Opini

Resesi Ekonomi, Benarkah Salah Pandemi?, Oleh : Nur Hikmah

KENDARIPOS.CO.ID — Akhir-akhir ini isu resesi ekonomi di tanah air menjadi marak diperbincangkan. Resesi itu sendiri adalah istilah untuk menggambarkan kontraksi atau penurunan signifikan dalam pertumbuhan ekonomi. Suatu negara dapat dikatakan mengalami resesi bila pertumbuhan ekonomi menurun dari titik 0 sampai negatif selama setidaknya dua kuartal berturut-turut.


Nur Hikmah
Pemerhati Sosial Ekonomi asal Baubau

Mengutip National Bureau of Economic Research (NBER), resesi adalah penurunan secara signifikan aktivitas ekonomi yang terjadi dalam berbagai sektor perekonomian selama beberapa bulan berturut-turut. Biasanya terlihat pada Produk Domestik Bruto (PDB) riil yang akan menunjukan penurunan permintaan barang dan jasa, tingkat pengangguran melonjak yang berimbas pada pendapatan individu dan daya beli masyarakat menurun, penurunan penjualan ritel (baca: eceran) hingga menyebabkan perekonomian menjadi lesu.

Istilah resesi ini semakin populer setelah Badan Pusat Statistik (BPS) pada awal Agustus lalu, mengumumkan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II/2020 mengalami kontraksi hingga minus 5,32 persen atau periode April-Juni 2020. Bisa dikatakan masa suram yang akan menghantam kondisi perekonomian negeri ini bahkan tingkat dunia. Bagaimana tidak, sejak pandemi virus corona menyebar luas di seluruh dunia sejak awal tahun 2020 ini berbagai negara mulai menerapkan pembatasan aktivitas masyarakat pada masing-masing negara agar penyebaran virus corona tidak menelan banyak korban lagi, salah satunya dengan menerapkan kebijakan lockdown dan pembatasan sosial secara ketat.

Kebijakan-kebijakan yang dilakukan berbagai negara memberikan efek yang lumayan besar pada kegiatan ekonomi di suatu negara. Kegiatan perdagangan ekspor, impor dan lainnya lumayan terhambat karena kebijakan tersebut. Meskipun demikian, angka kasus positif masih terbilang banyak dan masih menunjukkan trend meningkat. Total akumulasi kasus positif Covid-19 di dunia telah menembus angka 21 juta per hari. Negara penyumbang terbesar adalah Amerika Serikat dengan hampir 5,3 juta kasus.

Lumpuhnya aktivitas ekonomi akibat pandemi bukan hal mustahil bila akan terjadi resesi. Selain pandemi Covid-19 belum menunjukkan tanda usai, banyak yang memprediksi ekonomi masa depan akan suram,bahkan dari beberapa negara di dunia telah masuk ke jurang resesi. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) pernah mengatakan kalau tahun ini hampir seluruh negara akan masuk dalam jurang reses. Ia merincikan dari ramalan tiga lembaga keuangan dunia yaitu IMF, OECD, dan World Bank. Kesemuanya mengeluarkan data pertumbuhan ekonomi global yang negatif. Ekonomi Indonesia dari Dana Moenter Internasional (IMF) dan World Bank memprediksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan berada di angka -0,3 % di tahun 2020, padahal April lalu, IMF masih optimis memandang ekonomi RI masih dapat tumbuh 1,5 %

Jurang Resesi, Siapa Dalangnya?

Jika tren minus di negeri ini masih terus berlangsung hingga kuartal III tahun 2020, maka dapat dipastikan Indonesia bisa masuk ke jurang resesi ekonomi. Sementara itu, sebanyak sembilan negara telah mengalami resesi akibat pandemi virus corona. Negara-negara itu adalah Amerika serikat (AS), Jerman, Perancis, Italia, Korea Selatan, Jepang, Hongkong, Singapura dan Filipina. Secara dua kali berturut-turut atau lebih, pertumbuhan ekonomi di kesembilan negara tersebut mencatatkan minus.

Apabila ditelusuri pada dua dekade silam, Indonesia ternyata pernah mengalami resesi ekonomi yaitu pada tahun 1998. Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada saat itu minus selama enam bulan di tahun 1997 dan berikutnya masih minus di sembilan bulan pertama tahun 1998. Bahkan tercatat sebagai yang terparah di Asia Tenggara. Resesi ekonomi yang kemudian berlanjut menjadi krisis sosial dan kemudian menjurus ke krisis politik yang berimbas pada digulingkannya kekuasaan Presiden Soeharto.

