Nasional

Selamat Tinggal Takhta

Sebuah Refleksi Ulang Tahun Sultra

Oleh: H. Nur Alam, S.E., M. Si.
Gubernur Sulawesi Tenggara 2008-2013 dan 2013-2018

…Kesedihan yang nyata
Bukanlah perpisahan
Tanpa rencana
Tapi kehilangan
Yang tiba-tiba…

Sejak saya masih menjabat sebagai Gubernur (Sultra) sampai sekarang, tahta adalah tema yang sangat menarik untuk dikaji. Salah satu yang menjadi sebab tema ini menarik untuk dibahas adalah karena implikasinya yang sangat luas dalam kehidupan pribadi, masyarakat, dan bangsa.

Takhta kerap diilustrasikan lewat beragam kiasan. Salah satunya, ada yang menganalogikan sebagai madu dan racun. Ia diburu dan diperebutkan karena mengandung kesenangan dan kenikmatan, meski bisa juga menjadi boomerang yang dapat “membunuh” pemiliknya. Tahta ibarat dua sisi mata uang yang bisa menjadikan seseorang mulia tapi juga bisa sebaliknya, terhina.

Pada umumnya, tahta berhubungan dengan pangkat dan jabatan. Dan jabatan terkait dengan kekuasaan. Ketika seseorang memiliki jabatan, sekaligus dia memiliki kewenangan yang disebut kekuasaan. Kekuasaan yang mendatangkan kehormatan, status, harta, dan berbagai fasilitas lainnya.
 
Jabatan dan kekuasaan menyangkut ruang lingkup sangat luas. Bisa politik, organisasi, keagamaan, sosial, dan sebagainya. Ibarat candu yang memabukkan, ia menggoda banyak orang untuk merengkuhnya lewat berbagai cara. Mulai dari cara yang konstitusional, demokratis, dan damai hingga dengan cara inkonstitusional lewat kekerasan dan jegal menjegal.

Jabatan dan kekuasaan menempati posisi sangat strategis. Dia memiliki kemampuan mengendalikan area publik sehingga perlu diawasi, diingatkan, dan diberi peringatan terus menerus agar selalu on the right track, agar tak mengubah seorang pejabat menjadi sosok tiran, yang sangat berkuasa dan sewenang-wenang.

Orang kerap lupa bahwa jabatan adalah urusan dunia. Sedangkan dunia ini fana – hanya bersifat sementara. Cepat atau lambat semua akan berakhir. Segalanya akan kembali kepada Sang Pemilik Sejati – Allah SWT.

Dalam Islam jabatan adalah amanah, dan dianggap persoalan sangat serius, karena di dalamnya ada tanggung jawab besar yang diemban. Rasulullah SAW bersabda, “Tidak beriman orang yang tidak bisa menjaga amanah yang dibebankan kepadanya. Dan tidak beragama orang yang tidak bisa menepati janjinya.” (HR Ahmad). Maka, artikanlah jabatan sebagai sebuah titipan dari Allah SWT. yang harus diemban sebagai amanah. Karena pada akhirnya akan dimintai pertanggungjawabannya, baik di dunia maupun di akhirat.

Menjadi seorang pejabat pasti menghadapi banyak ujian. Dan memang tidak mudah bagi seseorang untuk bisa menjabat tanpa dibekali iman, moral, akhlak, dan kecakapan yang mumpuni. Seorang pejabat harus bersikap jujur, adil, teguh dalam memegang janji, dan tidak semena-mena. Ia tidak boleh mencelakai rakyat, mencederai janji-janjinya, dan tidak boleh zalim.

Fatamorgana Kehidupan

Menduduki jabatan bukan berarti membuat seseorang memiliki kekuatan super untuk menjatuhkan lawan atau orang-orang yang tidak disukai. Jabatan tidak boleh dimaknai sebagai alat kekuasaan, agar ia tak menjelma menjadi pedang yang menghunus.

Jabatan harus dimaknai positif sebagai tanggung jawab kepada Allah SWT, sebagai kesempatan untuk mengabdi kepada masyarakat luas, dan juga sebagai harmoni untuk menyatukan keberagaman – untuk tujuan kemanusiaan yang lebih besar dari sekedar kepentingan memuaskan ego dan nafsu.

