih dalam hal ini sudah tunangan. Keduanya terlibat pertengkaran yang berujung aksi dugaan penganiayaan. SZ dan NP, saling melaporkan, membuat aduan Polisi bahwa sama-sama sebagai korban tindak pidana penganiayaan,” kata Kasatreskrim Polres Kendari, AKP I Gede Pranata Wiguna, Rabu (17/2). “SZ melapor karena ditampar oleh NP, sedangkan NP melapor karena mendapat luka cakar pada bagian leher dan tangan yang katanya dilakukan SZ,” imbuhnya.

Kasat Reskrim Polres Kendari, AKP I Gede Pranata Wiguna, menuturkan kronologis kejadiannya. Awalnya, NP mendatangi kamar kos SZ, di Lorong Melati, Jalan MT Haryono, Kelurahan Anaiwoi, Kecamatan Kadia, Kota Kendari, Sabtu (24/1). Setibanya di kosan, NP memeriksa handphone SZ. Namun saat itu handphone SZ menggunakan pasword dan tidak mau memberitahukan pasword handphonenya. “Terjadi cekcok antara keduanya berujung NP menampar wajah SZ. Terjadilah aksi rebutan handphone saat itu, tangan dan leher NP juga mendapatkan luka bekas cakar dari SZ, dari situ mulanya mereka saling lapor,” jelasnya.

Laporan kasus dugaan tindak pidana penganiayaan itu lanjut ia, diadukan ke Polres Kendari beberapa waktu lalu, dengan nomor pengaduan: B/81/I/2021/Reskrim tertanggal 26 Januari 2021, dan Laporan Pengaduan Nomor: B/89/I/2021/Reskrim tertanggal 27 Januari 2021. Setelah menerima dua aduan itu, pihaknya menimbang tindakan apa yang harus dilakukan petugas kepolisian. Setelah mengkaji masalahnya, Satreskrim Polres Kendari mengambil jalan mediasi.

“Mediasi dilakukan, Selasa 16 Februari di Balai Desa Monapa, Kecamatan Mowila, Kabupaten Konawe Selatan. Turut hadir kepala desa setempat, Bhabinkamtibmas, serta kedua belah pihak didampingi keluarganya masing-masing,” ungkapnya. Dari hasil mediasi tersebut kata ia, keduanya sepakat berdamai. Dibuktikan dengan penandatangan surat pernyataan damai, disaksikan kedua orangtuanya dan diketahui oleh kepala desa setempat. “Jadi hari ini Rabu (17/2) SZ dan NP sudah mencabut laporan pengaduan di Satreskrim Polres Kendari,” ujarnya.

Menurutnya, kita harus kembali pada tujuan penegakan hukum yakni untuk mewujudkan kedamaian, keadilan, kepastian serta ketenangan. Dan hukum bukanlah sebuah alat untuk menjadi menang, melainkan alat untuk menjalin harmoni dan kebersamaan. “Apa yang dilakukan oleh pihaknya adalah upaya mengimplementasikan program Kapolri Jenderal Pol Listyo Sigit Prabowo tentang restoratif justice yakni mengedepankan penyelesaian perkara lewat jalur mediasi,” tutupnya. (b/ndi)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

To Top