Pemerintah saat itu sampai harus meminta bantuan Dana Moneter Internasional (IMF) pada Oktober 1997, meski bantuan lembaga keuangan global itu tak banyak membantu Indonesia. Sejumlah syarat yang dilayangkan oleh IMF sebagaimana tertuang dalam Letter of Intent yang harus merelakan beberapa aset penting yang dimiliki oleh negeri ini. Kondisi ini makin memperparah ekonomi saat utang luar negeri membengkak, banyak perusahaan yang bangkrut, gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) meningkat, naiknya harga-harga dengan cepat, kemiskinan juga makin meningkat.

Berdasarkan fakta diatas yang menjadi penyebab resesi ekonomi bukanlah hanya sebab pandemi, melainkan masih diterapkannya ideologi kapitalisme di negeri ini bahkan masih mendominasi negara-negara dunia saat ini. Penerapan ideologi kapitalisme telah menciptakan jurang kesenjangan global diantara negara maju dan negara berkembang dengan prinsip pasar bebas. Indonesia sebagai pemain besar dalam pertumbuhan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik karena memiliki pasar domestik yang besar. Potensi besar dari konsumsi negeri ini semakin membuat negara-negara dan lembaga kapitalis tergiur untuk menjual produk-produknya ke negeri ini.

Orientasi kesejahteraan yang hanya berbasis pada pertumbuhan ekonomi yang menyebabkan pemerataan, keadilan dan kemanusiaan terabaikan. Terlebih lagi model keuangan yang berbasis ribawi yang menyebabkan kekayaan hanya terkonsentrasi pada kalangan elit saja.Rupiah yang terus melemah, sebagaimana mata uang kertas lainnya. Nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh faktor permintaan dan penawaran. Dimana yang menjadi penyebab utama pelemahan rupiah adalah semakin tingginya ketergantungan negeri ini pada impor barang dan jasa seperti bahan pangan, bahan baku industri, dan alat-alat berat lainnya; masih tingginya investasi asing dan besarnya utang luar negeri pemerintah; mata uang rupiah termasuk dolar adalah mata uang kertas yang tidak dijamin oleh komoditas yang bernilai hingga seringnya terjadi inflasi dan menjadikan nilai mata uang kertas tidak stabil.

Sistem Ekonomi Islam Jadi Solusi

Islam sebagai agama paripurna memiliki solusi menghadapi krisis. Islam hadir memberikan perhatian penuh bagaimana sistem regulasi ekonomi dalam orientasi pemerataan dan keadilan. Karena yang menjadi salah satu kekuatan ekonominya justru lahir dari aturan Islam itu sendiri. Dalam QS. Al-Hasyr: 7 yang artinya: “Supaya harta itu jangan hanya beredar diantara orang kaya saja diantara kamu.”

Diantara aturan pemerataan itu adalah zakat, shadaqah, larangan menyewakan lahan pertanian, kebolehan memiliki tanah kosong, larangan menimbun uang, penarikan pajak hanya terhadap orang kaya dan hanya saat mendesak saja, standar emas dan perak yang mampu menjamin stabilitas moneter dan memiliki keunggulan sangat prima yaitu berapapun kuantitasnya dalam satu negara, banyak atau sedikit, akan mencukupi kebutuhan pasar dalam pertukaran mata uang, standar emas dan perak akan mengurangi masalah perdagangan internasional akibat ketidakstabilan kurs mata uang dan masih banyak lagi keunggulan-keunggulan lainnya.

Disaat pandemi seperti ini kebijakan-kebijakan yang hadir malah serba prematur. Ketakutan-ketakutan akan terjadi resesi pada kuartal III nantinya sebagaimana krisis moneter dua puluh tahun lalu selalu menghantui masyarakat. Di zaman awal peradaban Islam, betapa sangat mudah pemerintah memantau daerah-daerah yang masih terbelakang dan begitu cepat mengatasinya. Semua itu karena adanya dana di kas Baitul mal, yang menerima zakat, infaq, dan sedekah senantiasa terisi. Hal ini hanya bisa diwujudkan melalui penerapan sistem Islam secara total dalam bingkai institusi kekuasaan yang islami yaitu Khilafah Rasyidah berdasarkan metode kenabian. Wallahu a’lam bisshowab. (*)

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Terbaru Lainnya

To Top