Seorang pejabat idealnya adalah tempat bagi siapa saja untuk berteduh. Menjadi pengayom bagi semua elemen sosial. Dan bahkan menjadi pelindung bagi masyarakat di sekitarnya. Namun, banyak pejabat yang abai pada hal itu. Mereka asyik menikmati kursi empuk singgasana, sibuk menumpuk harta, dan sibuk mengatur strategi untuk melanggengkan kekuasaannya sembari menikmati kekaguman dan puja-puji dari orang-orang di sekelilingnya. Padahal, semua itu bukan jaminan hidup tenang, tentram, dan damai. Semua itu hanya fatamorgana kehidupan yang sewaktu-waktu bisa lenyap.

Ada beberapa faktor yang bisa membuat seseorang kehilangan jabatannya misalnya; karena persoalan politik, persoalan hukum, pensiun (berakhir masa tugas), dan bisa juga karena dimutasi atau dipindahkan (yang merupakan bagian dari birokrasi). 

Kehilangan bisa menimpa setiap orang. Kehilangan apa saja, terutama jabatan yang dibangga-banggakan, adalah mimpi buruk. Banyak orang berusaha menyangkal bahkan menghindarinya, karena luka dan kesedihan akibat kehilangan jabatan bisa membuat siapa saja hancur dan terpuruk. 

Bila dicermati, orang yang merasa kehilangan adalah mereka yang merasa memiliki. Rasa memiliki yang terlalu kuat akhirnya melahirkan kemelekatan. Mengapa kita menjadi melekat dengan sesuatu? Jawabannya adalah karena kita teramat menyukainya dan menikmatinya.

Kehilangan jabatan sama dengan hilangnya kekuasaan, fasilitas, dan privilege dalam waktu yang sama. Juga tidak ada lagi kekaguman, perlakuan istimewa dan segala puja puji ketika sudah kembali menjadi orang biasa. Bahkan, orang-orang yang selalu ada di sekeliling pun bisa berlari dan menjauh. Hidup akan menjadi sepi. 

Sudahi Kemelekatan

Sejatinya, jabatan adalah milik Allah. Dialah yang punya kuasa untuk memberi dan mengambilnya kembali. Maka, terimalah jabatan yang diamanatkan oleh Allah dengan penuh rasa syukur, tapi juga lepaskanlah dengan ikhlas ketika Dia memintanya kembali. Kita hanya perlu menyiapkan iman yang kokoh, hati yang lapang, dan mental yang kuat untuk mengucap, “selamat tinggal tahta” bila waktunya telah tiba. 
 Sudah saatnya kita sudahi kemelekatan pada hasrat dan ambisi tak berkesudahan. Merdekakan jiwa dari nafsu hendak terus berkuasa. Menepi dan menyepilah sejenak. Masuki ruang hening tempat segala kearifan bersemayam, agar kita menemukan kedamaian dan berjumpa Tuhan di sana. Hidup ini bukan perlombaan. 

Hidup juga bukan soal kalah menang. Bukan pula soal siapa yang paling kaya, yang paling tinggi pangkatnya, dan yang paling berkuasa. Setiap orang, bahkan yang paling kuat sekali pun tidak akan berkuasa selamanya. Dia punya batas waktu dan harus meninggalkan semuanya.

Maka, ketika jabatan dan kekuasaan sudah lepas, yang utama adalah ketahanan diri, ketahanan pribadi, dan ketahanan keluarga. Itu semua yang akan menemani kita menjalani sisa usia. Kebahagiaan bukan terletak pada harta, pangkat, dan jabatan, tapi sejauh mana kita mampu mensyukuri dan menikmati yang kita miliki.

Akhirnya, yang mesti diciptakan untuk melanjutkan hidup yang semakin kompleks dan penuh tantangan ini adalah ketenangan jiwa dan ketentraman batin. Hal itu akan bisa diperoleh kalau kita mau berserah diri dan tawakal kepada Allah SWT, disamping kesediaan untuk menghadapi dan menerima kenyataan dengan tulus ikhlas. (*)
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

To Top